Skip to main content

Postkolonialisme Fesyen

Agustus, 1945. Kemerdekaan Indonesia diproklamasikan. Namun, dekolonisasi berhenti di depan pintu kamar kita. Lebih tepat lagi, di lemari pakaian. Ini bukan kalimat hiperbola. Ini realitas material. Data Textile Exchange (2025) mencatat 69% serat tekstil global adalah sintetis. Mayoritas adalah poliester. Plastik dari minyak bumi. Sekitar 88% di antaranya adalah virgin polyester. Ia diperas langsung dari fosil.


Siapa penguasanya? ExxonMobil, SABIC, Sinopec. Raksasa yang sama. Gurita yang berabad-abad mengeruk kekayaan di belahan bumi Selatan (Global Selatan) Kolonialisme tidak mati. Ia hanya berganti wujud. Inilah postcolonialism fashion. Sebuah kajian budaya (Cultural Studies) tentang kelanjutan logika kolonial. Eksploitasi, ekstraksi, dan pembuangan. Sistem ini bekerja tanpa moncong senjata atau kuasa gubernur jenderal kolonial. Ia mendikte melalui label harga dan rantai pasok global. 

Dibilang Edward Said dalam Orientalism (1978), Barat mengonstruksi "Timur" sebagai ruang eksotis yang sah untuk dijarah. Baik secara geografis maupun imaginatif. Logika itu menetap. Hari ini, ia berganti alamat. Dulu, tanah jajahan adalah perkebunan paksa. Kini, ia bernama pabrik garmen. Data Center for Labor and Social Studies (CELLOS, 2024) mengungkap fakta muram. Upah buruh garmen di Bangladesh rata-rata hanya $95 per bulan. Padahal, upah layak (living wage) berada di angka $230. Pola serupa menjerat Vietnam, Kamboja, dan Myanmar. Polanya purba: belahan bumi Utara (Global Utara) menggenggam modal dan estetika. Sebaliknya, Global Selatan menyediakan keringat murah. Keuntungan melesat ke atas. Beban ekologis mengendap di bawah. Ini bukan globalisasi. Ini kolonialisme wajah baru. 

Achille Mbembe (2003) merumuskan necropolitics. Sebuah kuasa yang menentukan siapa yang boleh hidup dan siapa yang dibiarkan mati. Fashion modern adalah bentuk necropolitics material. Raksasa minyak sedang cemas. Transisi energi mengancam bisnis bahan bakar fosil. Solusinya? Melompat ke industri petrokimia untuk mode. Laporan Changing Markets Foundation (2023) menegaskan: perusahaan minyak bertaruh pada industri pakaian sebagai sekoci masa depan mereka. 

Dampaknya terasa di kulit. Di Makassar, di bawah terik tropis yang lembap, memakai poliester adalah siksaan haptik kolonial. Kainnya licin, menolak keringat, menahan bau, dan meluruhkan mikroplastik setiap kali dicuci. Tubuh kita dipaksa intim dengan material yang tidak dirancang untuk iklim kita. Tubuh dipenjara oleh sistem yang tak bisa kita kontrol. Ini bukan metafora. Ini kolonialisme yang merayap di pori-pori. 

Gayatri Spivak (1988) bertanya: "Can the Subaltern Speak?" Bisakah kaum tertindas bersuara dalam wacana penguasa? Dalam industri pakaian, pertanyaannya bergeser: bisakah Global Selatan menolak jadi tempat sampah? Kita bungkam. Setiap tahun, Global Utara membuang 92 juta ton limbah tekstil (UNEP, 2023). Ke mana ia dilarung? Ke rahim Global Selatan. Greenpeace Africa (2025) membeberkan angka mengerikan. Di Ghana, 89% limbah pakaian adalah serat sintetis tak terurai. Di Kenya, 300 juta helai pakaian rusak diekspor tiap tahun. Itu limbah plastik yang menyaru sebagai baju. Masyarakat Ghana menyebutnya ini obroni wawu. Artinya: "baju orang kulit putih yang mati". Sebuah metafora yang puitis sekaligus mengerikan. Kita memakai bangkai konsumerisme Barat. Kita tidak memproduksi sampahnya, tapi kita yang menguburnya. 

