Langsung ke konten utama

Postingan

Lorong Makassar: Ketika Beton Tak Bisa Membaca Warga

Lorong adalah kapiler kota. Pembuluh halus. Mengalirkan darah ke sel-sel paling intim tubuh urban. Di Makassar, dari Ujung Pandang hingga Tamalate, warga bergerak bukan mengikuti garis peta. Mereka mengikuti ritme sosial yang dipupuk puluhan tahun.  Namun perencanaan kota buta. Lorong direduksi menjadi objek teknis. Rabat beton. Paving block. Saluran air. Yang luput: lorong adalah teks budaya. Ruang yang penuh makna. Tempat warga setiap hari membaca dan menulis ulang kota mereka.  B eton sebagai Encoding  Pemerintah membangun rabat beton. Niatnya baik. Sanitasi membaik. Akses lancar. Tetapi di balik beton mengkilap itu tersimpan pesan hegemonik: "Ruang kalian yang lama adalah kekumuhan yang harus diperbaiki."  S tuart Hall dalam Representation: Cultural Representations and Signifying Practices menyebut ini sebagai encoding. Negara menyandikan lorong yang "baik" sebagai lorong yang keras, rata, terstandar. Pesan ini disampaikan melalui bahasa teknis—RAB, spesifikasi ...
Postingan terbaru

Membaca Ulang Hebdige: The Unnatural Break di Indonesia

Dari punk, “anarko”, hingga ojol: ketika gaya, tubuh, dan material sehari-hari mengganggu peta makna Ada saat ketika sebuah benda berhenti menjadi benda biasa. Jaket tidak lagi sekadar jaket. Pakaian hitam tidak lagi sekadar warna pakaian. Motor dan aplikasi tidak lagi hanya alat mencari nafkah. Sesuatu terjadi ketika hubungan antara benda, tubuh, dan makna yang selama ini dianggap biasa tiba-tiba terganggu. Di situlah saya membaca kembali Dick Hebdige dan konsep the unnatural break . D ick Hebdige adalah salah satu pemikir penting dalam tradisi Cultural Studies Inggris. Ia belajar di Centre for Contemporary Cultural Studies (CCCS) di Birmingham, lingkungan intelektual yang juga menjadi tempat berkembangnya kajian tentang budaya populer, kelas, media, dan hegemoni. Buku yang membuat namanya penting dalam studi subkultur, Subculture: The Meaning of Style , terbit pada 1979. Buku itu membaca berbagai subkultur anak muda Inggris pascaperang—dari mods, skinheads, reggae dan Rastafarian h...

Di Garis Offside

Superpippo, dramaturgi, dan panggung politik yang bergeser Tulisan ini merupakan pembacaan ulang atas esai yang saya tulis pada 2014, sewaktu Filippo “Superpippo” Inzaghi saya gunakan untuk membaca kemunculan Joko Widodo dalam politik nasional. Dua belas tahun kemudian, saya kembali kepada tulisan itu bukan untuk memperbaruinya, melainkan untuk melihat apa yang berubah: posisi aktor, panggung politik, batas aturan, dan cara publik membaca pertunjukan kekuasaan. Superpippo dan Garis Offside Inzaghi bukan penyerang yang dikenal karena teknik spektakuler, kecepatan, atau kekuatan fisik. Keistimewaannya terletak pada kemampuan membaca ruang dan waktu. Ia hidup dekat garis offside. Terlalu cepat, ia melanggar. Terlambat sedikit, peluang hilang. Tetapi pada saat yang tepat, ia sudah berada di belakang pertahanan. Di situlah Inzaghi menarik secara dramaturgis. Ia tidak bermain di luar aturan. Ia memahami batas aturan dan bergerak sangat dekat dengannya. Garis offside menjadi ruang kemungkina...

Tertawa yang Menggugat

Ketika Nama Presiden dan Wakil Presiden Menjadi Kode Meme Meme (dibaca "mim") bukan sekadar gambar lucu yang beredar di internet. Dalam pengertian Limor Shifman, meme digital merupakan kelompok konten yang memiliki kesamaan bentuk, gagasan, atau pola, lalu dibuat, ditiru, dimodifikasi, dan diedarkan oleh banyak pengguna. Karena itu, sebuah meme tidak berhenti pada satu gambar atau satu unggahan. Ia hidup melalui pengulangan dan perubahan. Ketika pengguna mengambil sebuah gambar, kalimat, nama, atau format tertentu lalu memberinya konteks baru, mereka sekaligus ikut memproduksi makna. Meme dengan demikian merupakan praktik kebudayaan: ruang tempat tanda beredar, berubah, dan diperebutkan. Dalam budaya meme, nama politik pun dapat mengalami perpindahan fungsi. Nama yang semula menunjuk seseorang dapat menjadi pintu masuk menuju penilaian tertentu. Ia membawa jabatan, kekuasaan, sejarah, dan institusi yang melekat pada figur tersebut, tetapi dalam praktik meme semua itu dapat d...

