Langsung ke konten utama

Di Garis Offside

Superpippo, dramaturgi, dan panggung politik yang bergeser

Tulisan ini merupakan pembacaan ulang atas esai yang saya tulis pada 2014, sewaktu Filippo “Superpippo” Inzaghi saya gunakan untuk membaca kemunculan Joko Widodo dalam politik nasional. Dua belas tahun kemudian, saya kembali kepada tulisan itu bukan untuk memperbaruinya, melainkan untuk melihat apa yang berubah: posisi aktor, panggung politik, batas aturan, dan cara publik membaca pertunjukan kekuasaan.



Superpippo dan Garis Offside
Inzaghi bukan penyerang yang dikenal karena teknik spektakuler, kecepatan, atau kekuatan fisik. Keistimewaannya terletak pada kemampuan membaca ruang dan waktu. Ia hidup dekat garis offside. Terlalu cepat, ia melanggar. Terlambat sedikit, peluang hilang. Tetapi pada saat yang tepat, ia sudah berada di belakang pertahanan.
Di situlah Inzaghi menarik secara dramaturgis. Ia tidak bermain di luar aturan. Ia memahami batas aturan dan bergerak sangat dekat dengannya. Garis offside menjadi ruang kemungkinan.
Dalam perspektif Erving Goffman, kehidupan sosial juga berlangsung melalui panggung, aktor, penonton, aturan penampilan, dan pengelolaan kesan. Dramaturgi karena itu bukan hanya soal bagaimana seseorang tampil, tetapi juga bagaimana ia membaca situasi tempat penampilan berlangsung.

Dari Aktor ke Pusat Panggung
Pada 2014, Jokowi menarik perhatian antara lain melalui citra kesederhanaan, kedekatan dengan warga, dan pengalaman pemerintahan daerah. Ia bukan orang yang berada di luar politik, tetapi relatif berada di luar pusat kekuasaan nasional. Posisi itu menjadi bagian dari representasi politiknya.
Setelah menjadi presiden, posisinya berubah. Aktor yang sebelumnya tampil sebagai alternatif masuk ke pusat panggung dan berhadapan dengan institusi, partai, koalisi, hukum, media, dan berbagai kepentingan politik.
Prabowo memperlihatkan jalur yang berbeda. Ia memasuki politik nasional dengan pengalaman militer dan membangun kendaraan politiknya sendiri. Setelah menjadi pesaing Jokowi pada 2014 dan 2019, ia masuk ke pemerintahan sebagai Menteri Pertahanan dan kemudian terpilih sebagai presiden pada 2024. Dua perjalanan ini menunjukkan bahwa panggung politik tidak memiliki posisi yang permanen. Aktor dapat berpindah. Relasi dan koalisi dapat berubah.

Ketika Garis Dapat Berubah
Dalam sepak bola, garis merupakan bagian dari aturan. Dalam politik, batas dapat berupa konstitusi, hukum, prosedur kelembagaan, norma, dan kebiasaan politik.
Perubahan aturan tidak otomatis berarti penyimpangan. Demokrasi menyediakan mekanisme untuk mengubah aturan. Yang penting adalah bagaimana perubahan dilakukan: melalui prosedur yang sah, transparan, dapat dipertanggungjawabkan, dan tetap terbuka terhadap pengawasan.
Persoalannya muncul ketika sesuatu yang semula dianggap tidak lazim terus diulang hingga menjadi biasa. Normalisasi bekerja melalui pengulangan. Yang awalnya diperdebatkan perlahan kehilangan daya kejutnya.
Karena itu, pertanyaan politik bukan hanya siapa yang berada di atas panggung. Kita perlu melihat siapa yang menentukan batas, siapa yang menafsirkannya, siapa yang mengawasinya, dan bagaimana publik dapat mempersoalkan perubahan tersebut.

