Skip to main content

Posts

Tertawa yang Menggugat

Ketika Nama Presiden dan Wakil Presiden Menjadi Kode Meme Meme (dibaca "mim") bukan sekadar gambar lucu yang beredar di internet. Dalam pengertian Limor Shifman, meme digital merupakan kelompok konten yang memiliki kesamaan bentuk, gagasan, atau pola, lalu dibuat, ditiru, dimodifikasi, dan diedarkan oleh banyak pengguna. Karena itu, sebuah meme tidak berhenti pada satu gambar atau satu unggahan. Ia hidup melalui pengulangan dan perubahan. Ketika pengguna mengambil sebuah gambar, kalimat, nama, atau format tertentu lalu memberinya konteks baru, mereka sekaligus ikut memproduksi makna. Meme dengan demikian merupakan praktik kebudayaan: ruang tempat tanda beredar, berubah, dan diperebutkan. Dalam budaya meme, nama politik pun dapat mengalami perpindahan fungsi. Nama yang semula menunjuk seseorang dapat menjadi pintu masuk menuju penilaian tertentu. Ia membawa jabatan, kekuasaan, sejarah, dan institusi yang melekat pada figur tersebut, tetapi dalam praktik meme semua itu dapat d...
Recent posts

Marx Minum Kopi, Sassen Bertanya: Di Mana Perempuannya?

Percakapan Imajiner tentang Kota, Mobilitas, dan Kehidupan Sehari-hari di Makassar. Percakapan ini adalah eksperimen teoritik imajiner. Ia berangkat dari sebuah tradisi dalam sosiologi yang menggunakan percakapan antarpemikir sebagai cara untuk menguji gagasan. Bukan sekadar mendramatisasi teori. Bukan pula membuat para pemikir yang sudah lama meninggal seolah-olah sedang nongkrong di warkop. Pertanyaannya lebih sederhana, sekaligus lebih sulit: apakah teori-teori klasik masih mampu berbicara satu sama lain ketika berhadapan dengan realitas kota abad ke-21? Kali ini Karl Marx, Émile Durkheim, dan Max Weber kita pertemukan di Makassar. Lalu kita tambahkan Saskia Sassen. Alasannya sederhana. Ketika pembicaraan sampai pada kota, mobilitas, kapital, birokrasi, dan solidaritas, ada sesuatu yang terus menghilang dari percakapan: pengalaman perempuan. Maka kita mulai. Sore, Warkop, dan Tiga Cara Melihat Kota Sore belum terlalu tua. Macet belum benar-benar datang. Di sebuah warkop, Karl...

Politik Antrean: Ketika BBM Mengatur Waktu dan Tubuh Kota

Antrean BBM di SPBU di Makassar, bukan peristiwa satu-dua hari. Jejak waktunya cukup jelas. Sejak awal Agustus, kendaraan sudah mengantre solar, awal September mengantre pertalite dan pertamax. Kendaraan mengular di setiap SPBU. Antrean itu memanjang hingga ratusan meter dan mengganggu arus lalu lintas. Tapi, ada sesuatu yang ganjil dalam pemandangan itu. Seorang kawan menulis begini. B elum pernah terjadi yang seperti ini. Jadi antrean panjang ini sungguh membuat saya tersengal-sengal. Di benak terutama. Saya berusaha memahami, merencanakan perjalanan dengan pertimbangan yang baru.  Ini mempengaruhi hal-hal yang sangat mendasar dalam rumah kami. Jika pakai perasaan, maka rasa ini namanya kelu. Seperti punya pasangan hidup, yang menjual teman seperjanjiannya  ke orang asing. Harga BBM yang dibayar di SPBU bukan hanya uang yang keluar dari dompet. Ada harga lain yang jarang terlihat. Waktu yang hilang. Antrean membuat waktu produktif berubah menjadi waktu tunggu. Dalam situasi ...

