Langsung ke konten utama

Seismograf Kekuasaan: Bahasa, Kecemasan, dan Teknologi Politik Presidensial Indonesia

Bahasa politik bukan dekorasi. Ia alat kerja. Pidato presiden bukan sekadar pertunjukan kata. Di dalamnya ada pekerjaan politik: memilih masalah, merangkai kecemasan, membentuk posisi, lalu membuat tindakan tertentu tampak perlu.
Karena itu, pidato dapat dibaca sebagai seismograf kekuasaan. Bukan alat pasif yang hanya merekam getaran sosial. Ia memilih getaran tertentu, memberinya nama, lalu menghubungkannya dengan aktor, kepentingan, dan kemungkinan tindakan.




Sukarno dan Prabowo berbicara dalam zaman berbeda. Sukarno berpidato di PBB pada 30 September 1960, dalam suasana dekolonisasi dan Perang Dingin. Prabowo berpidato saat pelantikan, 20 Oktober 2024, dalam demokrasi elektoral dan ekonomi global. Arsip ANRI mencatat pidato Sukarno To Build the World Anew sebagai artikulasi antikolonialisme, antiimperialisme, solidaritas, keadilan sosial, dan tatanan dunia. [1]
Yang dibandingkan bukan siapa lebih visioner. Yang dibaca adalah bagaimana kecemasan diubah menjadi makna.
Pada Sukarno, rantai artikulasinya dapat dibaca:
Kolonialisme → ketidakadilan → kemerdekaan → kesetaraan → dunia baru.
Dengan Laclau dan Mouffe, unsur-unsur berbeda itu dapat dilihat sebagai praktik artikulasi. “Kita” meluas kepada bangsa-bangsa yang mengalami kolonialisme. Kecemasan terhadap dunia lama diubah menjadi proyek dunia baru. [2]
Prabowo bekerja dengan medan berbeda. Dalam pidato pelantikannya, ia berbicara tentang kekayaan Indonesia, “kebocoran”, penyelewengan, korupsi, penyimpangan anggaran, serta kolusi pejabat dengan pengusaha. Semua itu dikaitkan dengan rakyat yang belum menikmati hasil kekayaan negara. [3]
Di sini kata “kebocoran” menarik.
Metafora itu membuat persoalan ekonomi terasa material. Kekayaan negara seperti cairan. Ada yang merembes keluar. Ada celah. Celah itu harus ditutup.
Rantai artikulasinya dapat dibaca:
Kekayaan nasional → kebocoran → kerugian rakyat → kebutuhan bertindak.
“Kebocoran” dapat disebut kandidat nodal point: titik yang mengikat korupsi, penyelewengan, kolusi, dan hilangnya kekayaan negara dalam satu medan makna. Untuk memastikan statusnya sebagai nodal point, tentu diperlukan korpus pidato yang lebih luas. [2]
Stuart Hall membantu melihat sisi lain. Pidato adalah encoding. Realitas sosial dipilih, disusun, dan diberi kode. Tetapi encoding tidak menentukan decoding. Makna tidak selesai ketika presiden berhenti berbicara.
Pesan dapat diterima, dinegosiasikan, atau ditolak. Karena itu, posisi dominan, negosiasional, atau oposisional harus dibuktikan melalui data resepsi, bukan ditebak dari jenis media atau kelompoknya. [4]
Fairclough mengingatkan bahwa bahasa bukan hanya menggambarkan dunia. Bahasa juga melakukan sesuatu terhadap dunia. “Kebocoran” memberi nama pada masalah. “Pejabat” dan “pengusaha nakal” memberi kategori kepada pelaku. Kata “harus” mengubah deskripsi menjadi kewajiban. [5]
Pidato tidak hanya mengatakan apa yang terjadi. Ia ikut menentukan apa yang perlu dilakukan.
Foucault membawa kita lebih jauh. Wacana tidak otomatis menjadi kebijakan. Hubungannya lebih rumit:
wacana ↔ rasionalitas pemerintahan ↔ aparatus.
Indonesia telah memiliki berbagai perangkat yang membuat kekayaan, produksi, perdagangan, dan penerimaan negara semakin dapat dilihat, dihitung, dan diawasi. SIMBARA, audit BPK, serta teknologi pengawasan kepabeanan berada dalam medan ini.
Bukan berarti pidato Prabowo melahirkan aparatus tersebut. Hubungannya bukan sebab-akibat. Yang terlihat adalah resonansi. Metafora “kebocoran” membuat kekayaan negara dapat dibayangkan sebagai sesuatu yang harus dilacak dan diamankan. Aparatus administratif membuatnya semakin mungkin dihitung, diperiksa, dan diintervensi. [6]
Sukarno:
kolonialisme → ketidakadilan → dunia baru.
Prabowo:
kekayaan → kebocoran → pengamanan negara.
Dua zaman. Dua artikulasi.
Tetapi ada satu hal yang sama: kecemasan sosial tidak masuk ke politik dalam bentuk netral. Ia harus diberi nama. Dirangkai. Ditempatkan dalam relasi tertentu.
Pidato adalah teknologi politik.
Kata-kata tidak mengubah dunia secara langsung. Tetapi kata-kata menentukan apa yang tampak sebagai masalah, siapa yang masuk dalam “kita”, siapa yang ditempatkan di luar, dan tindakan apa yang kemudian tampak masuk akal.
Seismograf kekuasaan tidak sekadar merekam getaran.
Ia membuat getaran tertentu terbaca.
Setelah itu, maknanya menjadi arena pertarungan.


