Ketika Nama Presiden dan Wakil Presiden Menjadi Kode Meme Meme (dibaca "mim") bukan sekadar gambar lucu yang beredar di internet. Dalam pengertian Limor Shifman, meme digital merupakan kelompok konten yang memiliki kesamaan bentuk, gagasan, atau pola, lalu dibuat, ditiru, dimodifikasi, dan diedarkan oleh banyak pengguna. Karena itu, sebuah meme tidak berhenti pada satu gambar atau satu unggahan. Ia hidup melalui pengulangan dan perubahan. Ketika pengguna mengambil sebuah gambar, kalimat, nama, atau format tertentu lalu memberinya konteks baru, mereka sekaligus ikut memproduksi makna. Meme dengan demikian merupakan praktik kebudayaan: ruang tempat tanda beredar, berubah, dan diperebutkan. Dalam budaya meme, nama politik pun dapat mengalami perpindahan fungsi. Nama yang semula menunjuk seseorang dapat menjadi pintu masuk menuju penilaian tertentu. Ia membawa jabatan, kekuasaan, sejarah, dan institusi yang melekat pada figur tersebut, tetapi dalam praktik meme semua itu dapat d...
Percakapan Imajiner tentang Kota, Mobilitas, dan Kehidupan Sehari-hari di Makassar. Percakapan ini adalah eksperimen teoritik imajiner. Ia berangkat dari sebuah tradisi dalam sosiologi yang menggunakan percakapan antarpemikir sebagai cara untuk menguji gagasan. Bukan sekadar mendramatisasi teori. Bukan pula membuat para pemikir yang sudah lama meninggal seolah-olah sedang nongkrong di warkop. Pertanyaannya lebih sederhana, sekaligus lebih sulit: apakah teori-teori klasik masih mampu berbicara satu sama lain ketika berhadapan dengan realitas kota abad ke-21? Kali ini Karl Marx, Émile Durkheim, dan Max Weber kita pertemukan di Makassar. Lalu kita tambahkan Saskia Sassen. Alasannya sederhana. Ketika pembicaraan sampai pada kota, mobilitas, kapital, birokrasi, dan solidaritas, ada sesuatu yang terus menghilang dari percakapan: pengalaman perempuan. Maka kita mulai. Sore, Warkop, dan Tiga Cara Melihat Kota Sore belum terlalu tua. Macet belum benar-benar datang. Di sebuah warkop, Karl...