Skip to main content

Marx Minum Kopi, Sassen Bertanya: Di Mana Perempuannya?

Percakapan Imajiner tentang Kota, Mobilitas, dan Kehidupan Sehari-hari di Makassar.
Percakapan ini adalah eksperimen teoritik imajiner. Ia berangkat dari sebuah tradisi dalam sosiologi yang menggunakan percakapan antarpemikir sebagai cara untuk menguji gagasan. Bukan sekadar mendramatisasi teori. Bukan pula membuat para pemikir yang sudah lama meninggal seolah-olah sedang nongkrong di warkop.
Pertanyaannya lebih sederhana, sekaligus lebih sulit: apakah teori-teori klasik masih mampu berbicara satu sama lain ketika berhadapan dengan realitas kota abad ke-21?



Kali ini Karl Marx, Émile Durkheim, dan Max Weber kita pertemukan di Makassar. Lalu kita tambahkan Saskia Sassen.
Alasannya sederhana. Ketika pembicaraan sampai pada kota, mobilitas, kapital, birokrasi, dan solidaritas, ada sesuatu yang terus menghilang dari percakapan: pengalaman perempuan.
Maka kita mulai.

Sore, Warkop, dan Tiga Cara Melihat Kota
Sore belum terlalu tua. Macet belum benar-benar datang.
Di sebuah warkop, Karl Marx, Émile Durkheim, dan Max Weber duduk menghadap jalan. Di atas meja ada pisang epe, ada kopi hitam, ada saraba, dan beberapa lembar kertas yang sejak tadi tidak disentuh.
Mereka sedang membicarakan kota.
Marx menunjuk kendaraan yang lalu-lalang.
“Lihat. Kota bergerak karena sirkulasi.”
Durkheim menggeleng.
“Tidak sesederhana itu. Kota bergerak karena pembagian kerja.”
Weber menyeruput kopi.
“Kalian berdua terlalu cepat. Kota modern bergerak karena organisasi yang rasional.”
Marx menatap Weber.
“Rasional?”
“Ya.”
“Kalau begitu, mengapa semua orang di jalan ini terlihat tidak rasional?”
Weber melihat keluar.
Sebuah motor memotong jalur.
Pete-pete berhenti mendadak.
Sebuah mobil membunyikan klakson panjang.
Weber menghela napas.
“Contoh itu tidak membantu.”
Durkheim tertawa.
Pintu warkop terbuka.
Seorang perempuan masuk membawa tas jinjing penuh berkas. Ia melihat ke sekeliling, lalu menuju meja mereka.
“Sassen?”
Marx berdiri.
“Saskia Sassen?”
“Betul.”
Ia duduk.
“Pesan kopi Toraja. Kurang gula.”
Pelayan mengangguk.
Sassen membuka tasnya.
“Saya dengar kalian sedang membicarakan kota.”
Marx menjawab cepat.
“Kota sebagai ruang produksi dan sirkulasi kapital.”
Durkheim menyusul.
“Kota sebagai pembagian kerja yang menghasilkan bentuk solidaritas baru.”
Weber mengangkat telunjuk.
“Kota sebagai ruang rasionalisasi.”
Sassen mengangguk.
“Bagus.”
Ia menyeruput kopi yang baru datang.
“Tapi di mana perempuannya?”
Marx berhenti.
Durkheim mengerutkan dahi.
Weber melihat catatannya.

Siapa yang Membuat Kota Bergerak?
“Perempuan?” tanya Marx.
“Ya. Kalian bicara tentang kota seolah-olah semua orang di dalamnya bergerak dengan cara yang sama.”
Marx menunjuk jalan.
“Semua orang terlibat dalam sirkulasi kapital.”
“Benar.”
“Lalu?”
“Siapa yang mengantar anak sekolah?”
Marx diam.
“Siapa yang belanja kebutuhan rumah?”
Durkheim mulai mengerti.
“Siapa yang menemani orang tua ke puskesmas?”
Weber menambahkan, “Itu aktivitas mobilitas.”
“Bukan sekadar mobilitas,” kata Sassen. “Itu rangkaian perjalanan yang saling berhubungan.”
Ia mengambil kertas.
“Rumah. Sekolah. Pasar. Tempat kerja. Puskesmas. Rumah lagi.”
Ia membuat beberapa titik.
“Perempuan sering melakukan semuanya dalam satu rangkaian.”
Weber melihat kertas itu.
Trip-chaining.”
“Ya.”
“Jadi masalahnya adalah desain sistem transportasi?”
“Sebagiannya.”
“Sebagiannya?”
“Karena kalau kita hanya mengubah rute transportasi, tetapi tetap menganggap mobilitas sebagai perjalanan lurus dari rumah ke tempat kerja, kita belum mengubah cara melihat kota.”
Marx menyandarkan tubuh.
“Bukankah semua itu pada akhirnya menopang reproduksi tenaga kerja?”
Sassen menoleh.
“Nah. Ini Marx.”
“Kenapa?”
“Kamu selalu berhasil membawa semuanya kembali kepada kapital.”
“Karena kapital memang ada di sana.”
“Saya tidak bilang tidak ada.”
Sassen menyesap kopi.
“Tapi kalau kamu mengatakan perempuan mengantar anak karena kapital membutuhkan reproduksi tenaga kerja, kamu sudah menjelaskan sesuatu. Namun belum semuanya.”
Marx mengangkat alis.
“Apa yang belum dijelaskan?”
“Pengalaman hidup.”

