Lorong adalah kapiler kota. Pembuluh halus. Mengalirkan darah ke sel-sel paling intim tubuh urban. Di Makassar, dari Ujung Pandang hingga Tamalate, warga bergerak bukan mengikuti garis peta. Mereka mengikuti ritme sosial yang dipupuk puluhan tahun. Namun perencanaan kota buta. Lorong direduksi menjadi objek teknis. Rabat beton. Paving block. Saluran air. Yang luput: lorong adalah teks budaya. Ruang yang penuh makna. Tempat warga setiap hari membaca dan menulis ulang kota mereka. B eton sebagai Encoding Pemerintah membangun rabat beton. Niatnya baik. Sanitasi membaik. Akses lancar. Tetapi di balik beton mengkilap itu tersimpan pesan hegemonik: "Ruang kalian yang lama adalah kekumuhan yang harus diperbaiki." S tuart Hall dalam Representation: Cultural Representations and Signifying Practices menyebut ini sebagai encoding. Negara menyandikan lorong yang "baik" sebagai lorong yang keras, rata, terstandar. Pesan ini disampaikan melalui bahasa teknis—RAB, spesifikasi ...
Dari punk, “anarko”, hingga ojol: ketika gaya, tubuh, dan material sehari-hari mengganggu peta makna Ada saat ketika sebuah benda berhenti menjadi benda biasa. Jaket tidak lagi sekadar jaket. Pakaian hitam tidak lagi sekadar warna pakaian. Motor dan aplikasi tidak lagi hanya alat mencari nafkah. Sesuatu terjadi ketika hubungan antara benda, tubuh, dan makna yang selama ini dianggap biasa tiba-tiba terganggu. Di situlah saya membaca kembali Dick Hebdige dan konsep the unnatural break . D ick Hebdige adalah salah satu pemikir penting dalam tradisi Cultural Studies Inggris. Ia belajar di Centre for Contemporary Cultural Studies (CCCS) di Birmingham, lingkungan intelektual yang juga menjadi tempat berkembangnya kajian tentang budaya populer, kelas, media, dan hegemoni. Buku yang membuat namanya penting dalam studi subkultur, Subculture: The Meaning of Style , terbit pada 1979. Buku itu membaca berbagai subkultur anak muda Inggris pascaperang—dari mods, skinheads, reggae dan Rastafarian h...