Marx Minum Kopi, Sassen Bertanya: Di Mana Perempuannya?

Percakapan Imajiner tentang Kota, Mobilitas, dan Kehidupan Sehari-hari di Makassar. Percakapan ini adalah eksperimen teoritik imajiner. Ia berangkat dari sebuah tradisi dalam sosiologi yang menggunakan percakapan antarpemikir sebagai cara untuk menguji gagasan. Bukan sekadar mendramatisasi teori. Bukan pula membuat para pemikir yang sudah lama meninggal seolah-olah sedang nongkrong di warkop. Pertanyaannya lebih sederhana, sekaligus lebih sulit: apakah teori-teori klasik masih mampu berbicara satu sama lain ketika berhadapan dengan realitas kota abad ke-21? Kali ini Karl Marx, Émile Durkheim, dan Max Weber kita pertemukan di Makassar. Lalu kita tambahkan Saskia Sassen. Alasannya sederhana. Ketika pembicaraan sampai pada kota, mobilitas, kapital, birokrasi, dan solidaritas, ada sesuatu yang terus menghilang dari percakapan: pengalaman perempuan. Maka kita mulai. Sore, Warkop, dan Tiga Cara Melihat Kota Sore belum terlalu tua. Macet belum benar-benar datang. Di sebuah warkop, Karl...

Politik Antrean: Ketika BBM Mengatur Waktu dan Tubuh Kota

Antrean BBM di SPBU di Makassar, bukan peristiwa satu-dua hari. Jejak waktunya cukup jelas. Sejak awal Agustus, kendaraan sudah mengantre solar, awal September mengantre pertalite dan pertamax. Kendaraan mengular di setiap SPBU. Antrean itu memanjang hingga ratusan meter dan mengganggu arus lalu lintas. Tapi, ada sesuatu yang ganjil dalam pemandangan itu. Seorang kawan menulis begini. B elum pernah terjadi yang seperti ini. Jadi antrean panjang ini sungguh membuat saya tersengal-sengal. Di benak terutama. Saya berusaha memahami, merencanakan perjalanan dengan pertimbangan yang baru.  Ini mempengaruhi hal-hal yang sangat mendasar dalam rumah kami. Jika pakai perasaan, maka rasa ini namanya kelu. Seperti punya pasangan hidup, yang menjual teman seperjanjiannya  ke orang asing. Harga BBM yang dibayar di SPBU bukan hanya uang yang keluar dari dompet. Ada harga lain yang jarang terlihat. Waktu yang hilang. Antrean membuat waktu produktif berubah menjadi waktu tunggu. Dalam situasi ...

Sholawat, Nirvana, dan Reartikulasi Makna di Era Digital

Ini sebuah pertunjukan Orkes Gambus Al-Badar melantunkan Sholatullahi Ma Lahat Kawakib . Biasa disingkat Sholatullahima . Bagi sebagian pendengar, ada sesuatu yang terasa akrab. Petikan gitar dan ketukan drumnya mengingatkan pada The Man Who Sold the World . Lagu yang diciptakan dan dipopulerkan David Bowie, yang kemudian dibawakan Nirvana. Terutama versi yang dikenal melalui MTV Unplugged pada 1993. Telinga pun bekerja Bagi mereka yang mengenal Nirvana, Sholatullahima menghadirkan gema yang familiar. Ada gitar Kurt Cobain. Ada atmosfer Unplugged . Ada ingatan tentang sebuah musik yang pernah menjadi bagian penting dari budaya populer 1990-an. Tetapi cerita ini tidak dimulai di Instagram. Jejaknya jauh lebih panjang. Versi Sholatullahima Al-Badar dengan idiom aransemen yang mengingatkan pada The Man Who Sold the World telah beredar sejak akhir 1990-an hingga awal 2000-an. Ketika itu, budaya grunge dan alternative rock sedang kuat dalam lanskap musik populer. Nirvana menjadi s...