Skip to main content

Posts

Politik Antrean: Ketika BBM Mengatur Waktu dan Tubuh Kota

Antrean BBM di SPBU di Makassar, bukan peristiwa satu-dua hari. Jejak waktunya cukup jelas. Sejak awal Agustus, kendaraan sudah mengantre solar, awal September mengantre pertalite dan pertamax. Kendaraan mengular di setiap SPBU. Antrean itu memanjang hingga ratusan meter dan mengganggu arus lalu lintas. Tapi, ada sesuatu yang ganjil dalam pemandangan itu. Seorang kawan menulis begini. B elum pernah terjadi yang seperti ini. Jadi antrean panjang ini sungguh membuat saya tersengal-sengal. Di benak terutama. Saya berusaha memahami, merencanakan perjalanan dengan pertimbangan yang baru.  Ini mempengaruhi hal-hal yang sangat mendasar dalam rumah kami. Jika pakai perasaan, maka rasa ini namanya kelu. Seperti punya pasangan hidup, yang menjual teman seperjanjiannya  ke orang asing. Harga BBM yang dibayar di SPBU bukan hanya uang yang keluar dari dompet. Ada harga lain yang jarang terlihat. Waktu yang hilang. Antrean membuat waktu produktif berubah menjadi waktu tunggu. Dalam situasi ...
Recent posts

Sholawat, Nirvana, dan Reartikulasi Makna di Era Digital

I ni sebuah pertunjukan Orkes Gambus Al-Badar melantunkan Sholatullahi Ma Lahat Kawakib . Biasa disingkat Sholatullahima . Bagi sebagian pendengar, ada sesuatu yang terasa akrab. Petikan gitar dan ketukan drumnya mengingatkan pada The Man Who Sold the World . Lagu yang diciptakan dan dipopulerkan David Bowie, yang kemudian dibawakan Nirvana. Terutama versi yang dikenal melalui MTV Unplugged pada 1993. Telinga pun bekerja Bagi mereka yang mengenal Nirvana, Sholatullahima menghadirkan gema yang familiar. Ada gitar Kurt Cobain. Ada atmosfer Unplugged . Ada ingatan tentang sebuah musik yang pernah menjadi bagian penting dari budaya populer 1990-an. Tetapi cerita ini tidak dimulai di Instagram. Jejaknya jauh lebih panjang. Versi Sholatullahima Al-Badar dengan idiom aransemen yang mengingatkan pada The Man Who Sold the World telah beredar sejak akhir 1990-an hingga awal 2000-an. Ketika itu, budaya grunge dan alternative rock sedang kuat dalam lanskap musik populer. Nirvana menjadi ...

Sirkus Barock sebagai Arsip Hidup

Membaca taktik kebudayaan dari jalanan ke era algoritma Sirkus Barock adalah arsip hidup. Bukan kumpulan dokumen tentang masa lalu. Ia menyimpan pengetahuan tentang bagaimana kebudayaan bekerja: membaca medan, merakit yang tersedia, membangun jejaring, mencari celah, lalu berubah ketika keadaan berubah. Lima puluh tahun Sirkus Barock bukan sekadar usia sebuah kelompok seni. Ia adalah perjalanan melalui berbagai konfigurasi kebudayaan Indonesia: komunitas seni, jalanan, teater, musik, industri rekaman, panggung besar, hingga ruang digital. Di sinilah genealogi Michel Foucault menjadi penting. Genealogi tidak mencari asal-usul yang murni. Ia menelusuri bagaimana sesuatu terbentuk melalui pertemuan praktik, pengetahuan, institusi, kepentingan, dan relasi kuasa. Maka pertanyaannya bukan sekadar: bagaimana Sirkus Barock bertahan selama lima puluh tahun? Tetapi: melalui medan kebudayaan seperti apa ia terus menemukan kemungkinan untuk hadir? Untuk memahami itu, kita perlu kembali ke Indonesi...

