Superpippo, dramaturgi, dan panggung politik yang bergeser Tulisan ini merupakan pembacaan ulang atas esai yang saya tulis pada 2014, sewaktu Filippo “Superpippo” Inzaghi saya gunakan untuk membaca kemunculan Joko Widodo dalam politik nasional. Dua belas tahun kemudian, saya kembali kepada tulisan itu bukan untuk memperbaruinya, melainkan untuk melihat apa yang berubah: posisi aktor, panggung politik, batas aturan, dan cara publik membaca pertunjukan kekuasaan. Superpippo dan Garis Offside Inzaghi bukan penyerang yang dikenal karena teknik spektakuler, kecepatan, atau kekuatan fisik. Keistimewaannya terletak pada kemampuan membaca ruang dan waktu. Ia hidup dekat garis offside. Terlalu cepat, ia melanggar. Terlambat sedikit, peluang hilang. Tetapi pada saat yang tepat, ia sudah berada di belakang pertahanan. Di situlah Inzaghi menarik secara dramaturgis. Ia tidak bermain di luar aturan. Ia memahami batas aturan dan bergerak sangat dekat dengannya. Garis offside menjadi ruang kemungkina...
Ketika Nama Presiden dan Wakil Presiden Menjadi Kode Meme Meme (dibaca "mim") bukan sekadar gambar lucu yang beredar di internet. Dalam pengertian Limor Shifman, meme digital merupakan kelompok konten yang memiliki kesamaan bentuk, gagasan, atau pola, lalu dibuat, ditiru, dimodifikasi, dan diedarkan oleh banyak pengguna. Karena itu, sebuah meme tidak berhenti pada satu gambar atau satu unggahan. Ia hidup melalui pengulangan dan perubahan. Ketika pengguna mengambil sebuah gambar, kalimat, nama, atau format tertentu lalu memberinya konteks baru, mereka sekaligus ikut memproduksi makna. Meme dengan demikian merupakan praktik kebudayaan: ruang tempat tanda beredar, berubah, dan diperebutkan. Dalam budaya meme, nama politik pun dapat mengalami perpindahan fungsi. Nama yang semula menunjuk seseorang dapat menjadi pintu masuk menuju penilaian tertentu. Ia membawa jabatan, kekuasaan, sejarah, dan institusi yang melekat pada figur tersebut, tetapi dalam praktik meme semua itu dapat d...