Sholawat, Nirvana, dan Reartikulasi Makna di Era Digital

I ni sebuah pertunjukan Orkes Gambus Al-Badar melantunkan Sholatullahi Ma Lahat Kawakib . Biasa disingkat Sholatullahima . Bagi sebagian pendengar, ada sesuatu yang terasa akrab. Petikan gitar dan ketukan drumnya mengingatkan pada The Man Who Sold the World . Lagu yang diciptakan dan dipopulerkan David Bowie, yang kemudian dibawakan Nirvana. Terutama versi yang dikenal melalui MTV Unplugged pada 1993. Telinga pun bekerja Bagi mereka yang mengenal Nirvana, Sholatullahima menghadirkan gema yang familiar. Ada gitar Kurt Cobain. Ada atmosfer Unplugged . Ada ingatan tentang sebuah musik yang pernah menjadi bagian penting dari budaya populer 1990-an. Tetapi cerita ini tidak dimulai di Instagram. Jejaknya jauh lebih panjang. Versi Sholatullahima Al-Badar dengan idiom aransemen yang mengingatkan pada The Man Who Sold the World telah beredar sejak akhir 1990-an hingga awal 2000-an. Ketika itu, budaya grunge dan alternative rock sedang kuat dalam lanskap musik populer. Nirvana menjadi ...

Sirkus Barock sebagai Arsip Hidup

Membaca taktik kebudayaan dari jalanan ke era algoritma Sirkus Barock adalah arsip hidup. Bukan kumpulan dokumen tentang masa lalu. Ia menyimpan pengetahuan tentang bagaimana kebudayaan bekerja: membaca medan, merakit yang tersedia, membangun jejaring, mencari celah, lalu berubah ketika keadaan berubah. Lima puluh tahun Sirkus Barock bukan sekadar usia sebuah kelompok seni. Ia adalah perjalanan melalui berbagai konfigurasi kebudayaan Indonesia: komunitas seni, jalanan, teater, musik, industri rekaman, panggung besar, hingga ruang digital. Di sinilah genealogi Michel Foucault menjadi penting. Genealogi tidak mencari asal-usul yang murni. Ia menelusuri bagaimana sesuatu terbentuk melalui pertemuan praktik, pengetahuan, institusi, kepentingan, dan relasi kuasa. Maka pertanyaannya bukan sekadar: bagaimana Sirkus Barock bertahan selama lima puluh tahun? Tetapi: melalui medan kebudayaan seperti apa ia terus menemukan kemungkinan untuk hadir? Untuk memahami itu, kita perlu kembali ke Indonesi...

Jalanan dalam Algoritma

Jalanan Makassar tidak hanya hadir di aspal. Ia juga hidup di layar.  Kekerasan itu nyata. Penelitian mencatatnya. Polisi berpatroli. Namun begitu kamera menyala, persoalannya bergeser. Satu anak panah. Sekelompok motor. Jalan . Video beberapa detik. Lalu judul: teror geng motor, perang kelompok, jalanan mencekam. Kejadian yang semula berlangsung di satu ruas jalan memperoleh kehidupan kedua di layar. Penelitian Mukti, Oruh, dan Agustang (2021), misalnya, menunjukkan bahwa pemberitaan kekerasan melalui media sosial ikut membentuk citra negatif Kota Makassar. Tetapi pertanyaannya tidak berhenti pada citra. Algoritma tidak menciptakan kekerasan. Kekerasan sudah ada sebelum kamera datang. Yang berubah adalah apa yang terjadi setelahnya—ketika kekerasan masuk ke dalam sirkulasi digital. Stuart Hall mengingatkan bahwa representasi bukan cermin pasif. Makna diproduksi, diedarkan, dan diterima. Di era platform, pertanyaannya bertambah: apa yang dibuat terlihat? Sebuah peristiwa tidak...

Ketika Jejak Lama Menemukan Indonesia Hari Ini

Tan Malaka sedang kembali.  Namanya muncul di layar. Di buku. Di podcast. Di ruang diskusi. Di antara percakapan anak muda tentang Indonesia. Kita dengan mudah bisa menyebutnya kebangkitan popularitas. Saya kira tidak sesederhana itu. Pertanyaan yang lebih penting: bagaimana seorang tokoh yang telah lama mati dapat kembali hadir dalam kehidupan kebudayaan kita? Tan Malaka tidak datang dari masa lalu dengan tubuhnya. Ia datang melalui jejak. Buku. Foto. Arsip. Cerita. Kutipan. Dokumenter. Penerbitan ulang. Jejak itu tidak bergerak sendiri. Ia membutuhkan jaringan: penulis, editor, penerbit, sejarawan, komunitas, kreator digital, media, platform, dan pembaca. Di sanalah masa lalu mulai bergerak. Jejak yang Diaktifkan Tidak semua jejak Tan Malaka bergerak dengan cara yang sama. Madilog memperoleh kehidupan baru melalui ruang digital. Ia dibicarakan sebagai cara berpikir, kritik terhadap logika mistika, dan latihan membaca kenyataan dengan bukti. Di Malaka Project, misalnya, Tan Ma...