Di sawah-sawah Jawa, ledakan wereng cokelat pada 1970-an dan 1980-an menunjukkan bahwa padi bukan sekadar kalkulasi tonase panen. Paket Revolusi Hijau yang disubsidi negara—benih unggul, pupuk, dan pestisida kimia—sempat disanjung sebagai jalan keluar dari krisis pangan. Namun keseragaman itu melumpuhkan ekosistem: penyemprotan pestisida ikut membunuh musuh alami wereng, sehingga hama justru meledak (FAO, n.d.). Pada 1986 pemerintah melarang 57 merek pestisida lewat Inpres Nomor 3 Tahun 1986 dan menjadikan pengendalian hama terpadu strategi nasional. Padi menjadi arena pertarungan cara pandang: pengetahuan ekologis berhadapan dengan ambisi teknokratis. Negara modern kerap menunjukkan kecenderungan serupa. Ilmuwan politik dan antropolog James C. Scott (1998) menyebutnya high modernism : kehendak menyederhanakan lanskap alam dan kebudayaan yang rumit agar mudah diukur, dihitung, dan dikontrol dari pusat. Padi diubah dari simbol kehidupan komunal dan keseimbangan kosmologis menjadi komod...
Pembangunan di Sulawesi Selatan sering dirayakan lewat angka statistik. PDRB melonjak. Beton megaproyek ditanam. Garis pantai diurug. Namun, di balik selebrasi itu, ada krisis yang merayap di tingkat tapak: krisis reproduksi sosial—yakni kegagalan institusi pasar, upah, dan negara dalam menjamin keberlanjutan hidup harian dan antargenerasi. Untuk membaca bagaimana krisis ini dialami oleh warga, kita perlu melangkah keluar dari narasi makro dan masuk ke dalam arena kebudayaan. Kebudayaan, sebagaimana ditegaskan Raymond Williams, bukanlah sekadar seni adiluhung atau wacana pembangunan yang megah. Kebudayaan adalah cara hidup utuh ( a whole way of life ) yang mencakup kebiasaan harian, bahasa sosial, dan cara warga mengorganisasi kelangsungan hidupnya. Dalam konteks Sulawesi Selatan, kebudayaan yang dihidupi itu berada di lorong-lorong, pangkalan bentor, utang warung, hingga strategi dapur warga yang menambal hidup yang terus retak. Desa yang Terbelah Henry Bernstein mengingatkan ...