Skip to main content

Tertawa yang Menggugat

Ketika Nama Presiden dan Wakil Presiden Menjadi Kode Meme

Meme (dibaca "mim") bukan sekadar gambar lucu yang beredar di internet. Dalam pengertian Limor Shifman, meme digital merupakan kelompok konten yang memiliki kesamaan bentuk, gagasan, atau pola, lalu dibuat, ditiru, dimodifikasi, dan diedarkan oleh banyak pengguna. Karena itu, sebuah meme tidak berhenti pada satu gambar atau satu unggahan. Ia hidup melalui pengulangan dan perubahan. Ketika pengguna mengambil sebuah gambar, kalimat, nama, atau format tertentu lalu memberinya konteks baru, mereka sekaligus ikut memproduksi makna. Meme dengan demikian merupakan praktik kebudayaan: ruang tempat tanda beredar, berubah, dan diperebutkan.

Dalam budaya meme, nama politik pun dapat mengalami perpindahan fungsi. Nama yang semula menunjuk seseorang dapat menjadi pintu masuk menuju penilaian tertentu. Ia membawa jabatan, kekuasaan, sejarah, dan institusi yang melekat pada figur tersebut, tetapi dalam praktik meme semua itu dapat dipadatkan menjadi sebuah tanda yang lebih ringkas. Ketika sebuah asosiasi terus diulang dan dikenali oleh komunitas tertentu, nama mulai membawa makna yang lebih besar daripada orang yang dirujuknya.

Perubahan fungsi tersebut dapat dilihat melalui perbandingan sejumlah meme politik pada 2025 dan 2026. Perbandingan ini bukan untuk mengatakan bahwa pada 2025 nama politik belum pernah menjadi bahan permainan bahasa. Permainan kata dan satire sudah lama menjadi bagian dari humor politik. Yang menarik adalah perubahan fungsi yang tampak pada sejumlah meme 2026: nama figur mulai digunakan bukan hanya untuk membicarakan figur, tetapi sebagai bagian dari percakapan untuk membawa arti tertentu.

Pada 2025, misalnya, meme tentang Gibran banyak bekerja dengan menjadikan figur sebagai objek representasi. Isu Esemka, Mahkamah Konstitusi, hubungan keluarga, hingga kritik terhadap dinasti politik menjadi bahan yang dilekatkan pada sosok Gibran. Meme “Pamanku Pahlawanku” menghubungkan Gibran dengan Anwar Usman dan persoalan kekuasaan keluarga. Dalam kasus lain, momen Gibran yang terekam tidak menyalami AHY segera diubah menjadi bahan meme. Polanya relatif jelas: ada figur, ada peristiwa atau isu, lalu muncul representasi satiris terhadap figur tersebut. Penelitian mengenai meme Gibran di X pada 2025 juga membaca meme sebagai bentuk komunikasi politik yang bergerak dari dukungan hingga kritik.

Pada sejumlah meme 2026, mekanismenya tampak berbeda. OWRITE melaporkan fenomena “kamus” di Threads yang memberi arti baru pada sejumlah nama tokoh: “Gibran” digunakan untuk berarti “kosong”, sedangkan “Prabowo” berarti “asbun”. Bahkan terdapat contoh penggunaan “Gibran” dalam kalimat percakapan untuk menggantikan kata “kosong”. Laporan mengenai fenomena yang sama menunjukkan bahwa permainan tersebut tidak berhenti pada satu nama, tetapi berkembang menjadi daftar nama tokoh yang diberi arti tertentu.

Perbedaannya sederhana tetapi penting. Pada 2025, nama menunjuk figur, figur direpresentasikan, lalu muncul satire. Pada sejumlah meme 2026, nama itu sendiri mulai membawa makna dan digunakan sebagai kode. “Prabowo” atau “Gibran” tidak harus dijelaskan lagi kepada anggota komunitas yang memahami permainan tersebut. Nama politik mulai memperoleh fungsi kebahasaan dalam budaya meme.

