Langsung ke konten utama

Postingan

Mengapa Kopi Mesti Dicuri Kalau Bisa Dibeli?

Dari Tanaman, Pengetahuan, hingga Ruang Publik Pertanyaan ini terdengar retoris, tetapi menyimpan persoalan serius: perbedaan antara memiliki komoditas dan menguasai kemampuan memproduksinya. Mengapa tanaman kopi harus dibawa keluar ketika kopinya sudah bisa dibeli? Pada akhir abad ke-17, Mocha di Yaman merupakan salah satu pusat penting perdagangan kopi. Kopi memang dapat diperoleh sebagai komoditas, tetapi tanaman memiliki nilai yang berbeda. Tanaman dapat ditanam kembali dan produksinya dapat diperluas. Karena itu, yang diperebutkan bukan hanya hasil produksi, melainkan juga kemampuan untuk menghasilkan kembali. Kata “dicuri” di sini perlu dibaca sebagai persoalan analitis, bukan klaim hukum. Sejarah yang terdokumentasi menunjukkan upaya VOC—Vereenigde Oostindische Compagnie—memperoleh tanaman kopi dan membawanya ke wilayah kolonial. Pada 1696, tanaman kopi dari Malabar dikirim ke Batavia, tetapi percobaan pertama gagal. Pada 1699, pengiriman berikutnya berhasil dan budidaya kopi be...
Postingan terbaru

Paradoks Durasi: Short Drama China, Negosiasi Budaya, dan Ekonomi Perhatian

Ada perubahan dalam cara manusia menonton cerita. Bioskop membutuhkan ruang fisik, sementara televisi mengikat penonton pada jadwal. Keduanya bekerja dengan durasi yang relatif tetap. Kini cerita hadir di layar ponsel, dalam potongan-potongan pendek. Satu episode selesai dalam hitungan menit. Jempol bergerak. Layar bergeser. Cerita berlanjut. Short drama China memperlihatkan perubahan itu dengan jelas. Ia bukan sekadar drama yang dipendekkan, melainkan bentuk narasi yang tumbuh bersama perangkat mobile , platform video pendek, dan model ekonomi yang menjadikan perhatian sebagai sesuatu yang dapat diukur. Karena itu, pertanyaannya bukan hanya mengapa orang Indonesia menonton drama China. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang terjadi pada cerita ketika durasi dan perhatian menjadi bagian dari mekanisme produksinya? Dari Durasi ke Platform Sejarah budaya populer tidak bergerak dalam garis lurus. Setiap bentuk media tumbuh dalam konfigurasi teknologi, negara, kapital, regulasi...

Utang, Waktu, dan Kerja yang Tidak Terlihat

Dalam kehidupan sehari-hari, ketika seseorang berutang, kesalahan sering diletakkan pada dirinya. Ia dianggap tidak mampu mengatur uang, tidak disiplin, atau hidup melampaui kemampuan. Cara pandang seperti ini membuat utang tampak sebagai persoalan individual. Padahal, utang tidak muncul di ruang hampa. Ia muncul ketika kebutuhan harus dipenuhi sebelum pendapatan tersedia. Seorang nelayan dapat membutuhkan uang sebelum melaut. Petani membutuhkan biaya sebelum panen. Rumah tangga membutuhkan uang sebelum gaji berikutnya diterima. Dalam situasi seperti ini, utang bukan hanya cara memperoleh uang. Ia juga menjadi cara untuk memindahkan kemampuan memenuhi kebutuhan dari masa depan ke masa kini—dengan kata lain, membeli waktu. Tetapi waktu tersebut kemudian harus dibayar. Utang menciptakan kewajiban yang masuk ke dalam kehidupan sehari-hari. Cicilan harus diingat. Pengeluaran harus diatur ulang. Kebutuhan keluarga harus dinegosiasikan. Bahkan ketika uang pinjaman telah habis digunakan, ke...

