Langsung ke konten utama

Postingan

Privatisasi Risiko dan Erosi Kelas Menengah (2025–2026)

Masyarakat telanjur percaya mitos: kelas menengah selalu aman dan mandiri. Cultural Studies membongkar ilusi ini. Kelas menengah bukan sekadar angka statistik BPS. Mereka adalah medan tempur kultural tempat legitimasi kekuasaan dan impian mobilitas diuji. Menganalisis mereka bukan untuk meratapi nasib. Ini cara membaca bagaimana kebijakan negara dan mekanisme pasar membentuk distribusi risiko yang semakin membebani kehidupan rumah tangga. Ketika keamanan ekonomi kelas menengah tergerus, yang dipertaruhkan bukan hanya daya beli, tapi juga martabat hidup. ​Pemadatan Krisis dan Struktur Perasaan ​Penyusutan ini berlangsung dalam suatu konjungtur. Meminjam Stuart Hall (1988), krisis tidak berdiri sebagai peristiwa ekonomi tunggal, melainkan terbentuk melalui pertemuan kontradiksi ekonomi, politik, kebijakan, dan pengalaman sosial. Data Susenas BPS (Maret) menunjukkan populasi kelas menengah merosot dari 57,33 juta jiwa pada 2019 menjadi 47,85 juta jiwa pada 2024. Sementara itu, perhitun...
Postingan terbaru

Padi, Kuasa, dan Mitos Modernisasi

Di sawah-sawah Jawa, ledakan wereng cokelat pada 1970-an dan 1980-an menunjukkan bahwa padi bukan sekadar kalkulasi tonase panen. Paket Revolusi Hijau yang disubsidi negara—benih unggul, pupuk, dan pestisida kimia—sempat disanjung sebagai jalan keluar dari krisis pangan. Namun keseragaman itu melumpuhkan ekosistem: penyemprotan pestisida ikut membunuh musuh alami wereng, sehingga hama justru meledak (FAO, n.d.). Pada 1986 pemerintah melarang 57 merek pestisida lewat Inpres Nomor 3 Tahun 1986 dan menjadikan pengendalian hama terpadu strategi nasional. Padi menjadi arena pertarungan cara pandang: pengetahuan ekologis berhadapan dengan ambisi teknokratis. Negara modern kerap menunjukkan kecenderungan serupa. Ilmuwan politik dan antropolog James C. Scott (1998) menyebutnya high modernism : kehendak menyederhanakan lanskap alam dan kebudayaan yang rumit agar mudah diukur, dihitung, dan dikontrol dari pusat. Padi diubah dari simbol kehidupan komunal dan keseimbangan kosmologis menjadi komod...

Menambal Hidup di Dua Ruang: Migrasi Sirkuler dan Krisis Reproduksi Sosial di Sulawesi Selatan

Pembangunan di Sulawesi Selatan kerap dirayakan lewat angka: pertumbuhan PDRB, proyek strategis, kawasan industri, dan garis pantai yang diurug menjadi lahan baru. Namun di balik perayaan itu merayap krisis di tingkat tapak, yakni krisis reproduksi sosial. Istilah ini merujuk pada kegagalan pasar, upah, dan negara menjamin keberlanjutan hidup harian maupun antargenerasi: makan, merawat anak, memulihkan tubuh pekerja yang lelah atau sakit, serta mengurus orang tua (Fraser, 2016; Bhattacharya, 2017). Esai ini berargumen bahwa migrasi sirkuler di Sulawesi Selatan perlu dibaca sebagai cara rumah tangga menambal reproduksi sosial yang gagal dipenuhi di satu ruang dengan memanfaatkan ruang lain. Biaya krisis itu tidak lenyap. Ia dipindahkan ke desa, ke pesisir, dan terutama ke tubuh perempuan. Sebagai pembacaan kebudayaan, esai ini bertolak dari tesis Raymond Williams (1989/1958) bahwa kebudayaan itu "biasa": ia adalah cara hidup utuh ( a whole way of life ) yang mencakup kebiasaan...

