Keragaman, Politik Ukuran, dan Commoning dari Bawah Pangan bukan sekadar gizi. Ia rezim kebijakan, memori kolektif, dan cara kekuasaan bekerja. Esai ini bukan romantisasi pangan lokal. Ini pembacaan atas wacana dan institusi yang membuat satu cara makan tampak wajar, sementara cara lain perlahan kehilangan ruang. Kekuasaan yang Membuat Sesuatu Tampak Wajar Kekuasaan tidak selalu bekerja lewat paksaan. Ia membentuk apa yang dianggap biasa. Gramsci menyebutnya hegemoni: ketika sesuatu diterima bukan karena dipaksa, tapi karena dianggap masuk akal (Selections from the Prison Notebooks, 1971). Foucault menambahkan bahwa pengetahuan, institusi, dan praktik sehari-hari turut membentuk perilaku (Ethics: Subjectivity and Truth, 1997). Maka pertanyaan “kenapa harus nasi?” bukan pertanyaan sepele. Ia menyentuh cara kekuasaan menaturalisasi tatanan tertentu. Beras: dari Komoditas Menjadi Norma Dominasi beras bukan semata soal selera. Ia dibangun lewat pilihan politik-ekonomi. McMichael menunju...
Meme 2023, putusan MK 2026, dan politik ingatan digital Sebuah kekeliruan dapat dikoreksi tanpa benar-benar selesai. Penjelasan resmi bisa meluruskan maksud sebuah ucapan, tetapi tidak otomatis menghapus lelucon yang telanjur dilekatkan padanya. Dalam politik digital, satu peristiwa dapat memiliki dua kehidupan: sebagai persoalan yang perlu dijelaskan dan sebagai bahan humor yang mudah diingat. Kasus Gibran Rakabuming Raka memperlihatkan ketegangan itu. Pada 3 Desember 2023, ketika membicarakan nutrisi ibu hamil, Gibran keliru menyebut asam sulfat, bukan asam folat. Dewan Pakar TKN Prabowo-Gibran memberi klarifikasi. Gibran meminta maaf. Koreksi selesai. Tetapi lelucon tidak. Sebutan "El Sulfat" lahir. Ia menghubungkan satu figur dengan satu peristiwa. Nama itu pendek. Ia mudah diulang. Ia tidak butuh konteks panjang. Dari situ pertanyaan berubah. Bukan lagi soal salah ucap. Tetapi soal bagaimana kesalahan berubah menjadi tanda. Dan siapa yang berhak menentukan maknanya. F...