Penonton yang Ikut Bermain
Panggung politik hari ini juga berbeda dari 2014. Media sosial membuat penonton tidak lagi sekadar penonton. Mereka merekam, memotong, menyebarkan, mengomentari, dan memproduksi kembali pertunjukan politik.
Sebuah citra tidak sepenuhnya berada dalam kendali aktornya. Publik dapat menerima, menolak, mengubah, bahkan membalikkan makna sebuah penampilan. Algoritma ikut menentukan apa yang terlihat dan apa yang tenggelam.
Di sini politik menjadi praktik kebudayaan. Kekuasaan tidak hanya bekerja melalui keputusan formal, tetapi juga melalui citra, bahasa, pengulangan, kebiasaan, dan produksi makna.

Kembali kepada Superpippo
Pada akhirnya kita kembali kepada Inzaghi. Ia mengajarkan bahwa permainan dapat ditentukan oleh kemampuan membaca ruang yang sangat sempit. Dalam politik, ruang itu berada di antara aturan dan interpretasi, kewenangan dan batas, penampilan dan tindakan.
“Pemegang peluit” bukan satu orang. Dalam demokrasi, kewenangan tersebar di antara konstitusi, lembaga negara, hukum, media, masyarakat sipil, dan warga negara. Yang penting bukan hanya siapa meniup peluit, tetapi siapa yang dapat mengawasi dan mempertanyakan keputusan tersebut.
Mungkin itu yang luput dari tulisan saya pada 2014. Saat itu saya lebih tertarik pada aktor yang masuk ke panggung. Kini saya lebih tertarik pada panggung itu sendiri: siapa yang mengaturnya, bagaimana batasnya berubah, dan bagaimana perubahan tersebut dinormalisasi.
Rumah Jejak bukan tempat untuk mengulang masa lalu. Ia adalah tempat untuk membaca kembali jejak dari hari ini.
Ketika garis mulai bergeser, apakah kita masih mampu melihatnya?


Postingan populer dari blog ini

Nasionalisme, Konsumen

APA yang membuat seorang konsumen menjatuhkan pilihan untuk membeli suatu barang. Jawabannya mudah ditebak. Beberapa diantaranya, harga dapat dijangkau, ketersediaan barang, kebaruan.  Pekan akhir September lalu, sekaitan dengan preferensi konsumen, saya terlibat dalam sebuah diskusi. Saya rasa diskusi tersebut seperti mengajak kita kembali pada sebuah masa, 41 tahun silam. Sewaktu sekelompok ibu rumah tangga, di Jakarta, bersuara atas nama kecintaan pada produk dalam negeri. Para ibu ini, pada tahun itu pula, kemudian menginisiasi kekuatan, mendirikan sebuah organisasi konsumen yang pertama di negeri ini. Peristiwa yang sungguh menarik hati, mengingat rezim kala itu sibuk menjinakan atau memberangus peran progresif perempuan. Barangkali suasana diskusi waktu itu, saya tiba-tiba larut memperhatikan konteks waktu saat itu, tahun 1973. Satu tahun sebelum sebuah kerusuhan meledak. Sentimen negatif merebak dimana-mana terhadap kapitalis internasional. Asap hitam membumbung di langit ...

Politik Antrean: Ketika BBM Mengatur Waktu dan Tubuh Kota

Antrean BBM di SPBU di Makassar, bukan peristiwa satu-dua hari. Jejak waktunya cukup jelas. Sejak awal Agustus, kendaraan sudah mengantre solar, awal September mengantre pertalite dan pertamax. Kendaraan mengular di setiap SPBU. Antrean itu memanjang hingga ratusan meter dan mengganggu arus lalu lintas. Tapi, ada sesuatu yang ganjil dalam pemandangan itu. Seorang kawan menulis begini. B elum pernah terjadi yang seperti ini. Jadi antrean panjang ini sungguh membuat saya tersengal-sengal. Di benak terutama. Saya berusaha memahami, merencanakan perjalanan dengan pertimbangan yang baru.  Ini mempengaruhi hal-hal yang sangat mendasar dalam rumah kami. Jika pakai perasaan, maka rasa ini namanya kelu. Seperti punya pasangan hidup, yang menjual teman seperjanjiannya  ke orang asing. Harga BBM yang dibayar di SPBU bukan hanya uang yang keluar dari dompet. Ada harga lain yang jarang terlihat. Waktu yang hilang. Antrean membuat waktu produktif berubah menjadi waktu tunggu. Dalam situasi ...

