Di sawah-sawah Jawa, ledakan wereng cokelat pada 1970-an dan 1980-an menjadi bukti bahwa padi bukan sekadar kalkulasi tonase panen. Paket teknologi Revolusi Hijau yang dipaksakan negara—benih varietas unggul dan pestisida kimia—sempat disanjung sebagai jalan keluar dari krisis pangan. Namun, keseragaman itu melumpuhkan ekosistem. Ketika hama merebak, birokrasi menyalahkan ketidakdisiplinan petani dan menyemprotkan lebih banyak pestisida. Krisis ekologis diringkas menjadi persoalan teknis obat-obatan. Di titik ini, padi bukan lagi persoalan cangkul dan pupuk, melainkan arena pertarungan cara pandang: pengetahuan warga melawan ambisi teknokratis negara. Sejak era kolonial, Orde Baru, hingga proyek Indonesia kontemporer hari ini, negara modern menunjukkan kecenderungan historis yang sama. Sosiolog James C. Scott menyebutnya obsesi high modernism : kehendak menyederhanakan lanskap alam dan kebudayaan yang rumit agar mudah diukur, dihitung, dan dikontrol dari pusat kekuasaan. Padi ditr...
Pembangunan di Sulawesi Selatan sering dirayakan lewat angka statistik. PDRB melonjak. Beton megaproyek ditanam. Garis pantai diurug. Namun, di balik selebrasi itu, ada krisis yang merayap di tingkat tapak: krisis reproduksi sosial—yakni kegagalan institusi pasar, upah, dan negara dalam menjamin keberlanjutan hidup harian dan antargenerasi. Untuk membaca bagaimana krisis ini dialami oleh warga, kita perlu melangkah keluar dari narasi makro dan masuk ke dalam arena kebudayaan. Kebudayaan, sebagaimana ditegaskan Raymond Williams, bukanlah sekadar seni adiluhung atau wacana pembangunan yang megah. Kebudayaan adalah cara hidup utuh ( a whole way of life ) yang mencakup kebiasaan harian, bahasa sosial, dan cara warga mengorganisasi kelangsungan hidupnya. Dalam konteks Sulawesi Selatan, kebudayaan yang dihidupi itu berada di lorong-lorong, pangkalan bentor, utang warung, hingga strategi dapur warga yang menambal hidup yang terus retak. Desa yang Terbelah Henry Bernstein mengingatkan ...