Jalanan Makassar tidak hanya hadir di aspal. Ia juga hidup di layar. Kekerasan itu nyata. Penelitian mencatatnya. Polisi berpatroli. Namun begitu kamera menyala, persoalannya bergeser. Satu anak panah. Sekelompok motor. Jalan . Video beberapa detik. Lalu judul: teror geng motor, perang kelompok, jalanan mencekam. Kejadian yang semula berlangsung di satu ruas jalan memperoleh kehidupan kedua di layar. Penelitian Mukti, Oruh, dan Agustang (2021), misalnya, menunjukkan bahwa pemberitaan kekerasan melalui media sosial ikut membentuk citra negatif Kota Makassar. Tetapi pertanyaannya tidak berhenti pada citra. Algoritma tidak menciptakan kekerasan. Kekerasan sudah ada sebelum kamera datang. Yang berubah adalah apa yang terjadi setelahnya—ketika kekerasan masuk ke dalam sirkulasi digital. Stuart Hall mengingatkan bahwa representasi bukan cermin pasif. Makna diproduksi, diedarkan, dan diterima. Di era platform, pertanyaannya bertambah: apa yang dibuat terlihat? Sebuah peristiwa tidak...
Tan Malaka sedang kembali. Namanya muncul di layar. Di buku. Di podcast. Di ruang diskusi. Di antara percakapan anak muda tentang Indonesia. Kita dengan mudah bisa menyebutnya kebangkitan popularitas. Saya kira tidak sesederhana itu. Pertanyaan yang lebih penting: bagaimana seorang tokoh yang telah lama mati dapat kembali hadir dalam kehidupan kebudayaan kita? Tan Malaka tidak datang dari masa lalu dengan tubuhnya. Ia datang melalui jejak. Buku. Foto. Arsip. Cerita. Kutipan. Dokumenter. Penerbitan ulang. Jejak itu tidak bergerak sendiri. Ia membutuhkan jaringan: penulis, editor, penerbit, sejarawan, komunitas, kreator digital, media, platform, dan pembaca. Di sanalah masa lalu mulai bergerak. Jejak yang Diaktifkan Tidak semua jejak Tan Malaka bergerak dengan cara yang sama. Madilog memperoleh kehidupan baru melalui ruang digital. Ia dibicarakan sebagai cara berpikir, kritik terhadap logika mistika, dan latihan membaca kenyataan dengan bukti. Di Malaka Project, misalnya, Tan Ma...