Reproduksi Tidak Hanya Soal Kapital

“Pengalaman?”
“Ya. Seorang perempuan bisa bekerja karena kebutuhan ekonomi, merawat anak karena tanggung jawab keluarga, berdagang karena tidak punya akses ke pekerjaan formal, dan menggunakan jaringan tetangga karena negara tidak menyediakan layanan yang memadai.”
Marx tersenyum.
“Jadi struktur ekonomi bertemu kehidupan sehari-hari.”
“Persis.”
Durkheim tiba-tiba ikut bicara.
“Jaringan tetangga itu penting. Itu bentuk solidaritas.”
Sassen menoleh.
“Benar.”
Durkheim tersenyum.
“Saya kira kali ini Anda setuju dengan saya.”
“Saya setuju. Tapi jangan terlalu cepat senang.”
Durkheim kembali serius.
“Kenapa?”
“Karena solidaritas tidak selalu berarti kesetaraan.”
Durkheim terdiam.
“Arisan, titip anak, pinjam uang, saling membantu ketika sakit. Semua itu bisa menjadi jaringan solidaritas. Tetapi kita juga harus bertanya: siapa yang melakukan kerja untuk mempertahankan jaringan itu?”
Durkheim melihat ke luar.
“Perempuan.”
“Sering kali.”
“Jadi solidaritas memiliki biaya?”
“Ya.”
Durkheim mengangguk pelan.
“Itu menarik.”
“Bukan hanya menarik. Penting.”
Marx menyela.
“Jadi kerja yang tidak dibayar menjadi bagian dari persoalan.”
“Betul.”
“Kalau begitu kembali kepada saya.”
Sassen tertawa.
“Tidak semua jalan menuju London, Karl.”
“London?”
“Sudahlah.”
Mereka tertawa.

Weber Bertanya: Efisien untuk Siapa?
Weber sejak tadi diam.
Ia membuka catatannya.
“Baik. Saya ingin masuk dari sisi lain.”
“Silakan,” kata Sassen.
“Kota modern membutuhkan sistem yang dapat diprediksi. Jadwal transportasi. Tarif. Rute. Administrasi. Bahkan algoritma ojol bekerja berdasarkan perhitungan tertentu.”
Sassen mengangguk.
“Lalu?”
“Itu memungkinkan mobilitas menjadi lebih efisien.”
“Efisien untuk siapa?”
Weber menatapnya.
“Untuk pengguna.”
“Semua pengguna?”
Weber terdiam sebentar.
Marx tersenyum.
“Pertanyaan itu lagi.”
Weber mengabaikannya.
“Kalau sistem dibuat untuk mengurangi waktu perjalanan, bukankah itu menguntungkan semua orang?”
“Belum tentu.”
Sassen mengambil ponselnya.
“Bayangkan seorang ibu.”
Ia mulai menghitung.
“Berangkat dari rumah. Mengantar anak. Pergi bekerja. Berhenti di pasar. Menjemput anak. Membeli obat untuk orang tua.”
Weber mengangguk.
“Ya.”
“Apakah perjalanan itu tidak efisien?”
“Secara sistem, mungkin.”
“Tapi secara kehidupan?”
Weber diam.
Sassen menatapnya.
“Masalahnya bukan perempuan tidak rasional. Masalahnya adalah sistem memiliki definisi sendiri tentang rasionalitas.”
Weber perlahan mengangguk.
“Rasionalitas formal.”
“Dan kehidupan sehari-hari memiliki kebutuhan yang tidak selalu cocok dengannya.”
Marx menyela.
“Jadi rasionalitas juga punya politik.”
Weber menatap Marx.
“Jangan mengambil kesimpulan saya.”
“Bukankah itu yang sedang Anda katakan?”
Weber tersenyum tipis.
“Mungkin.”