Dialektika Tubuh, Algoritma, dan Ruang Jalanan

Makassar tidak berhenti minum kopi. Yang berubah adalah cara kopi hadir di dalam kota. Rumah kopi pernah menjadi tempat untuk tinggal berlama-lama. Meja marmer, kursi, percakapan panjang, dan waktu yang tidak selalu harus produktif. Kemudian muncul coffee shop modern dengan sofa, Wi-Fi, meja kerja, dan colokan listrik. Kini, kedai kopi semakin banyak hadir dalam bentuk booth, kontainer, atau gerai takeaway: pesan, bayar, ambil, lalu pergi. Perubahan ini bukan sekadar evolusi bisnis kopi. Ia memperlihatkan perubahan hubungan antara tubuh, waktu, benda, dan ruang. Ruang yang Mengondisikan Tubuh Setiap ruang mengorganisasikan kemungkinan yang berbeda. Rumah kopi memberi tubuh alasan untuk menetap. Coffee shop modern memungkinkan tubuh tinggal sambil bekerja dan tetap terhubung dengan jaringan digital. Kedai takeaway, sebaliknya, mengondisikan tubuh untuk bergerak. Ruang dipadatkan, kursi dikurangi, transaksi dipercepat. Namun ruang tidak pernah sepenuhnya menentukan apa yang dilakukan man...

Postkolonialisme Fesyen

Agustus, 1945. Kemerdekaan Indonesia diproklamasikan. Namun, dekolonisasi berhenti di depan pintu kamar kita. Lebih tepat lagi, di lemari pakaian. Ini bukan kalimat hiperbola. Ini realitas material. Data Textile Exchange (2025) mencatat 69% serat tekstil global adalah sintetis. Mayoritas adalah poliester. Plastik dari minyak bumi. Sekitar 88% di antaranya adalah virgin polyester. Ia diperas langsung dari fosil. Siapa penguasanya? ExxonMobil, SABIC, Sinopec. Raksasa yang sama. Gurita yang berabad-abad mengeruk kekayaan di belahan bumi Selatan (Global Selatan) Kolonialisme tidak mati. Ia hanya berganti wujud. Inilah postcolonialism fashion. Sebuah kajian budaya (Cultural Studies) tentang kelanjutan logika kolonial. Eksploitasi, ekstraksi, dan pembuangan. Sistem ini bekerja tanpa moncong senjata atau kuasa gubernur jenderal kolonial. Ia mendikte melalui label harga dan rantai pasok global.  Dibilang Edward Said dalam Orientalism (1978), Barat mengonstruksi "Timur" sebagai ruang ...

Makassar yang Terlihat, Makassar yang Tidak Terlihat

Kota tidak pernah hanya apa yang tampak. Makassar dapat dilihat dari jalan. Tetapi ia juga dirasakan oleh tubuh. Panas aspal. Bau makanan. Debu. Suara kendaraan. Berat gerobak. Sempitnya trotoar. Tegangan ketika aparat datang. Semua itu adalah kota. Namun ketika kota masuk ke dalam ekosistem digital, pengalaman tersebut mengalami perubahan. I a dipotret. Direkam. Diberi keterangan. Diunggah. Dikomentari. Dikategorikan. Kemudian beredar melalui media dan platform.  Kota yang dialami berubah menjadi kota yang terlihat. Pertanyaannya kemudian sederhana: M akassar yang mana yang terlihat? Pertanyaan ini menjadi penting karena melihat bukan tindakan yang netral. Apa yang terlihat selalu melalui suatu posisi. Melalui kamera. Melalui kategori. Melalui institusi. Melalui media. Melalui algoritma. James C. Scott menunjukkan bagaimana negara modern berusaha membuat masyarakat dan ruang menjadi legible —terbaca melalui kategori, ukuran, peta, sensus, dan berbagai bentuk penyederhanaan admi...