Langsung ke konten utama

Cara Terbaik Memandang Kebudayaan adalah Hantu

Tubuh, Ruang, Ketakutan, dan Krisis yang Belum Selesai

Beberapa tahun lalu, dalam percakapan melalui WhatsApp, Pak Alwy Rachman, guru saya, mengajukan pertanyaan yang terus mengganggu saya: mengapa hantu-hantu Nusantara terkesan dekil, tidak terurus? Ia juga menyebut hantu sebagai “bisnis kebudayaan”. Ungkapan itu membuat saya berpikir: apa sebenarnya yang diproduksi ketika sebuah masyarakat membuat hantunya?
Kita tidak perlu memulai dari pertanyaan apakah hantu ada atau tidak. Kita dapat melihat bagaimana manusia membuatnya hadir: melalui cerita, tubuh, suara, tempat, gambar, dan ketakutan.
Stuart Hall melihat representasi bukan sekadar cermin kenyataan, melainkan proses produksi makna. Dari sini pertanyaannya berubah: bagaimana sebuah kebudayaan membuat hantu?



Tubuh yang Menjadi Hantu
Ketakutan tidak selalu mempunyai tubuh. Ia bisa berupa kehilangan, penyakit, kematian, ancaman, atau sesuatu yang tidak dapat dijelaskan. Kebudayaan memberinya bentuk. Salah satunya adalah hantu.
Kuntilanak di Pontianak memperlihatkan bahwa tubuh hantu dapat berhubungan dengan ruang dan modernitas. Timo Duile mencatat narasi tentang Kuntilanak yang diusir dari pertemuan Sungai Kapuas dan Landak sebelum Pontianak dibangun. Dalam pembacaannya, narasi tersebut berkaitan dengan cara modernitas Melayu-Islam mengonseptualisasikan alam.
Kuyang memperlihatkan lapisan lain. Dalam penelitian Suprianto, Kurniawan, dan Riyani, Kuyang dikonstruksikan sebagai sosok perempuan dan dikaitkan dengan identitas serta tempat di Kalimantan. Cerita para informan bahkan tidak seragam mengenai keberadaannya.
Poppo memberi petunjuk lain. Dalam penelitian mengenai persepsi masyarakat Bugis-Makassar terhadap makhluk halus, seorang informan dari Tonasa menceritakan Poppo yang muncul tengah malam dan menyebut bayi sebagai salah satu sasarannya. Suara “Poppo” juga menjadi tanda kehadiran. Di sini ketakutan tidak hanya diberi tubuh. Ia diberi suara.
Maka pertanyaannya bukan sekadar mengapa kita takut kepada hantu, tetapi: tubuh macam apa yang dipilih untuk membawa ketakutan? Mengapa pada cerita tertentu tubuh perempuan? Mengapa pada cerita lain tubuh bayi, orang sakit, atau orang mati? Jawabannya tidak boleh diasumsikan. Ia harus dicari dalam cerita dan konteksnya.
Hantu dan Ruang
Hantu tidak hanya mempunyai tubuh. Ia mempunyai alamat.
Sungai. Rumah. Jalan. Pohon. Kuburan. Bangunan tua. Sebuah tempat dapat memperoleh makna baru ketika cerita tentang hantu melekat padanya.
Kasus Kuntilanak menunjukkan bahwa ruang bukan sekadar latar. Ia menjadi bagian dari cerita. Kuyang juga memperlihatkan hubungan antara hantu, identitas, dan tempat.
Namun kita tidak boleh buru-buru mengatakan bahwa cerita hantu selalu mengubah perilaku ruang. Itu harus dibuktikan. Yang dapat kita lihat lebih dahulu adalah kemungkinan bahwa cerita membuat sebuah tempat dibaca secara berbeda.
Sebuah jalan mungkin menjadi jalan yang dihindari malam hari. Rumah kosong dapat memperoleh reputasi. Sungai dapat menjadi ruang yang tidak lagi netral.
Hantu, dengan demikian, ikut membuat tempat menjadi tempat tertentu.
Ketika Hantu Menjadi Praktik
Cerita dapat berubah menjadi tindakan.
Penelitian tentang Kolor Ijo di Jakarta menunjukkan bagaimana ketakutan pada 2003–2005 dibentuk dan diedarkan melalui memori sosial, gosip, media massa, televisi, dan sinetron. Ketakutan itu kemudian hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Lampor memperlihatkan situasi berbeda. Pada masa pandemi COVID-19 di Malang, legenda Lampor kembali beredar melalui media sosial dan berkelindan dengan persepsi tentang kematian serta ingatan terhadap wabah. Penelitian tersebut mencatat pengaruh ketakutan terhadap mobilitas malam hari.
Di sini hantu menjadi pengetahuan sosial. Ia memberi tanda tentang apa yang dianggap berbahaya, kapan tubuh harus berhati-hati, dan tempat mana yang sebaiknya dihindari.
Tetapi tidak semua orang menerima cerita dengan cara yang sama. Ada yang percaya. Ada yang ragu. Ada yang menertawakan. Ada yang meneruskannya. Makna tidak pernah berhenti pada saat sebuah cerita dibuat.
Kapan Ketidakpastian Menjadi Hantu?
Krisis tidak otomatis menghasilkan hantu. Tidak setiap hantu pula dapat dijelaskan sebagai akibat krisis.
Tetapi ketika kematian, penyakit, kehilangan rasa aman, perubahan ruang, atau ketidakpastian membutuhkan bentuk yang dapat dikenali, kebudayaan dapat menyediakan tubuh untuk menampungnya.
Lalu hantu berpindah lagi. Dari mulut ke telinga. Dari cerita ke televisi. Dari televisi ke kamera telepon. Dari kamera ke platform digital. Di sana ia dapat dipotong, direkam ulang, dikomentari, dipercaya, diragukan, lalu diedarkan kembali.
Mungkin karena itu pertanyaan tentang hantu tidak pernah selesai pada “ada atau tidak ada”.
Pertanyaan yang lebih menarik adalah: kapan sebuah ketidakpastian menjadi hantu?
Dan kembali pada pertanyaan Pak Alwy: mengapa hantu kita sering tampak dekil, tidak terurus?
Mungkin “dekil” bukan sifat hantu. Ia adalah tanda yang kita berikan kepada tubuh tertentu. Siapa yang menentukan tubuh seperti apa yang dianggap kotor, rusak, tidak pantas, atau tidak lagi berada dalam keadaan normal?
Di situlah hantu menjadi menarik bagi kajian budaya. Ia memperlihatkan bagaimana sesuatu yang tidak terlihat diberi tubuh, ditempatkan dalam ruang, dijadikan cerita, diedarkan sebagai tanda, lalu mungkin mengubah cara manusia hidup.
Cara terbaik memandang kebudayaan adalah hantu, mungkin karena hantu memperlihatkan apa yang sedang kita lakukan ketika kita berusaha memberi bentuk kepada sesuatu yang sebenarnya tidak dapat kita lihat.