Jalanan dalam Algoritma

Jalanan Makassar tidak hanya hadir di aspal. Ia juga hidup di layar.  Kekerasan itu nyata. Penelitian mencatatnya. Polisi berpatroli. Namun begitu kamera menyala, persoalannya bergeser. Satu anak panah. Sekelompok motor. Jalan . Video beberapa detik. Lalu judul: teror geng motor, perang kelompok, jalanan mencekam. Kejadian yang semula berlangsung di satu ruas jalan memperoleh kehidupan kedua di layar. Penelitian Mukti, Oruh, dan Agustang (2021), misalnya, menunjukkan bahwa pemberitaan kekerasan melalui media sosial ikut membentuk citra negatif Kota Makassar. Tetapi pertanyaannya tidak berhenti pada citra. Algoritma tidak menciptakan kekerasan. Kekerasan sudah ada sebelum kamera datang. Yang berubah adalah apa yang terjadi setelahnya—ketika kekerasan masuk ke dalam sirkulasi digital. Stuart Hall mengingatkan bahwa representasi bukan cermin pasif. Makna diproduksi, diedarkan, dan diterima. Di era platform, pertanyaannya bertambah: apa yang dibuat terlihat? Sebuah peristiwa tidak...

Ketika Jejak Lama Menemukan Indonesia Hari Ini

Tan Malaka sedang kembali.  Namanya muncul di layar. Di buku. Di podcast. Di ruang diskusi. Di antara percakapan anak muda tentang Indonesia. Kita dengan mudah bisa menyebutnya kebangkitan popularitas. Saya kira tidak sesederhana itu. Pertanyaan yang lebih penting: bagaimana seorang tokoh yang telah lama mati dapat kembali hadir dalam kehidupan kebudayaan kita? Tan Malaka tidak datang dari masa lalu dengan tubuhnya. Ia datang melalui jejak. Buku. Foto. Arsip. Cerita. Kutipan. Dokumenter. Penerbitan ulang. Jejak itu tidak bergerak sendiri. Ia membutuhkan jaringan: penulis, editor, penerbit, sejarawan, komunitas, kreator digital, media, platform, dan pembaca. Di sanalah masa lalu mulai bergerak. Jejak yang Diaktifkan Tidak semua jejak Tan Malaka bergerak dengan cara yang sama. Madilog memperoleh kehidupan baru melalui ruang digital. Ia dibicarakan sebagai cara berpikir, kritik terhadap logika mistika, dan latihan membaca kenyataan dengan bukti. Di Malaka Project, misalnya, Tan Ma...

Dialektika Tubuh, Algoritma, dan Ruang Jalanan

Makassar tidak berhenti minum kopi. Yang berubah adalah cara kopi hadir di dalam kota. Rumah kopi pernah menjadi tempat untuk tinggal berlama-lama. Meja marmer, kursi, percakapan panjang, dan waktu yang tidak selalu harus produktif. Kemudian muncul coffee shop modern dengan sofa, Wi-Fi, meja kerja, dan colokan listrik. Kini, kedai kopi semakin banyak hadir dalam bentuk booth, kontainer, atau gerai takeaway: pesan, bayar, ambil, lalu pergi. Perubahan ini bukan sekadar evolusi bisnis kopi. Ia memperlihatkan perubahan hubungan antara tubuh, waktu, benda, dan ruang. Ruang yang Mengondisikan Tubuh Setiap ruang mengorganisasikan kemungkinan yang berbeda. Rumah kopi memberi tubuh alasan untuk menetap. Coffee shop modern memungkinkan tubuh tinggal sambil bekerja dan tetap terhubung dengan jaringan digital. Kedai takeaway, sebaliknya, mengondisikan tubuh untuk bergerak. Ruang dipadatkan, kursi dikurangi, transaksi dipercepat. Namun ruang tidak pernah sepenuhnya menentukan apa yang dilakukan man...

Makassar yang Terlihat, Makassar yang Tidak Terlihat

Kota tidak pernah hanya apa yang tampak. Makassar dapat dilihat dari jalan. Tetapi ia juga dirasakan oleh tubuh. Panas aspal. Bau makanan. Debu. Suara kendaraan. Berat gerobak. Sempitnya trotoar. Tegangan ketika aparat datang. Semua itu adalah kota. Namun ketika kota masuk ke dalam ekosistem digital, pengalaman tersebut mengalami perubahan. I a dipotret. Direkam. Diberi keterangan. Diunggah. Dikomentari. Dikategorikan. Kemudian beredar melalui media dan platform.  Kota yang dialami berubah menjadi kota yang terlihat. Pertanyaannya kemudian sederhana: M akassar yang mana yang terlihat? Pertanyaan ini menjadi penting karena melihat bukan tindakan yang netral. Apa yang terlihat selalu melalui suatu posisi. Melalui kamera. Melalui kategori. Melalui institusi. Melalui media. Melalui algoritma. James C. Scott menunjukkan bagaimana negara modern berusaha membuat masyarakat dan ruang menjadi legible —terbaca melalui kategori, ukuran, peta, sensus, dan berbagai bentuk penyederhanaan admi...