Ini bukan berarti “Gibran” secara resmi berarti “kosong” atau “Prabowo” secara linguistik berarti “asbun”. Fenomena tersebut lebih tepat dipahami sebagai kode budaya yang hidup di komunitas digital tertentu. Ia bukan bahasa baru yang digunakan seluruh masyarakat. Justru keterbatasan itulah yang membuatnya menarik secara kebudayaan: sebuah nama politik dapat memperoleh arti baru ketika komunitas tertentu menggunakannya secara berulang dan mengenali asosiasi yang sama.

Stuart Hall membantu membaca perubahan ini sebagai persoalan representasi dan reartikulasi. Makna sebuah tanda tidak melekat secara alamiah pada benda atau nama yang dirujuknya. Makna dibentuk melalui hubungan dengan tanda lain dan melalui praktik budaya. Karena itu, ketika nama presiden atau wakil presiden dikaitkan berulang kali dengan penilaian tertentu, yang berubah bukan identitas literal orangnya, melainkan hubungan sosial tempat tanda tersebut digunakan. Nama politik direartikulasi ke dalam rantai makna baru.

Kerangka Shifman kemudian membantu menjelaskan bagaimana kode itu memperoleh daya. Meme bekerja melalui pengulangan, imitasi, perubahan, dan partisipasi pengguna. Sebuah kode menjadi bermakna ketika orang lain dapat mengenalinya, menggunakannya kembali, mengubah konteksnya, lalu menyebarkannya. Nama yang semula merupakan penanda politik dapat memperoleh kehidupan baru karena direplikasi dalam berbagai bentuk. Dalam proses itu, pengguna tidak hanya menyebarkan isi meme, tetapi ikut memproduksi dan mengubah maknanya.


Proses tersebut berlangsung dalam ekosistem platform. Threads, Instagram, X, dan TikTok menyediakan fitur yang memungkinkan teks, gambar, video, komentar, repost, dan bentuk remix saling bertaut. Platform karena itu bukan sekadar tempat menaruh meme. Ia menjadi kondisi material bagi sirkulasi tanda. Namun kondisi itu tidak netral. Algoritma, fitur, aturan moderasi, dan ekonomi perhatian ikut menentukan apa yang lebih mudah terlihat dan berulang. Kemampuan sebuah nama untuk menjadi kode karena itu tidak hanya bergantung pada kreativitas pengguna, tetapi juga pada infrastruktur digital tempat kode tersebut beredar.

Di sinilah tawa perlu dibaca secara hati-hati. Meme dapat menjadi kritik, tetapi tidak setiap tawa adalah perlawanan. Ia dapat menjadi hiburan, sinisme, kelelahan politik, atau sekadar permainan internal sebuah komunitas. Kemarahan bahkan dapat berubah menjadi tontonan yang justru menetralkan daya kritiknya. Sebuah kode yang awalnya menggugat dapat kehilangan daya politik ketika hanya menjadi lelucon yang diulang tanpa lagi mengingat persoalan yang melahirkannya.

Relasi kuasa juga tidak sesederhana kekuasaan berada di satu sisi dan pengguna di sisi lain. Negara, politisi, influencer, buzzer, komunitas digital, dan platform memiliki sumber daya yang berbeda dalam menentukan apa yang terlihat dan apa yang dapat dikatakan. Pengguna dapat mereartikulasi nama politik, tetapi artikulasi itu berlangsung dalam medan yang memiliki algoritma, aturan platform, serta risiko sosial dan hukum. Tanda memang dapat berpindah tangan, tetapi tidak pernah berpindah di ruang yang sepenuhnya bebas dari kekuasaan.

Karena itu, yang menarik dari meme politik 2026 bukan terutama apakah jumlah penontonnya lebih besar daripada 2025. Pertanyaan yang lebih penting adalah apa yang dilakukan orang terhadap nama politik ketika nama tersebut masuk ke dalam percakapan sehari-hari. Dalam sejumlah kasus yang terdokumentasi, nama dapat berfungsi bukan hanya sebagai nama seorang pejabat, tetapi sebagai kode yang membawa penilaian sosial dan politik. Perubahan ini belum menjadikan nama-nama tersebut sebagai bahasa baru. Namun, ia menunjukkan kemungkinan perubahan fungsi tanda: dari menunjuk figur menuju membawa makna.

