Agustus 1945. Kemerdekaan Indonesia diproklamasikan. Namun, dekolonisasi mungkin belum selesai di depan pintu kamar kita. Lebih tepat lagi, di lemari pakaian.
Ini bukan sekadar hiperbola. Pakaian adalah benda material. Ia punya sejarah produksi, tenaga kerja, bahan baku, energi, perdagangan, dan limbah.
Ini bukan sekadar hiperbola. Pakaian adalah benda material. Ia punya sejarah produksi, tenaga kerja, bahan baku, energi, perdagangan, dan limbah.
Data Textile Exchange 2025 menunjukkan polyester menyumbang sekitar 59 persen produksi serat global. Sekitar 88 persen polyester itu masih berbasis fosil. Sebagian besar pakaian sintetis yang kita kenakan, dengan demikian, masih terhubung dengan minyak dan gas.
Di titik ini, fashion bertemu industri petrokimia.
Laporan Changing Markets Foundation menunjukkan bagaimana industri bahan bakar fosil memiliki kepentingan dalam mempertahankan pertumbuhan plastik, termasuk serat sintetis untuk industri pakaian. Ketika permintaan bahan bakar fosil menghadapi perubahan, petrokimia menjadi salah satu ruang ekspansi baru.
Pertanyaannya kemudian bukan hanya: siapa yang membuat pakaian kita?
Tetapi juga: siapa yang menguasai bahan bakunya, siapa yang menguasai rantai pasoknya, siapa yang menikmati nilai tambah terbesar, dan siapa yang menanggung ongkos sosial serta ekologisnya?
Di sinilah kajian postcolonial fashion menjadi penting. Bukan untuk mengatakan bahwa setiap pakaian adalah kolonialisme. Melainkan untuk membaca bagaimana logika kolonial dapat bertahan dalam bentuk baru: melalui ekstraksi bahan baku, pembagian kerja global, produksi murah, konsumsi massal, dan pemindahan limbah.
Edward Said, dalam Orientalism (1978), menunjukkan bagaimana “Timur” dikonstruksi melalui pengetahuan dan representasi yang tidak terpisah dari relasi kekuasaan. Kolonialisme bukan hanya penguasaan wilayah. Ia juga penguasaan cara melihat dan memberi nama.
Hari ini, relasi semacam itu tidak membutuhkan gubernur jenderal.
Ia dapat bekerja melalui rantai pasok.
Pada 2023, misalnya, pekerja garmen Bangladesh berhadapan dengan perdebatan keras mengenai upah minimum. Dalam proses tersebut, pihak pengusaha mengajukan angka sekitar US$95 per bulan, sementara serikat pekerja menuntut angka yang lebih tinggi. Berbagai perhitungan living wage juga menunjukkan adanya kesenjangan antara upah minimum dan kebutuhan hidup layak.
Pakaian yang murah bagi konsumen tidak selalu murah bagi orang yang membuatnya.
Di sinilah fashion memperlihatkan geografi ketimpangan. Merek, modal, desain, dan pasar terkonsentrasi dalam jaringan ekonomi global. Sementara produksi padat karya berlangsung di berbagai negara dengan ongkos tenaga kerja yang lebih rendah.
Achille Mbembe memperkenalkan konsep necropolitics untuk membaca kuasa yang menentukan kondisi kehidupan dan kematian. Konsep ini tidak boleh ditempelkan begitu saja pada industri fashion. Namun, ia membuka pertanyaan tentang bagaimana sistem ekonomi menentukan tubuh mana yang bekerja dalam kondisi rentan, tubuh mana yang menikmati barang murah, dan masyarakat mana yang kemudian menanggung limbahnya.
Pertanyaan itu membawa kita kembali kepada material.
Polyester bukan sekadar kain. Ia adalah serat sintetis yang sebagian besar berasal dari bahan baku fosil. Ketika pakaian diproduksi, digunakan, dicuci, lalu dibuang, persoalan material itu tidak berhenti pada tubuh pemakainya.
UNEP memperkirakan dunia menghasilkan sekitar 92 juta ton limbah tekstil setiap tahun.
Sebagian pakaian bekas kemudian bergerak melintasi batas negara menuju pasar Global Selatan.
Di Ghana, penelitian Greenpeace menemukan tingginya proporsi pakaian impor bekas yang terbuat dari serat sintetis. Sebagian pakaian yang masuk ke pasar akhirnya tidak dapat dijual dan menjadi limbah.
Di Kenya, penelitian Changing Markets Foundation menemukan pengiriman dalam jumlah besar pakaian bekas yang rusak atau tidak layak jual, termasuk pakaian berbahan sintetis.
Masyarakat Ghana mengenal istilah obroni wawu untuk pakaian bekas impor. Istilah ini sering diterjemahkan sebagai “pakaian orang kulit putih yang mati”.
Istilah itu menarik bukan karena ia membuktikan sebuah teori. Ia menarik karena menunjukkan bagaimana masyarakat memberi makna terhadap arus benda yang datang dari luar.
Di sini pakaian berubah menjadi teks budaya.
Homi Bhabha, melalui konsep mimicry, menjelaskan bagaimana kolonialisme menghasilkan dorongan untuk meniru bentuk budaya penguasa. Namun, peniruan itu selalu mengandung ambivalensi.
Dalam fashion, merek dan gaya global dapat menjadi penanda modernitas, kelas, dan keterhubungan dengan dunia. Tetapi konsumen tidak selalu menerima makna tersebut secara pasif.