Rujukan

Hall, Stuart (ed.). 1997. Representation: Cultural Representations and Signifying Practices. London: SAGE Publications.
Duile, Timo. 2020. “Kuntilanak: Ghost Narratives and Malay Modernity in Pontianak, Indonesia.” Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, 176(2–3), 279–303. DOI: 10.1163/22134379-17601001.
Mundzir, Chaerul, Annisa Chaerul Umari, Helpina, Ayu Kaswangi, & Rendi Renaldi. 2021. “Persepsi Masyarakat Bugis Makassar terhadap Keberadaan Makhluk Halus.” Al-Hikmah, 23(1), 81–91. DOI: 10.24252/al-hikmah.v23i1.21724.
Garadian, Endi Aulia & Syarif Hidayatullah. 2022. “Urban Legend Kolor Ijo: Konstruksi Ketakutan di Jakarta, 2003–2005.” Socio Historica: Journal of Islamic Social History, 1(1). DOI: 10.15408/sh.v1i1.26450.
Solekhah, Nuzul & Syaiful Anam. 2021. “Isu Lampor: Persepsi Kematian dan Kebangkitan Legenda Urban di Masa Pandemi COVID-19.” Dalam Seminar Internasional Literasi Sejarah Kebencanaan 2021.

Postingan populer dari blog ini

Politik Antrean: Ketika BBM Mengatur Waktu dan Tubuh Kota

Antrean BBM di SPBU di Makassar, bukan peristiwa satu-dua hari. Jejak waktunya cukup jelas. Sejak awal Agustus, kendaraan sudah mengantre solar, awal September mengantre pertalite dan pertamax. Kendaraan mengular di setiap SPBU. Antrean itu memanjang hingga ratusan meter dan mengganggu arus lalu lintas. Tapi, ada sesuatu yang ganjil dalam pemandangan itu. Seorang kawan menulis begini. B elum pernah terjadi yang seperti ini. Jadi antrean panjang ini sungguh membuat saya tersengal-sengal. Di benak terutama. Saya berusaha memahami, merencanakan perjalanan dengan pertimbangan yang baru.  Ini mempengaruhi hal-hal yang sangat mendasar dalam rumah kami. Jika pakai perasaan, maka rasa ini namanya kelu. Seperti punya pasangan hidup, yang menjual teman seperjanjiannya  ke orang asing. Harga BBM yang dibayar di SPBU bukan hanya uang yang keluar dari dompet. Ada harga lain yang jarang terlihat. Waktu yang hilang. Antrean membuat waktu produktif berubah menjadi waktu tunggu. Dalam situasi ...

