Membaca taktik kebudayaan dari jalanan ke era algoritma Sirkus Barock adalah arsip hidup. Bukan kumpulan dokumen tentang masa lalu. Ia menyimpan pengetahuan tentang bagaimana kebudayaan bekerja: membaca medan, merakit yang tersedia, membangun jejaring, mencari celah, lalu berubah ketika keadaan berubah. Lima puluh tahun Sirkus Barock bukan sekadar usia sebuah kelompok seni. Ia adalah perjalanan melalui berbagai konfigurasi kebudayaan Indonesia: komunitas seni, jalanan, teater, musik, industri rekaman, panggung besar, hingga ruang digital. Di sinilah genealogi Michel Foucault menjadi penting. Genealogi tidak mencari asal-usul yang murni. Ia menelusuri bagaimana sesuatu terbentuk melalui pertemuan praktik, pengetahuan, institusi, kepentingan, dan relasi kuasa. Maka pertanyaannya bukan sekadar: bagaimana Sirkus Barock bertahan selama lima puluh tahun? Tetapi: melalui medan kebudayaan seperti apa ia terus menemukan kemungkinan untuk hadir? Untuk memahami itu, kita perlu kembali ke Indonesi...
Jalanan Makassar tidak hanya hadir di aspal. Ia juga hidup di layar. Kekerasan itu nyata. Penelitian mencatatnya. Polisi berpatroli. Namun begitu kamera menyala, persoalannya bergeser. Satu anak panah. Sekelompok motor. Jalan . Video beberapa detik. Lalu judul: teror geng motor, perang kelompok, jalanan mencekam. Kejadian yang semula berlangsung di satu ruas jalan memperoleh kehidupan kedua di layar. Penelitian Mukti, Oruh, dan Agustang (2021), misalnya, menunjukkan bahwa pemberitaan kekerasan melalui media sosial ikut membentuk citra negatif Kota Makassar. Tetapi pertanyaannya tidak berhenti pada citra. Algoritma tidak menciptakan kekerasan. Kekerasan sudah ada sebelum kamera datang. Yang berubah adalah apa yang terjadi setelahnya—ketika kekerasan masuk ke dalam sirkulasi digital. Stuart Hall mengingatkan bahwa representasi bukan cermin pasif. Makna diproduksi, diedarkan, dan diterima. Di era platform, pertanyaannya bertambah: apa yang dibuat terlihat? Sebuah peristiwa tidak...