Stuart Hall mengingatkan bahwa makna tidak melekat secara alamiah pada benda. Makna diproduksi, direpresentasikan, dan dinegosiasikan.
Karena itu, seseorang yang mengenakan pakaian bermerek global tidak otomatis sedang “terjajah”. Sebaliknya, seseorang yang memakai pakaian lokal juga tidak otomatis sedang melakukan dekolonisasi.
Di sinilah tubuh menjadi penting.
Di Makassar, pengalaman mengenakan polyester berlangsung pada tubuh yang hidup dalam iklim tropis yang panas dan lembap. Material yang sama dapat menghasilkan pengalaman yang berbeda ketika bertemu dengan iklim, tubuh, dan kebiasaan yang berbeda.
Pakaian global selalu bertemu dengan tubuh yang lokal.
Maka pakaian dapat dibaca sebagai arsip.
Labelnya menyimpan informasi tentang bahan. Jahitannya menyimpan jejak kerja. Harganya menyimpan logika pasar. Tubuh pemakainya menyimpan pengalaman. Dan tempat pembuangannya memperlihatkan siapa yang menanggung sisa konsumsi.
Pertanyaan dekolonial kemudian bukan sekadar: merek apa yang kita pakai?
Pertanyaannya lebih jauh.
Siapa yang membuatnya? Dari mana bahan bakunya? Siapa yang mendapatkan keuntungan terbesar? Bagaimana pekerjanya dibayar? Apa yang terjadi setelah pakaian itu tidak kita inginkan lagi?
Gayatri Spivak, melalui pertanyaan Can the Subaltern Speak?, mengajak kita memikirkan bagaimana suara kelompok yang berada dalam posisi subordinat direpresentasikan dalam wacana dominan.
Dalam industri pakaian, pertanyaan itu dapat diarahkan kepada pekerja pabrik, komunitas sekitar industri, pedagang pakaian bekas, dan masyarakat yang menerima limpahan limbah.
Mereka bukan sekadar latar belakang dari cerita fashion.
Mereka adalah bagian dari cerita itu sendiri.
Dekolonisasi fashion karena itu bukan proyek memilih pakaian tertentu lalu merasa persoalan selesai. Ia adalah upaya membaca kembali hubungan antara material, tubuh, kerja, modal, ruang, dan lingkungan.
Kita bisa memulai dari lemari.
Membaca label.
Menelusuri asal produksi.
Mempertanyakan transparansi merek.
Memperpanjang usia pakaian.
Mengurangi pembelian yang tidak perlu. Dan mendukung produksi lokal dengan tetap kritis terhadap bahan, upah, serta kondisi kerjanya.
Produk lokal tidak otomatis bebas dari eksploitasi. Produk global juga tidak otomatis identik dengan kolonialisme.
Yang perlu dibongkar adalah relasi kuasa yang membuat sebagian orang memperoleh nilai, sementara sebagian lain menanggung biayanya.
Frantz Fanon menulis tentang dekolonisasi sebagai proses perubahan mendasar atas relasi kolonial, bukan sekadar pergantian simbol.
Mungkin karena itu dekolonisasi tidak selalu dimulai dari podium politik.
Ia bisa dimulai dari benda yang kita sentuh setiap pagi.
Dari kain.
Dari tubuh.
Dari lemari pakaian.
Produk lokal tidak otomatis bebas dari eksploitasi. Produk global juga tidak otomatis identik dengan kolonialisme.
Yang perlu dibongkar adalah relasi kuasa yang membuat sebagian orang memperoleh nilai, sementara sebagian lain menanggung biayanya.
Frantz Fanon menulis tentang dekolonisasi sebagai proses perubahan mendasar atas relasi kolonial, bukan sekadar pergantian simbol.
Mungkin karena itu dekolonisasi tidak selalu dimulai dari podium politik.
Ia bisa dimulai dari benda yang kita sentuh setiap pagi.
Dari kain.
Dari tubuh.
Dari lemari pakaian.
Rujukan
Bhabha, Homi K. 1994. The Location of Culture. London: Routledge.
Changing Markets Foundation. 2021. Fossil Fashion: The Hidden Reliance of Fast Fashion on Fossil Fuels. Changing Markets Foundation.
Changing Markets Foundation. 2023. Trashion: The Stealth Export of Waste Plastic Clothes to Kenya. Changing Markets Foundation.
Fanon, Frantz. 1961. The Wretched of the Earth. Paris: Éditions Maspero.
Hall, Stuart. 1997. Representation: Cultural Representations and Signifying Practices. London: Sage.
Mbembe, Achille. 2003. “Necropolitics.” Public Culture, 15(1): 11–40.
Said, Edward W. 1978. Orientalism. New York: Pantheon Books.
Spivak, Gayatri Chakravorty. 1988. “Can the Subaltern Speak?” Dalam Cary Nelson dan Lawrence Grossberg (eds.), Marxism and the Interpretation of Culture. Urbana: University of Illinois Press.
Textile Exchange. 2025. Materials Market Report 2025. Textile Exchange.
United Nations Environment Programme (UNEP). 2025. Towards Zero Waste in Fashion and Textiles. Nairobi: UNEP.
Greenpeace Africa. 2024. Fast Fashion, Slow Poison. Greenpeace Africa.
Human Rights Watch. 2023. “Is Your Brand Paying Its Share to Reduce Bangladesh Workers’ Wage Despair?” Human Rights Watch.