Rujukan
[1] Arsip Nasional Republik Indonesia, Pidato Sukarno: “To Build the World Anew”, 30 September 1960. Arsip ANRI
[2] Ernesto Laclau & Chantal Mouffe, Hegemony and Socialist Strategy: Towards a Radical Democratic Politics. Verso, 1985. Bibliografi buku
[3] Prabowo Subianto, Pidato Presiden pada Sidang Paripurna MPR RI dalam rangka Pelantikan Presiden dan Wakil Presiden RI Terpilih Periode 2024–2029, 20 Oktober 2024. Teks pidato resmi Setneg
[4] Stuart Hall, “Encoding/Decoding”, dalam Culture, Media, Language, 1980, hlm. 128–138. Referensi Hall
[5] Norman Fairclough, Discourse and Social Change. Polity Press, 1992. Bibliografi Fairclough
[6] Michel Foucault, Security, Territory, Population: Lectures at the Collège de France, 1977–1978. Palgrave Macmillan, 2007. Bibliografi Foucault

Foto Sukarno diambil dari Wiki Commons

Postingan populer dari blog ini

Pangan, Kekuasaan, dan Dapur

Keragaman, Politik Ukuran, dan Commoning dari Bawah Pangan tak sekadar gizi. Ia juga rezim kebijakan, memori kolektif, dan artikulasi kekuasaan. Esai ini menelusuri bagaimana beras menjadi ukuran kecukupan nasional, pangan lain dipinggirkan, beban sosial-ekologis dibagi timpang, dan warga merebut ruang hidup. Ini bukan romantisasi pangan lokal, melainkan pembacaan atas wacana dan institusi yang menaturalisasi tatanan hegemonik. Kekuasaan yang Membuat Sesuatu Tampak Wajar Kekuasaan tak selalu bekerja melalui paksaan terbuka. Ia membentuk apa yang dianggap wajar ( commonsense ): pangan pokok, makan layak, dan kemajuan. Gramsci membantu menjelaskan bagaimana kewajaran menjadi bagian dari hegemoni melalui persetujuan sosial (Selections from the Prison Notebooks, 1971). Sementara F oucault menambahkan bahwa pengetahuan, institusi, dan praktik sehari-hari turut membentuk perilaku (Ethics: Subjectivity and Truth, 1997).  Namun, warga juga menafsirkan ulang dan melawan dalam kese...

Ijazah Palsu, Pasar Gelap, dan Istana: Siapa yang Memproduksi Legitimasi?

Pembuka: Ketika Tanda Mengalami Devaluasi ​Ada persimpangan yang menarik untuk dibaca dalam dinamika politik terkini. Di satu spektrum, kasus pemalsuan dokumen dan ijazah diperjualbelikan secara terbuka—dalam pengungkapan oleh kepolisian, ijazah palsu bahkan ditawarkan sekitar Rp600.000. Di spektrum lain, publik terus disuguhi polemik atas keabsahan dokumen pendidikan pejabat publik. Sementara pada medan yang berbeda, seorang figur kritis yang lama memproduksi klaim kepakaran digital-forensik atas keaslian dokumen politik, akhirnya mengoreksi hasil kajiannya, meminta maaf, dan bertemu langsung dengan pimpinan negara di Istana Wakil Presiden. ​Ketiga peristiwa ini tidak perlu diikat secara paksa dalam satu hubungan sebab-akibat yang linear. Namun, ketiganya dapat dibaca sebagai tiga skala analisis—mikro, meso, dan makro—terhadap satu pertanyaan yang mendasar: bagaimana legitimasi diproduksi, disahkan, dan dikonversi menjadi akses terhadap kekuasaan? ​ Skala Mikro: Ijazah Palsu dan Pe...

