Pangan antara Perut dan Pasar Pada 24 Oktober 2008, dalam pidato Hari Pangan Dunia di Markas Besar PBB, Bill Clinton mengatakan bahwa pangan bukanlah komoditas seperti yang lain dan menyerukan kembali pada kebijakan swasembada pertanian. Pernyataan itu lahir dari krisis pangan global yang memperlihatkan rapuhnya sistem pangan internasional. Pangan menopang kehidupan. Namun, ekonomi modern mengaturnya melalui pasar: diproduksi untuk dijual, bergerak dalam rantai komoditas, dihargai, dan dalam kondisi tertentu menjadi objek spekulasi serta akumulasi modal. Akibatnya, perhatian mudah bergeser dari siapa menguasai sumber produksi menuju berapa banyak pangan tersedia dan berapa harganya. Padahal, persoalan pangan bermula jauh sebelum pangan berada di pasar: pada tanah, benih, air, tenaga kerja, teknologi, dan keputusan politik yang menentukan siapa dapat memproduksinya dan untuk kepentingan siapa. Komodifikasi tidak berhenti pada pangan. Ia menjangkau tanah, benih, pengetahuan, bahkan rua...
Bahasa dalam politik bukan dekorasi. Ia adalah alat kerja. Pidato presiden tidak cukup dibaca sebagai pertunjukan retorika. Di dalamnya berlangsung pekerjaan politik: memilih persoalan, menghubungkan berbagai masalah, membentuk posisi subjek, lalu membuat tindakan tertentu tampak masuk akal dan perlu. Dalam esai ini, pidato saya baca sebagai seismograf kekuasaan. Bukan alat yang sekadar merekam getaran sosial, tetapi perangkat yang membuat getaran tertentu terbaca sebagai masalah politik. Pidato menerima kecemasan yang telah beredar dalam masyarakat, mengodekannya melalui bahasa, lalu menghubungkannya dengan aktor, kepentingan, dan kemungkinan tindakan. Sukarno dan Prabowo dibandingkan bukan karena pidato mereka setara secara genre maupun konteks. Keduanya justru berbeda secara fundamental. Sukarno berbicara di Sidang Umum PBB pada 1960, dalam medan dekolonisasi dan Perang Dingin. Prabowo berbicara dalam konteks pemerintahan Indonesia pascareformasi, demokrasi elektoral, dan ekon...