Nasionalisme, Konsumen

APA yang membuat seorang konsumen menjatuhkan pilihan untuk membeli suatu barang. Jawabannya mudah ditebak. Beberapa diantaranya, harga dapat dijangkau, ketersediaan barang, kebaruan.  Pekan akhir September lalu, sekaitan dengan preferensi konsumen, saya terlibat dalam sebuah diskusi. Saya rasa diskusi tersebut seperti mengajak kita kembali pada sebuah masa, 41 tahun silam. Sewaktu sekelompok ibu rumah tangga, di Jakarta, bersuara atas nama kecintaan pada produk dalam negeri. Para ibu ini, pada tahun itu pula, kemudian menginisiasi kekuatan, mendirikan sebuah organisasi konsumen yang pertama di negeri ini. Peristiwa yang sungguh menarik hati, mengingat rezim kala itu sibuk menjinakan atau memberangus peran progresif perempuan. Barangkali suasana diskusi waktu itu, saya tiba-tiba larut memperhatikan konteks waktu saat itu, tahun 1973. Satu tahun sebelum sebuah kerusuhan meledak. Sentimen negatif merebak dimana-mana terhadap kapitalis internasional. Asap hitam membumbung di langit ...

Dialektika Tubuh, Algoritma, dan Ruang Jalanan

Makassar tidak berhenti minum kopi. Yang berubah adalah cara kopi hadir di dalam kota. Rumah kopi pernah menjadi tempat untuk tinggal berlama-lama. Meja marmer, kursi, percakapan panjang, dan waktu yang tidak selalu harus produktif. Kemudian muncul coffee shop modern dengan sofa, Wi-Fi, meja kerja, dan colokan listrik. Kini, kedai kopi semakin banyak hadir dalam bentuk booth, kontainer, atau gerai takeaway: pesan, bayar, ambil, lalu pergi. Perubahan ini bukan sekadar evolusi bisnis kopi. Ia memperlihatkan perubahan hubungan antara tubuh, waktu, benda, dan ruang. Ruang yang Mengondisikan Tubuh Setiap ruang mengorganisasikan kemungkinan yang berbeda. Rumah kopi memberi tubuh alasan untuk menetap. Coffee shop modern memungkinkan tubuh tinggal sambil bekerja dan tetap terhubung dengan jaringan digital. Kedai takeaway, sebaliknya, mengondisikan tubuh untuk bergerak. Ruang dipadatkan, kursi dikurangi, transaksi dipercepat. Namun ruang tidak pernah sepenuhnya menentukan apa yang dilakukan man...

Postkolonialisme Fesyen

Agustus, 1945. Kemerdekaan Indonesia diproklamasikan. Namun, dekolonisasi berhenti di depan pintu kamar kita. Lebih tepat lagi, di lemari pakaian. Ini bukan kalimat hiperbola. Ini realitas material. Data Textile Exchange (2025) mencatat 69% serat tekstil global adalah sintetis. Mayoritas adalah poliester. Plastik dari minyak bumi. Sekitar 88% di antaranya adalah virgin polyester. Ia diperas langsung dari fosil. Siapa penguasanya? ExxonMobil, SABIC, Sinopec. Raksasa yang sama. Gurita yang berabad-abad mengeruk kekayaan di belahan bumi Selatan (Global Selatan) Kolonialisme tidak mati. Ia hanya berganti wujud. Inilah postcolonialism fashion. Sebuah kajian budaya (Cultural Studies) tentang kelanjutan logika kolonial. Eksploitasi, ekstraksi, dan pembuangan. Sistem ini bekerja tanpa moncong senjata atau kuasa gubernur jenderal kolonial. Ia mendikte melalui label harga dan rantai pasok global.  Dibilang Edward Said dalam Orientalism (1978), Barat mengonstruksi "Timur" sebagai ruang ...

Makassar yang Terlihat, Makassar yang Tidak Terlihat

Kota tidak pernah hanya apa yang tampak. Makassar dapat dilihat dari jalan. Tetapi ia juga dirasakan oleh tubuh. Panas aspal. Bau makanan. Debu. Suara kendaraan. Berat gerobak. Sempitnya trotoar. Tegangan ketika aparat datang. Semua itu adalah kota. Namun ketika kota masuk ke dalam ekosistem digital, pengalaman tersebut mengalami perubahan. I a dipotret. Direkam. Diberi keterangan. Diunggah. Dikomentari. Dikategorikan. Kemudian beredar melalui media dan platform.  Kota yang dialami berubah menjadi kota yang terlihat. Pertanyaannya kemudian sederhana: M akassar yang mana yang terlihat? Pertanyaan ini menjadi penting karena melihat bukan tindakan yang netral. Apa yang terlihat selalu melalui suatu posisi. Melalui kamera. Melalui kategori. Melalui institusi. Melalui media. Melalui algoritma. James C. Scott menunjukkan bagaimana negara modern berusaha membuat masyarakat dan ruang menjadi legible —terbaca melalui kategori, ukuran, peta, sensus, dan berbagai bentuk penyederhanaan admi...