Meme akhirnya menjadi ruang tempat tanda berpindah tangan. Kekuasaan memberi nama melalui institusi, jabatan, dan bahasa resmi. Pengguna dapat mengambil nama itu, menggesernya, memadatkannya, lalu memberinya arti lain. Hasilnya tidak selalu berupa pembebasan. Ia bisa menjadi kritik, permainan, sinisme, atau sekadar tontonan. Tetapi dalam proses itu, makna politik tidak lagi sepenuhnya berada di tangan pemilik jabatan atau institusi yang diwakilinya.

Yang dipertarungkan dalam meme politik bukan hanya siapa yang ditertawakan. Yang lebih penting adalah siapa yang berhak menentukan arti sebuah nama. Di situlah tawa dapat menjadi gugatan—bukan karena setiap tawa pasti melawan kekuasaan, tetapi karena sebuah nama dapat kehilangan kendali atas makna resminya ketika tanda itu mulai digunakan, diulang, dan ditafsirkan oleh banyak orang.


Catatan : gambar di atas adalah, lustrasi berbasis kecerdasan buatan (AI) yang merepresentasikan figur politik di dalam ekosistem digital dan materialitas platform siber, menggambarkan bagaimana tanda dan kode budaya diproduksi melalui infrastruktur jaringan.

Popular posts from this blog

Nasionalisme, Konsumen

APA yang membuat seorang konsumen menjatuhkan pilihan untuk membeli suatu barang. Jawabannya mudah ditebak. Beberapa diantaranya, harga dapat dijangkau, ketersediaan barang, kebaruan.  Pekan akhir September lalu, sekaitan dengan preferensi konsumen, saya terlibat dalam sebuah diskusi. Saya rasa diskusi tersebut seperti mengajak kita kembali pada sebuah masa, 41 tahun silam. Sewaktu sekelompok ibu rumah tangga, di Jakarta, bersuara atas nama kecintaan pada produk dalam negeri. Para ibu ini, pada tahun itu pula, kemudian menginisiasi kekuatan, mendirikan sebuah organisasi konsumen yang pertama di negeri ini. Peristiwa yang sungguh menarik hati, mengingat rezim kala itu sibuk menjinakan atau memberangus peran progresif perempuan. Barangkali suasana diskusi waktu itu, saya tiba-tiba larut memperhatikan konteks waktu saat itu, tahun 1973. Satu tahun sebelum sebuah kerusuhan meledak. Sentimen negatif merebak dimana-mana terhadap kapitalis internasional. Asap hitam membumbung di langit ...

Politik Antrean: Ketika BBM Mengatur Waktu dan Tubuh Kota

Antrean BBM di SPBU di Makassar, bukan peristiwa satu-dua hari. Jejak waktunya cukup jelas. Sejak awal Agustus, kendaraan sudah mengantre solar, awal September mengantre pertalite dan pertamax. Kendaraan mengular di setiap SPBU. Antrean itu memanjang hingga ratusan meter dan mengganggu arus lalu lintas. Tapi, ada sesuatu yang ganjil dalam pemandangan itu. Seorang kawan menulis begini. B elum pernah terjadi yang seperti ini. Jadi antrean panjang ini sungguh membuat saya tersengal-sengal. Di benak terutama. Saya berusaha memahami, merencanakan perjalanan dengan pertimbangan yang baru.  Ini mempengaruhi hal-hal yang sangat mendasar dalam rumah kami. Jika pakai perasaan, maka rasa ini namanya kelu. Seperti punya pasangan hidup, yang menjual teman seperjanjiannya  ke orang asing. Harga BBM yang dibayar di SPBU bukan hanya uang yang keluar dari dompet. Ada harga lain yang jarang terlihat. Waktu yang hilang. Antrean membuat waktu produktif berubah menjadi waktu tunggu. Dalam situasi ...

