Meme 2023, putusan MK 2026, dan politik ingatan digital Sebuah kekeliruan dapat dikoreksi tanpa benar-benar selesai. Penjelasan resmi bisa meluruskan maksud sebuah ucapan, tetapi tidak otomatis menghapus lelucon yang telanjur dilekatkan padanya. Dalam politik digital, satu peristiwa dapat memiliki dua kehidupan: sebagai persoalan yang perlu dijelaskan dan sebagai bahan humor yang mudah diingat. Kasus Gibran Rakabuming Raka memperlihatkan ketegangan itu. Pada 3 Desember 2023, ketika membicarakan nutrisi ibu hamil, Gibran keliru menyebut asam sulfat, bukan asam folat. Dewan Pakar TKN Prabowo-Gibran memberi klarifikasi. Gibran meminta maaf. Koreksi selesai. Tetapi lelucon tidak. Sebutan "El Sulfat" lahir. Ia menghubungkan satu figur dengan satu peristiwa. Nama itu pendek. Ia mudah diulang. Ia tidak butuh konteks panjang. Dari situ pertanyaan berubah. Bukan lagi soal salah ucap. Tetapi soal bagaimana kesalahan berubah menjadi tanda. Dan siapa yang berhak menentukan maknanya. F...
Membaca Politik Ekologi dari Ritual Raja Tang hingga Konsesi Air di Indonesia BMKG mencatat Rambangaru, Sumba Timur, 262 hari tanpa hujan berturut-turut sepanjang 2019. Angka itu presisi. Tapi 262 hari tanpa hujan bukan otomatis 262 hari penderitaan. Di antara langit kering dan warga kehausan, ada benteng: infrastruktur, modal, cadangan air, akses. Sebagian melewati kemarau dengan sumur bor. Sebagian berjalan lebih jauh. Sebagian kehilangan panen. Sebagian tidak. Angka itu benar. Tapi angka tidak menjelaskan siapa yang menanggung. Kekeringan fisik nyata. Defisit air adalah proses material. Tetapi kategori kekeringan dibentuk lewat sistem pengukuran dan institusi. Dan apakah defisit berubah menjadi bencana — serta siapa paling terdampak — ditentukan kerentanan sosial. Wisner dan kawan-kawan, dalam At Risk, menunjukkan bencana tidak dapat dipahami hanya dari kejadian ekstremnya. Dalam Pressure and Release Model, akar penyebab — sejarah ketimpangan, distribusi tanah, struktur politik ...