Langsung ke konten utama

Postingan

Siasat adalah Seni Melawan Kaum Papa

Tulisan ini merupakan catatan lapangan Simpul Belajar Bersama Sulawesi Selatan yang disusun di Makassar pada 22 Januari 2009 dan pertama kali dipublikasikan pada 2010. Data, angka, nama program, kebijakan, dan kondisi sosial-ekonomi yang disebutkan dalam tulisan merujuk pada periode tersebut dan tidak dimaksudkan sebagai gambaran kondisi Sulawesi Selatan saat ini. Tulisan ini dipublikasikan kembali dengan penyuntingan terbatas pada ejaan, struktur kalimat, konsistensi istilah, serta pemeriksaan ulang terhadap sejumlah data dan rujukan yang masih dapat dilacak. Beberapa angka dan klaim dalam naskah asli tidak dapat diverifikasi kembali dari sumber primer yang tersedia. Pada bagian tersebut, redaksi mempertahankan konteksnya sebagai catatan lapangan atau kesaksian informan dan tidak memperlakukannya sebagai data statistik yang telah terverifikasi. Kutipan dari petani dan warga merupakan catatan wawancara pada masa penelitian. Nama desa, dusun, dan informan yang dalam naskah asli disam...
Postingan terbaru

Perebutan Narasi di Balik Tembok Cibinong

Persoalan  di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Cibinong bukan sekadar soal fasilitas yang ditemukan di balik tembok. Persoalan yang lebih mendasar adalah: siapa yang dapat melihat, mencatat, dan menjelaskannya kepada publik? P ertanyaan itu sebenarnya bukan hal baru dalam sejarah penjara di Indonesia. Nusakambangan adalah contoh penting. Pulau ini dipilih pemerintah kolonial bukan hanya karena dapat menampung narapidana. Laut, bukit, dan hutan membuatnya sulit dijangkau dan sulit ditinggalkan. Pada 1905, pemerintah kolonial membangun kamp penjara pertama di sana. Ribuan orang kemudian dikirim ke pulau itu, termasuk narapidana Aceh serta lebih dari dua ribu orang Bugis dan Toraja. Penjara sekaligus menjadi tempat kerja. Tubuh yang dikurung juga menjadi tenaga yang dapat digunakan. Tetapi Nusakambangan tidak hanya dibentuk oleh tembok, laut, dan hutan. Ia juga dibentuk oleh cerita tentang dirinya. Klaas Stutje menunjukkan bagaimana reputasi Nusakambangan dibangun melalui laporan jurn...

Mengapa Kopi Mesti Dicuri Kalau Bisa Dibeli?

Dari Tanaman, Pengetahuan, hingga Ruang Publik Pertanyaan ini terdengar retoris, tetapi menyimpan persoalan serius: perbedaan antara memiliki komoditas dan menguasai kemampuan memproduksinya. Mengapa tanaman kopi harus dibawa keluar ketika kopinya sudah bisa dibeli? Pada akhir abad ke-17, Mocha di Yaman merupakan salah satu pusat penting perdagangan kopi. Kopi memang dapat diperoleh sebagai komoditas, tetapi tanaman memiliki nilai yang berbeda. Tanaman dapat ditanam kembali dan produksinya dapat diperluas. Karena itu, yang diperebutkan bukan hanya hasil produksi, melainkan juga kemampuan untuk menghasilkan kembali. Kata “dicuri” di sini perlu dibaca sebagai persoalan analitis, bukan klaim hukum. Sejarah yang terdokumentasi menunjukkan upaya VOC—Vereenigde Oostindische Compagnie—memperoleh tanaman kopi dan membawanya ke wilayah kolonial. Pada 1696, tanaman kopi dari Malabar dikirim ke Batavia, tetapi percobaan pertama gagal. Pada 1699, pengiriman berikutnya berhasil dan budidaya kopi be...

Paradoks Durasi: Short Drama China, Negosiasi Budaya, dan Ekonomi Perhatian

Ada perubahan dalam cara manusia menonton cerita. Bioskop membutuhkan ruang fisik, sementara televisi mengikat penonton pada jadwal. Keduanya bekerja dengan durasi yang relatif tetap. Kini cerita hadir di layar ponsel, dalam potongan-potongan pendek. Satu episode selesai dalam hitungan menit. Jempol bergerak. Layar bergeser. Cerita berlanjut. Short drama China memperlihatkan perubahan itu dengan jelas. Ia bukan sekadar drama yang dipendekkan, melainkan bentuk narasi yang tumbuh bersama perangkat mobile , platform video pendek, dan model ekonomi yang menjadikan perhatian sebagai sesuatu yang dapat diukur. Karena itu, pertanyaannya bukan hanya mengapa orang Indonesia menonton drama China. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang terjadi pada cerita ketika durasi dan perhatian menjadi bagian dari mekanisme produksinya? Dari Durasi ke Platform Sejarah budaya populer tidak bergerak dalam garis lurus. Setiap bentuk media tumbuh dalam konfigurasi teknologi, negara, kapital, regulasi...