Dialektika Tubuh, Algoritma, dan Ruang Jalanan

Makassar tidak berhenti minum kopi. Yang berubah adalah cara kopi hadir di dalam kota. Rumah kopi pernah menjadi tempat untuk tinggal berlama-lama. Meja marmer, kursi, percakapan panjang, dan waktu yang tidak selalu harus produktif. Kemudian muncul coffee shop modern dengan sofa, Wi-Fi, meja kerja, dan colokan listrik. Kini, kedai kopi semakin banyak hadir dalam bentuk booth, kontainer, atau gerai takeaway: pesan, bayar, ambil, lalu pergi. Perubahan ini bukan sekadar evolusi bisnis kopi. Ia memperlihatkan perubahan hubungan antara tubuh, waktu, benda, dan ruang. Ruang yang Mengondisikan Tubuh Setiap ruang mengorganisasikan kemungkinan yang berbeda. Rumah kopi memberi tubuh alasan untuk menetap. Coffee shop modern memungkinkan tubuh tinggal sambil bekerja dan tetap terhubung dengan jaringan digital. Kedai takeaway, sebaliknya, mengondisikan tubuh untuk bergerak. Ruang dipadatkan, kursi dikurangi, transaksi dipercepat. Namun ruang tidak pernah sepenuhnya menentukan apa yang dilakukan man...

Postkolonialisme Fesyen

Agustus, 1945. Kemerdekaan Indonesia diproklamasikan. Namun, dekolonisasi berhenti di depan pintu kamar kita. Lebih tepat lagi, di lemari pakaian. Ini bukan kalimat hiperbola. Ini realitas material. Data Textile Exchange (2025) mencatat 69% serat tekstil global adalah sintetis. Mayoritas adalah poliester. Plastik dari minyak bumi. Sekitar 88% di antaranya adalah virgin polyester. Ia diperas langsung dari fosil. Siapa penguasanya? ExxonMobil, SABIC, Sinopec. Raksasa yang sama. Gurita yang berabad-abad mengeruk kekayaan di belahan bumi Selatan (Global Selatan) Kolonialisme tidak mati. Ia hanya berganti wujud. Inilah postcolonialism fashion. Sebuah kajian budaya (Cultural Studies) tentang kelanjutan logika kolonial. Eksploitasi, ekstraksi, dan pembuangan. Sistem ini bekerja tanpa moncong senjata atau kuasa gubernur jenderal kolonial. Ia mendikte melalui label harga dan rantai pasok global.  Dibilang Edward Said dalam Orientalism (1978), Barat mengonstruksi "Timur" sebagai ruang ...

Makassar yang Terlihat, Makassar yang Tidak Terlihat

Kota tidak pernah hanya apa yang tampak. Makassar dapat dilihat dari jalan. Tetapi ia juga dirasakan oleh tubuh. Panas aspal. Bau makanan. Debu. Suara kendaraan. Berat gerobak. Sempitnya trotoar. Tegangan ketika aparat datang. Semua itu adalah kota. Namun ketika kota masuk ke dalam ekosistem digital, pengalaman tersebut mengalami perubahan. I a dipotret. Direkam. Diberi keterangan. Diunggah. Dikomentari. Dikategorikan. Kemudian beredar melalui media dan platform.  Kota yang dialami berubah menjadi kota yang terlihat. Pertanyaannya kemudian sederhana: M akassar yang mana yang terlihat? Pertanyaan ini menjadi penting karena melihat bukan tindakan yang netral. Apa yang terlihat selalu melalui suatu posisi. Melalui kamera. Melalui kategori. Melalui institusi. Melalui media. Melalui algoritma. James C. Scott menunjukkan bagaimana negara modern berusaha membuat masyarakat dan ruang menjadi legible —terbaca melalui kategori, ukuran, peta, sensus, dan berbagai bentuk penyederhanaan admi...