Kolonialisme terdalam tidak tertulis di label harga. Ia terpahat di tempurung kepala. Homi Bhabha (1994) memperkenalkan konsep mimicry. Proses di mana yang dijajah meniru sang penjajah demi mendapat pengakuan. Merek global menjanjikan ilusi. Kesan modern, berkelas, dan internasional. Mimicry bekerja dengan presisi yang menakutkan. Fisik kita merdeka, tetapi imajinasi kita terjajah. Kita merawat hierarki purba: Barat adalah puncak, lokal adalah kelas dua. 

Stuart Hall menyebut ini hegemoni. Kekuasaan yang bekerja tanpa paksaan. Kita menyerahkan diri dengan sukarela. Kolonialisme tidak lagi membutuhkan pasak tenda militer. Ia cukup bersemayam di gantungan baju dan lipatan otak kita. Dekolonisasi fashion bukan perkara mudah. Ini bukan proyek individu yang selesai dalam semalam. Ini adalah gugatan kebudayaan. Namun, langkah kecil bisa dimulai dari tiga praktik sadar. 

Pertama, membaca pakaian sebagai arsip. Kain bukan sekadar kain. Ia adalah dokumen relasi kuasa. Lemari kita adalah peta eksploitasi. Membaca baju secara kritis adalah langkah dekolonial pertama. Kedua, menolak anonimitas merek. Gugat transparansi mereka. Siapa yang menjahitnya? Dari mana benangnya? Ke mana sisa kainnya dibuang? Hidupkan kembali tuntutan atas etika produksi. Terakhir, merayakan lokalitas tanpa romantisasi. Produk lokal tidak otomatis suci. Banyak UMKM yang masih memakai bahan impor dan abai pada hak buruh. Namun, yang lokal lebih dekat. Mereka bisa diawasi, ditegur, dan dituntut secara langsung.sesuatu yang mustahil dilakukan pada korporasi global.

Frantz Fanon dalam The Wretched of the Earth (1961) menulis dengan tajam. Bagi orang-orang yang terjajah, nilai yang paling esensial dan konkret adalah prioritas kesadaran nasional. Kesadaran postkolonial harus membumi. Ia dimulai dari hal yang paling lekat dengan daging: apa yang kita sandang. Fashion adalah medan tempur budaya. Ia adalah situs di mana kolonialisme dirawat atau dilawan. Setiap kali kita berpakaian, kita sedang mengambil sikap.

Apakah kita memperpanjang rantai penindasan, atau mencoba memutusnya? Dekolonisasi tidak dimulai dari podium parlemen atau ruang seminar universitas. Ia dimulai dari tempat yang paling intim. Ia dimulai dari lemari pakaian.

Popular posts from this blog

Menavigasi Luka di Pinggiran Peta

PETA kebangsaan kita hari ini menyimpan banyak kisah yang gundah. Ada identitas-identitas di pinggiran yang terasa asing bagi telinga penguasa di pusat. Ada juga narasi nasionalisme yang dipaksakan, yang terasa tidak kontekstual dengan luka di lapangan. Bagi saya, komitmen menjadi Indonesia di Aceh dan Papua tidak sekadar urusan menavigasi angka pertumbuhan ekonomi, atau dalam undang-undang otonomi diartikan sebatas jalur pergerakan dana khusus. Tapi, kebangsaan merupakan ruang hidup publik yang nyata. Besar juga keingintahuan saya melihat kaitan antara teks—apa yang tertulis dalam jargon-jargon persatuan negara—dengan konteks—apa situasi, rasisme, dan peristiwa trauma yang jadi latar harian Gen Z di sana. Di sinilah ambivalensi kebangsaan itu lahir. Ia bukan maklumat perang untuk menghapus diri dari peta, melainkan sebuah gugatan kewarganegaraan ( citizenship claim ) yang mempertanyakan mengapa teks negara tidak pernah selaras dengan konteks di tanah kelahiran mereka Melalui lensa Cul...