Utang, Waktu, dan Kerja yang Tidak Terlihat

Dalam kehidupan sehari-hari, ketika seseorang berutang, kesalahan sering diletakkan pada dirinya. Ia dianggap tidak mampu mengatur uang, tidak disiplin, atau hidup melampaui kemampuan. Cara pandang seperti ini membuat utang tampak sebagai persoalan individual. Padahal, utang tidak muncul di ruang hampa. Ia muncul ketika kebutuhan harus dipenuhi sebelum pendapatan tersedia. Seorang nelayan dapat membutuhkan uang sebelum melaut. Petani membutuhkan biaya sebelum panen. Rumah tangga membutuhkan uang sebelum gaji berikutnya diterima. Dalam situasi seperti ini, utang bukan hanya cara memperoleh uang. Ia juga menjadi cara untuk memindahkan kemampuan memenuhi kebutuhan dari masa depan ke masa kini—dengan kata lain, membeli waktu. Tetapi waktu tersebut kemudian harus dibayar. Utang menciptakan kewajiban yang masuk ke dalam kehidupan sehari-hari. Cicilan harus diingat. Pengeluaran harus diatur ulang. Kebutuhan keluarga harus dinegosiasikan. Bahkan ketika uang pinjaman telah habis digunakan, ke...

Teror Komodifikasi: Membaca Ulang Politik Agraria Indonesia Melalui Lensa Keadilan Pangan

Pangan antara Perut dan Pasar Pada 24 Oktober 2008, dalam pidato Hari Pangan Dunia di Markas Besar PBB, Bill Clinton mengatakan bahwa pangan bukanlah komoditas seperti yang lain dan menyerukan kembali pada kebijakan swasembada pertanian. Pernyataan itu lahir dari krisis pangan global yang memperlihatkan rapuhnya sistem pangan internasional. Pangan menopang kehidupan. Namun, ekonomi modern mengaturnya melalui pasar:  diproduksi untuk dijual, bergerak dalam rantai komoditas, dihargai, dan dalam kondisi tertentu menjadi objek spekulasi serta akumulasi modal. Akibatnya, perhatian mudah bergeser dari siapa menguasai sumber produksi menuju berapa banyak pangan tersedia dan berapa harganya. Padahal, persoalan pangan bermula jauh sebelum pangan berada di pasar: pada tanah, benih, air, tenaga kerja, teknologi, dan keputusan politik yang menentukan siapa dapat memproduksinya dan untuk kepentingan siapa. Komodifikasi tidak berhenti pada pangan. Ia menjangkau tanah, benih, pengetahuan, bahka...

Seismograf Kekuasaan: Bahasa, Kecemasan, dan Teknologi Politik Presidensial Indonesia

Bahasa dalam politik bukan dekorasi. Ia adalah alat kerja. Pidato presiden tidak cukup dibaca sebagai pertunjukan retorika. Di dalamnya berlangsung pekerjaan politik: memilih persoalan, menghubungkan berbagai masalah, membentuk posisi subjek, lalu membuat tindakan tertentu tampak masuk akal dan perlu.  Dalam esai ini, pidato saya baca sebagai seismograf kekuasaan. Bukan alat yang sekadar merekam getaran sosial, tetapi perangkat yang membuat getaran tertentu terbaca sebagai masalah politik. Pidato menerima kecemasan yang telah beredar dalam masyarakat, mengodekannya melalui bahasa, lalu menghubungkannya dengan aktor, kepentingan, dan kemungkinan tindakan. Sukarno dan Prabowo dibandingkan bukan karena pidato mereka setara secara genre maupun konteks. Keduanya justru berbeda secara fundamental. Sukarno berbicara di Sidang Umum PBB pada 1960, dalam medan dekolonisasi dan Perang Dingin. Prabowo berbicara dalam konteks pemerintahan Indonesia pascareformasi, demokrasi elektoral, dan ekon...