Menjerat Genom: Biopiracy, DSI, dan Politik Kebudayaan Pengetahuan Lokal

Glokalisasi kerap dirayakan sebagai panggung hibriditas yang ramah—ruang tempat lokalitas dan tren dunia saling menyapa. Kita melihatnya di etalase toko: racikan herbal tradisional hadir dalam kemasan kosmetik minimalis berlabel "kembali ke alam". Namun di balik narasi elok itu, ada kontestasi kekuasaan yang tidak pernah setara. Asimetri ini bukan anomali, melainkan kondisi struktural yang dilembagakan melalui rezim HKI global di bawah TRIPS/WTO. Pertemuan antara keanekaragaman hayati Selatan Global dan industri multinasional Utara Global jarang berakhir sebagai dialog seimbang. Lebih sering, ia menjelma menjadi biopiracy: pengetahuan komunal dan sumber daya genetik diambil, dipagari, dan dialihkan menjadi komoditas privat. Kasus Shiseido pada pertengahan 1990-an adalah cermin historis yang jernih. Pada 24 Januari 2002, setelah protes publik yang digalang LSM Indonesia, Shiseido membatalkan seluruh permohonan patennya atas ekstrak jamu untuk produk "UV White". Dala...

Coto Sudah Global Sebelum Ia Merantau

Apa yang membuat coto disebut coto Makassar? Jawabannya tampak sederhana: karena ia berasal dari Makassar. Tetapi jika kita mengikuti perjalanan bahan, pengetahuan, manusia, dan makanan itu sendiri, jawabannya menjadi lebih rumit. Coto tidak hanya mempunyai tempat. Ia mempunyai perjalanan. Kacang tanah yang digunakan dalam kuahnya bukanlah tanaman asli Nusantara. Ia berasal dari Amerika Selatan dan kemudian menyebar melalui jaringan pertukaran lintas wilayah. Tauco membawa jejak perjumpaan dengan tradisi kuliner Tionghoa. Kerbau pun telah hadir dalam jaringan ekonomi Makassar sejak masa perdagangan awal. Anthony Reid mencatat bahwa pada 1609 orang Belanda di Makassar dapat membeli puluhan kerbau dari seorang pemilik. Catatan itu tentu tidak membuktikan bahwa coto sudah ada pada masa tersebut. Ia hanya memperlihatkan bahwa bahan dan komoditas yang kemudian berada dalam sejarah kuliner Makassar telah bergerak dalam jaringan yang lebih luas. Di sinilah kata “global” dalam judul ini perlu...

Ikan Sapu-Sapu di Sungai Kekuasaan: Mengaca pada The Fixers

Sebuah serial televisi tidak selalu hadir hanya untuk bercerita. Kadang-kadang, ia datang untuk memberi kita sepasang kacamata baru. The Fixers, drama kriminal Taiwan yang tayang di Netflix, menarik perhatian bukan hanya karena jalinan aksi dan intriknya yang menegangkan. Serial ini membuka ruang gelap di antara hukum dan pelanggaran, sebuah wilayah abu-abu yang menjembatani institusi formal dan dunia bawah. Di ruang sunyi itulah hidup para fixer—orang-orang yang disewa untuk membereskan persoalan yang tidak bisa, tidak mau, atau tidak boleh diselesaikan melalui jalur resmi. Judul Mandarin serial ini memberikan petunjuk metaforis yang krusial: Hēi Bái Qīng Dào Fū (黑白清道夫). Secara harfiah, qīngdàofū berarti petugas pembersih. Namun dalam bahasa sehari-hari, nama itu juga digunakan untuk menyebut ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis). Di Indonesia, ikan introduksi dari Amerika Selatan ini dikenal sebagai spesies invasif yang memiliki daya tahan luar biasa di lingkungan tercemar. P...