Foto Tua

FOTO tua mungkin bukan untuk menghadirkan kembali kenangan lama. Bagi para penganut teori lingkaran sejarah, boleh jadi menaifkan nilai dari sebuah kenangan. Mereka memuji kata-kata klise: “tak ada hal yang baru di dunia”. Sejarah hanyalah sebuah siklus, yang mengikuti pola yang berulang-ulang. Namun bagi saya, foto tua dapat mengajukan tafsiran. Kita dapat mengajukan tafsiran baru, rekonstruksi mengenai suatu zaman. Tidak sekedar untuk mengingat, agar tidak lupa. Setumpuk foto-foto tua saya temukan dalam sebuah kardus berdebu di sudut kantor. Salah satu kardus kiriman dari kantor lama kami di Jalan Sunu, Makassar. Foto-foto tua yang tersimpan rapi itu, mengganggu perhatian saya. Bahkan, saya meminta jeda untuk sebuah diskusi, nasib perlindungan konsumen di era digital. Kami sedang mengamati secara serius, hiruk-pikuk para migran dan pribumi digital. Foto-foto tua itu merepresentasikan apa yang sudah dikerjakan pada dekade 1990-an. Saya jadi teringat dengan ungkapan saat itu: dari...

Ladang Tebu, Jalan Tol, Mojokerto

MOJOKERTO seperti borjuis kecil. Rasanya, saya tidak memiliki ungkapan yang lebih tepat. Perjalanan kembali ke kampung halaman, seperti menggeledah keranjang ingatan. Lebih sepekan, saya tinggal di sebuah tempat yang berada dalam narasi "sejarah besar" di republik ini. Tapi, saya tidak hendak bercerita soal itu. Lupakan sejenak mengenai  penemuan fosil tengkorak kanak-kanak purba, di Perning, sebuah desa kecil di timur laut Mojokerto, pada 1936. Atau, repihan kota tua Majapahit, di desa Trowulan (sebelumnya, bernama Trangwulan), di sebelah barat Mojokerto.  Saya penasaran mencari tahu lebih jauh. Saat bertemu sejumlah kawan lama semasa sekolah. Ketika percakapan yang tiba-tiba melompat pada: pabrik-pabrik mulai pindah ke tempat yang lebih rendah upah para pekerjanya.   Saya mendadak teringat akan penjelasan David Harvey, seorang geografer sekaligus antropolog. Aliran modal seperti proses molekuler, katanya. Dalam suatu percakapan mengenai buku yang ditulisnya: The New...

Gudo, Lasem. Perjumpaan Negeri yang Berbeda

SAYA beruntung dapat menjejaki dua tempat: Gudo, Jombang dan Lasem, Rembang. Nah, bersiaplah dengan kisah perjalanan saya kali ini, menembus lorong waktu. Gudo dan Lasem, dua  tempat yang sebelumnya telah menggoda perhatian saya. Boleh jadi, karena keinginan perjumpaan akan ruang geografis etnis dan penghayatan subyektifnya yang berbeda dengan tempat lain di negeri ini, dalam memahami hubungan pasang-surut akibat pertikaian sosial. Atau , tertarik dengan kalimat akhir sebuah artikel yang mengutip tulisan para pecinta pemikiran Gus Dur di klenteng (untuk menyebut rumah ibadah Tionghoa) Gudo: "semakin kita berbeda, semakin jelas dimana titik persamaan kita". Di kedua tempat ini, Gudo dan Lasem, klenteng menjadi landmark (mercu-tanda) . Jarak keduanya,  cukup berjauhan. Jalan pintas terdekat, sekitar 180 kilometer, membelah punggung pegunungan kapur Kendeng. Dari Gudo menuju ke utara, lewat Tuban. Lalu ke arah barat, berjalan di atas jalanan warisan Gubernur Jenderal Hindia Bel...