Dapur sering dibaca sebagai urusan rasa: resep, aroma, warisan. Esai ini mencoba dari sisi lain: bahasa dan kuasa. Dapur punya cara bicara. Negara juga. Keduanya bertemu di panci. Apa yang terjadi ketika dua bahasa itu bertemu, dan siapa yang menerjemahkan? Satu catatan sejak awal. Ini bukan laporan lapangan. Fakta kebijakan dan linguistik bersumber pada daftar pustaka. Yang belum terverifikasi tidak dinyatakan sebagai temuan, melainkan diajukan sebagai pertanyaan. Daftar istilah dapur Makassar sengaja tidak dimuat, sebab belum ada penutur atau kamus yang memeriksanya. Dapur sebagai Ruang Tutur Dell Hymes meminta kita membongkar peristiwa tutur: siapa bicara, kepada siapa, di mana, untuk apa, dan dengan cara apa. Pertanyaan itu bisa kita bawa ke dapur. Untuk Makassar ada satu petunjuk linguistik. Sukardi, Busri, dan Badrih (2024) mendeskripsikan klitik -mi, -pi, dan -ji dalam bahasa Makassar sebagai penanda aspek. Hastianah (2013) menjumpai klitik yang sama dalam tuturan Indonesia seor...
Masyarakat telanjur percaya mitos: kelas menengah selalu aman dan mandiri. Cultural Studies membongkar ilusi ini. Kelas menengah bukan sekadar angka statistik BPS. Mereka adalah medan tempur kultural tempat legitimasi kekuasaan dan impian mobilitas diuji. Menganalisis mereka bukan untuk meratapi nasib. Ini cara membaca bagaimana kebijakan negara dan mekanisme pasar membentuk distribusi risiko yang semakin membebani kehidupan rumah tangga. Ketika keamanan ekonomi kelas menengah tergerus, yang dipertaruhkan bukan hanya daya beli, tapi juga martabat hidup. Pemadatan Krisis dan Struktur Perasaan Penyusutan ini berlangsung dalam suatu konjungtur. Meminjam Stuart Hall (1988), krisis tidak berdiri sebagai peristiwa ekonomi tunggal, melainkan terbentuk melalui pertemuan kontradiksi ekonomi, politik, kebijakan, dan pengalaman sosial. Data Susenas BPS (Maret) menunjukkan populasi kelas menengah merosot dari 57,33 juta jiwa pada 2019 menjadi 47,85 juta jiwa pada 2024. Sementara itu, perhitun...