Teror Komodifikasi: Membaca Ulang Politik Agraria Indonesia Melalui Lensa Keadilan Pangan

Pangan antara Perut dan Pasar Pada 24 Oktober 2008, dalam pidato Hari Pangan Dunia di Markas Besar PBB, Bill Clinton mengatakan bahwa pangan bukanlah komoditas seperti yang lain dan menyerukan kembali pada kebijakan swasembada pertanian. Pernyataan itu lahir dari krisis pangan global yang memperlihatkan rapuhnya sistem pangan internasional. Pangan menopang kehidupan. Namun, ekonomi modern mengaturnya melalui pasar: diproduksi untuk dijual, bergerak dalam rantai komoditas, dihargai, dan dalam kondisi tertentu menjadi objek spekulasi serta akumulasi modal. Akibatnya, perhatian mudah bergeser dari siapa menguasai sumber produksi menuju berapa banyak pangan tersedia dan berapa harganya. Padahal, persoalan pangan bermula jauh sebelum pangan berada di pasar: pada tanah, benih, air, tenaga kerja, teknologi, dan keputusan politik yang menentukan siapa dapat memproduksinya dan untuk kepentingan siapa. Komodifikasi tidak berhenti pada pangan. Ia menjangkau tanah, benih, pengetahuan, bahkan rua...

Seismograf Kekuasaan: Bahasa, Kecemasan, dan Teknologi Politik Presidensial Indonesia

Bahasa dalam politik bukan dekorasi. Ia adalah alat kerja. Pidato presiden tidak cukup dibaca sebagai pertunjukan retorika. Di dalamnya berlangsung pekerjaan politik: memilih persoalan, menghubungkan berbagai masalah, membentuk posisi subjek, lalu membuat tindakan tertentu tampak masuk akal dan perlu.  Dalam esai ini, pidato saya baca sebagai seismograf kekuasaan. Bukan alat yang sekadar merekam getaran sosial, tetapi perangkat yang membuat getaran tertentu terbaca sebagai masalah politik. Pidato menerima kecemasan yang telah beredar dalam masyarakat, mengodekannya melalui bahasa, lalu menghubungkannya dengan aktor, kepentingan, dan kemungkinan tindakan. Sukarno dan Prabowo dibandingkan bukan karena pidato mereka setara secara genre maupun konteks. Keduanya justru berbeda secara fundamental. Sukarno berbicara di Sidang Umum PBB pada 1960, dalam medan dekolonisasi dan Perang Dingin. Prabowo berbicara dalam konteks pemerintahan Indonesia pascareformasi, demokrasi elektoral, dan ekon...

Lorong Makassar: Ketika Beton Tak Bisa Membaca Warga

Lorong adalah kapiler kota. Pembuluh halus. Mengalirkan darah ke sel-sel paling intim tubuh urban. Di Makassar, dari Ujung Pandang hingga Tamalate, warga bergerak bukan mengikuti garis peta. Mereka mengikuti ritme sosial yang dipupuk puluhan tahun.  Namun perencanaan kota buta. Lorong direduksi menjadi objek teknis. Rabat beton. Paving block. Saluran air. Yang luput: lorong adalah teks budaya. Ruang yang penuh makna. Tempat warga setiap hari membaca dan menulis ulang kota mereka.  B eton sebagai Encoding  Pemerintah membangun rabat beton. Niatnya baik. Sanitasi membaik. Akses lancar. Tetapi di balik beton mengkilap itu tersimpan pesan hegemonik: "Ruang kalian yang lama adalah kekumuhan yang harus diperbaiki."  S tuart Hall dalam Representation: Cultural Representations and Signifying Practices menyebut ini sebagai encoding. Negara menyandikan lorong yang "baik" sebagai lorong yang keras, rata, terstandar. Pesan ini disampaikan melalui bahasa teknis—RAB, spesifikasi ...

Membaca Ulang Hebdige: The Unnatural Break di Indonesia

Dari punk, “anarko”, hingga ojol: ketika gaya, tubuh, dan material sehari-hari mengganggu peta makna Ada saat ketika sebuah benda berhenti menjadi benda biasa. Jaket tidak lagi sekadar jaket. Pakaian hitam tidak lagi sekadar warna pakaian. Motor dan aplikasi tidak lagi hanya alat mencari nafkah. Sesuatu terjadi ketika hubungan antara benda, tubuh, dan makna yang selama ini dianggap biasa tiba-tiba terganggu. Di situlah saya membaca kembali Dick Hebdige dan konsep the unnatural break . D ick Hebdige adalah salah satu pemikir penting dalam tradisi Cultural Studies Inggris. Ia belajar di Centre for Contemporary Cultural Studies (CCCS) di Birmingham, lingkungan intelektual yang juga menjadi tempat berkembangnya kajian tentang budaya populer, kelas, media, dan hegemoni. Buku yang membuat namanya penting dalam studi subkultur, Subculture: The Meaning of Style , terbit pada 1979. Buku itu membaca berbagai subkultur anak muda Inggris pascaperang—dari mods, skinheads, reggae dan Rastafarian h...