Langsung ke konten utama

Postingan

Teror Komodifikasi: Membaca Ulang Politik Agraria Indonesia Melalui Lensa Keadilan Pangan

Pangan antara Perut dan Pasar Pada 24 Oktober 2008, dalam pidato Hari Pangan Dunia di Markas Besar PBB, Bill Clinton mengatakan bahwa pangan bukanlah komoditas seperti yang lain dan menyerukan kembali pada kebijakan swasembada pertanian. Pernyataan itu lahir dari krisis pangan global yang memperlihatkan rapuhnya sistem pangan internasional. Pangan menopang kehidupan. Namun, ekonomi modern mengaturnya melalui pasar: diproduksi untuk dijual, bergerak dalam rantai komoditas, dihargai, dan dalam kondisi tertentu menjadi objek spekulasi serta akumulasi modal. Akibatnya, perhatian mudah bergeser dari siapa menguasai sumber produksi menuju berapa banyak pangan tersedia dan berapa harganya. Padahal, persoalan pangan bermula jauh sebelum pangan berada di pasar: pada tanah, benih, air, tenaga kerja, teknologi, dan keputusan politik yang menentukan siapa dapat memproduksinya dan untuk kepentingan siapa. Komodifikasi tidak berhenti pada pangan. Ia menjangkau tanah, benih, pengetahuan, bahkan rua...
Postingan terbaru

Seismograf Kekuasaan: Bahasa, Kecemasan, dan Teknologi Politik Presidensial Indonesia

Bahasa dalam politik bukan dekorasi. Ia adalah alat kerja. Pidato presiden tidak cukup dibaca sebagai pertunjukan retorika. Di dalamnya berlangsung pekerjaan politik: memilih persoalan, menghubungkan berbagai masalah, membentuk posisi subjek, lalu membuat tindakan tertentu tampak masuk akal dan perlu.  Dalam esai ini, pidato saya baca sebagai seismograf kekuasaan. Bukan alat yang sekadar merekam getaran sosial, tetapi perangkat yang membuat getaran tertentu terbaca sebagai masalah politik. Pidato menerima kecemasan yang telah beredar dalam masyarakat, mengodekannya melalui bahasa, lalu menghubungkannya dengan aktor, kepentingan, dan kemungkinan tindakan. Sukarno dan Prabowo dibandingkan bukan karena pidato mereka setara secara genre maupun konteks. Keduanya justru berbeda secara fundamental. Sukarno berbicara di Sidang Umum PBB pada 1960, dalam medan dekolonisasi dan Perang Dingin. Prabowo berbicara dalam konteks pemerintahan Indonesia pascareformasi, demokrasi elektoral, dan ekon...

Lorong Makassar: Ketika Beton Tak Bisa Membaca Warga

Lorong adalah kapiler kota. Pembuluh halus. Mengalirkan darah ke sel-sel paling intim tubuh urban. Di Makassar, dari Ujung Pandang hingga Tamalate, warga bergerak bukan mengikuti garis peta. Mereka mengikuti ritme sosial yang dipupuk puluhan tahun.  Namun perencanaan kota buta. Lorong direduksi menjadi objek teknis. Rabat beton. Paving block. Saluran air. Yang luput: lorong adalah teks budaya. Ruang yang penuh makna. Tempat warga setiap hari membaca dan menulis ulang kota mereka.  B eton sebagai Encoding  Pemerintah membangun rabat beton. Niatnya baik. Sanitasi membaik. Akses lancar. Tetapi di balik beton mengkilap itu tersimpan pesan hegemonik: "Ruang kalian yang lama adalah kekumuhan yang harus diperbaiki."  S tuart Hall dalam Representation: Cultural Representations and Signifying Practices menyebut ini sebagai encoding. Negara menyandikan lorong yang "baik" sebagai lorong yang keras, rata, terstandar. Pesan ini disampaikan melalui bahasa teknis—RAB, spesifikasi ...