Demografi, Kerja Informal, dan Kolonialitas Mobilitas Urban

Di podium seminar dan dokumen perencanaan, ledakan penduduk usia kerja dibayangkan sebagai mesin diesel pertumbuhan. Dalam kacamata teknokrasi pembangunan, tubuh manusia adalah akumulasi potensi. Ia dididik, dimobilisasi, dan diarahkan untuk menghasilkan nilai ekonomi. Tetapi apa yang terjadi ketika tubuh melambat dan menua? Bagaimana kita memahami mereka yang bahkan di usia produktif tak pernah mengenyam jaminan kerja? Pertanyaan ini melempar kita keluar dari angka statistik. Kita berhadapan dengan persoalan eksistensial: bagaimana kota modern mengorganisasi kehidupan berdasarkan kategori produktivitas, usia, dan kemampuan fisik. Demografi sebagai Politik Pengakuan Bonus demografi adalah statistik. Ia merujuk pada perubahan struktur umur penduduk yang berpeluang menghasilkan deviden ekonomi. Persoalan muncul ketika kategori demografis dipersempit menjadi ukuran tunggal harga keamanan. Di titik ini, demografi berubah menjadi politik pengakuan. Kita diingatkan pada kecemasan Albert...

Menjerat Genom: Biopiracy, DSI, dan Politik Kebudayaan Pengetahuan Lokal

Glokalisasi kerap dirayakan sebagai panggung hibriditas yang ramah—ruang tempat lokalitas dan tren dunia saling menyapa. Kita melihatnya di etalase toko: racikan herbal tradisional hadir dalam kemasan kosmetik minimalis berlabel "kembali ke alam". Namun di balik narasi elok itu, ada kontestasi kekuasaan yang tidak pernah setara. Asimetri ini bukan anomali, melainkan kondisi struktural yang dilembagakan melalui rezim HKI global di bawah TRIPS/WTO. Pertemuan antara keanekaragaman hayati Selatan Global dan industri multinasional Utara Global jarang berakhir sebagai dialog seimbang. Lebih sering, ia menjelma menjadi biopiracy: pengetahuan komunal dan sumber daya genetik diambil, dipagari, dan dialihkan menjadi komoditas privat. Kasus Shiseido pada pertengahan 1990-an adalah cermin historis yang jernih. Pada 24 Januari 2002, setelah protes publik yang digalang LSM Indonesia, Shiseido membatalkan seluruh permohonan patennya atas ekstrak jamu untuk produk "UV White". Dala...

Pangan, Kekuasaan, dan Dapur

Keragaman, Politik Ukuran, dan Commoning dari Bawah Pangan tak sekadar gizi. Ia juga rezim kebijakan, memori kolektif, dan artikulasi kekuasaan. Esai ini menelusuri bagaimana beras menjadi ukuran kecukupan nasional, pangan lain dipinggirkan, beban sosial-ekologis dibagi timpang, dan warga merebut ruang hidup. Ini bukan romantisasi pangan lokal, melainkan pembacaan atas wacana dan institusi yang menaturalisasi tatanan hegemonik. Kekuasaan yang Membuat Sesuatu Tampak Wajar Kekuasaan tak selalu bekerja melalui paksaan terbuka. Ia membentuk apa yang dianggap wajar ( commonsense ): pangan pokok, makan layak, dan kemajuan. Gramsci membantu menjelaskan bagaimana kewajaran menjadi bagian dari hegemoni melalui persetujuan sosial (Selections from the Prison Notebooks, 1971). Sementara F oucault menambahkan bahwa pengetahuan, institusi, dan praktik sehari-hari turut membentuk perilaku (Ethics: Subjectivity and Truth, 1997).  Namun, warga juga menafsirkan ulang dan melawan dalam kese...

El Sulfat: Kesalahan, Julukan, dan Legitimasi Politik

Meme 2023, putusan MK 2026, dan politik ingatan digital Sebuah kekeliruan dapat dikoreksi tanpa benar-benar selesai. Penjelasan resmi bisa meluruskan maksud sebuah ucapan, tetapi tidak otomatis menghapus lelucon yang telanjur dilekatkan padanya. Dalam politik digital, satu peristiwa dapat memiliki dua kehidupan: sebagai persoalan yang perlu dijelaskan dan sebagai bahan humor yang mudah diingat. ​Kasus Gibran Rakabuming Raka memperlihatkan ketegangan itu. Pada 3 Desember 2023, ketika membicarakan nutrisi ibu hamil, Gibran keliru menyebut asam sulfat, bukan asam folat. Dewan Pakar TKN Prabowo-Gibran memberi klarifikasi. Gibran meminta maaf. Koreksi selesai. Tetapi lelucon tidak. Sebutan "El Sulfat" lahir. Ia menghubungkan satu figur dengan satu peristiwa. Nama itu pendek. Ia mudah diulang. Ia tidak butuh konteks panjang. Dari situ pertanyaan berubah. Bukan lagi soal salah ucap. Tetapi soal bagaimana kesalahan berubah menjadi tanda. Dan siapa yang berhak menentukan maknanya. F...