Membaca Ulang Hebdige: The Unnatural Break di Indonesia

Dari punk, “anarko”, hingga ojol: ketika gaya, tubuh, dan material sehari-hari mengganggu peta makna Ada saat ketika sebuah benda berhenti menjadi benda biasa. Jaket tidak lagi sekadar jaket. Pakaian hitam tidak lagi sekadar warna pakaian. Motor dan aplikasi tidak lagi hanya alat mencari nafkah. Sesuatu terjadi ketika hubungan antara benda, tubuh, dan makna yang selama ini dianggap biasa tiba-tiba terganggu. Di situlah saya membaca kembali Dick Hebdige dan konsep the unnatural break . D ick Hebdige adalah salah satu pemikir penting dalam tradisi Cultural Studies Inggris. Ia belajar di Centre for Contemporary Cultural Studies (CCCS) di Birmingham, lingkungan intelektual yang juga menjadi tempat berkembangnya kajian tentang budaya populer, kelas, media, dan hegemoni. Buku yang membuat namanya penting dalam studi subkultur, Subculture: The Meaning of Style , terbit pada 1979. Buku itu membaca berbagai subkultur anak muda Inggris pascaperang—dari mods, skinheads, reggae dan Rastafarian h...

Di Garis Offside

Superpippo, dramaturgi, dan panggung politik yang bergeser Tulisan ini merupakan pembacaan ulang atas esai yang saya tulis pada 2014, sewaktu Filippo “Superpippo” Inzaghi saya gunakan untuk membaca kemunculan Joko Widodo dalam politik nasional. Dua belas tahun kemudian, saya kembali kepada tulisan itu bukan untuk memperbaruinya, melainkan untuk melihat apa yang berubah: posisi aktor, panggung politik, batas aturan, dan cara publik membaca pertunjukan kekuasaan. Superpippo dan Garis Offside Inzaghi bukan penyerang yang dikenal karena teknik spektakuler, kecepatan, atau kekuatan fisik. Keistimewaannya terletak pada kemampuan membaca ruang dan waktu. Ia hidup dekat garis offside. Terlalu cepat, ia melanggar. Terlambat sedikit, peluang hilang. Tetapi pada saat yang tepat, ia sudah berada di belakang pertahanan. Di situlah Inzaghi menarik secara dramaturgis. Ia tidak bermain di luar aturan. Ia memahami batas aturan dan bergerak sangat dekat dengannya. Garis offside menjadi ruang kemungkina...

Tertawa yang Menggugat

Ketika Nama Presiden dan Wakil Presiden Menjadi Kode Meme Meme (dibaca "mim") bukan sekadar gambar lucu yang beredar di internet. Dalam pengertian Limor Shifman, meme digital merupakan kelompok konten yang memiliki kesamaan bentuk, gagasan, atau pola, lalu dibuat, ditiru, dimodifikasi, dan diedarkan oleh banyak pengguna. Karena itu, sebuah meme tidak berhenti pada satu gambar atau satu unggahan. Ia hidup melalui pengulangan dan perubahan. Ketika pengguna mengambil sebuah gambar, kalimat, nama, atau format tertentu lalu memberinya konteks baru, mereka sekaligus ikut memproduksi makna. Meme dengan demikian merupakan praktik kebudayaan: ruang tempat tanda beredar, berubah, dan diperebutkan. Dalam budaya meme, nama politik pun dapat mengalami perpindahan fungsi. Nama yang semula menunjuk seseorang dapat menjadi pintu masuk menuju penilaian tertentu. Ia membawa jabatan, kekuasaan, sejarah, dan institusi yang melekat pada figur tersebut, tetapi dalam praktik meme semua itu dapat d...

Marx Minum Kopi, Sassen Bertanya: Di Mana Perempuannya?

Percakapan Imajiner tentang Kota, Mobilitas, dan Kehidupan Sehari-hari di Makassar. Percakapan ini adalah eksperimen teoritik imajiner. Ia berangkat dari sebuah tradisi dalam sosiologi yang menggunakan percakapan antarpemikir sebagai cara untuk menguji gagasan. Bukan sekadar mendramatisasi teori. Bukan pula membuat para pemikir yang sudah lama meninggal seolah-olah sedang nongkrong di warkop. Pertanyaannya lebih sederhana, sekaligus lebih sulit: apakah teori-teori klasik masih mampu berbicara satu sama lain ketika berhadapan dengan realitas kota abad ke-21? Kali ini Karl Marx, Émile Durkheim, dan Max Weber kita pertemukan di Makassar. Lalu kita tambahkan Saskia Sassen. Alasannya sederhana. Ketika pembicaraan sampai pada kota, mobilitas, kapital, birokrasi, dan solidaritas, ada sesuatu yang terus menghilang dari percakapan: pengalaman perempuan. Maka kita mulai. Sore, Warkop, dan Tiga Cara Melihat Kota Sore belum terlalu tua. Macet belum benar-benar datang. Di sebuah warkop, Karl...