Kota Tidak Hanya Membangun, Kota Juga Menyingkirkan
Di luar, suara klakson mulai terdengar lebih sering.
Sassen memandang jalan.
“Sekarang kita masuk ke persoalan ruang.”
Marx langsung tertarik.
“Ruang adalah bagian dari relasi produksi.”
Weber menambahkan,
“Dan ruang juga diatur oleh birokrasi.”
Durkheim berkata,
“Ruang juga mempertemukan orang.”
Sassen mengangguk.
“Semuanya benar.”
Ia menunjuk kawasan kota di kejauhan.
“Tapi ruang juga bisa menyingkirkan.”
Marx tersenyum.
“Ekspulsi.”
“Ya.”
“Kapital.”
“Sebagian.”
Sassen menatap ketiganya.
“Ketika tanah menjadi mahal, siapa yang bisa tetap tinggal di pusat kota?”
Marx menjawab,
“Yang punya uang.”
“Dan siapa yang terdorong semakin jauh?”
“Yang tidak punya.”
“Di sana persoalannya menjadi lebih kompleks.”
Ia melanjutkan.
“Pekerja yang tinggal jauh dari pusat kota harus menempuh perjalanan lebih panjang. Pedagang informal bisa kehilangan tempat ketika trotoar ditata. Permukiman bisa berubah karena pembangunan. Kota menjadi semakin bagus bagi sebagian orang, tetapi semakin mahal bagi sebagian lainnya.”
Weber berkata,
“Itu persoalan kebijakan.”
Marx berkata,
“Itu persoalan kelas.”
Durkheim berkata,
“Itu juga bisa mengganggu integrasi sosial.”
Sassen tersenyum.
“Ya.”
“Jadi semuanya benar?”
“Tidak.”
Mereka menunggu.
“Semuanya melihat satu bagian.”
Ia menunjuk Marx.
“Kamu melihat struktur ekonomi.”
Lalu Durkheim.
“Kamu melihat hubungan sosial.”
Kemudian Weber.
“Kamu melihat organisasi dan rasionalitas.”
Sassen meletakkan cangkir.
“Masalahnya muncul ketika satu cara melihat merasa sudah melihat semuanya.”
Tidak ada yang menjawab.

Siri’ na Pacce Masuk ke Meja Perdebatan
Sore semakin gelap.
Durkheim tiba-tiba berkata,
“Bagaimana dengan Siri’ na Pacce?”
Sassen tersenyum.
“Saya menunggu seseorang menyebut itu.”
“Nilai budaya lokal bisa menjadi sumber solidaritas.”
“Betul.”
“Pacce berarti empati.”
“Betul.”
“Dan Siri’ berkaitan dengan harga diri.”
“Betul.”
Durkheim tampak puas.
Sassen melanjutkan.
“Tapi kebudayaan juga harus dipertanyakan.”
“Dalam arti?”
“Siapa yang berhak mendefinisikan Siri’? Siapa yang menentukan perilaku perempuan yang dianggap pantas? Siapa yang menentukan kapan perempuan boleh berada di ruang publik?”
Durkheim kembali diam.
“Nilai budaya tidak otomatis menjadi sesuatu yang adil hanya karena disebut tradisi.”
Marx mengangguk.
“Kebudayaan juga arena pertarungan.”
“Ya.”
Weber menambahkan,
“Dan negara bisa ikut menentukan definisi tersebut melalui kebijakan.”
Sassen tersenyum.
“Sekarang kita mulai sampai pada persoalan sebenarnya.”
“Yang mana?” tanya Marx.
“Siapa yang berhak mendefinisikan kota?”
Mereka terdiam.
“Pemerintah?”
“Pasar?”
“Perencana kota?”
“Pengembang?”
“Pemilik kendaraan?”
Sassen menggeleng.
“Semua punya suara.”
Ia menunjuk keluar.
“Tapi orang yang setiap hari menggunakan kota sering justru paling sedikit didengar.”

Ketika Informalitas Tidak Lagi Terlihat sebagai Gangguan
Marx melihat seorang pedagang perempuan di seberang jalan.
“Termasuk perempuan informal.”
“Terutama ketika mereka dianggap sekadar masalah ketertiban.”
Durkheim berkata,
“Padahal mereka juga menciptakan hubungan sosial.”
Weber menambahkan,
“Dan mengisi celah yang tidak dijangkau sistem formal.”
Marx menyambung,
“Dan menghasilkan nilai ekonomi.”
Sassen mengangguk.
“Ya.”
Ia tersenyum.
“Sekarang kalian bertiga terdengar seperti satu kelompok kerja.”
Marx tertawa.
“Jangan khawatir. Kami masih berbeda.”
“Bagus.”
“Karena perbedaan itulah teori hidup.”
Sassen mengangkat cangkir.
“Setuju.”
Mereka minum.

Satu Perempuan, Tiga Teori
Kopi Marx sudah dingin.
Weber melihat jam.
Durkheim masih menulis.
Sassen berdiri.
“Jadi, apa yang kita pelajari dari kota ini?”
Marx menjawab,
“Bahwa mobilitas tidak bisa dipisahkan dari ekonomi.”
Durkheim berkata,
“Bahwa kota juga bergantung pada hubungan sosial yang tidak selalu terlihat.”
Weber menambahkan,
“Bahwa sistem transportasi dan tata kota membawa gagasan tertentu tentang efisiensi.”
Sassen mengangguk.
“Dan?”
Mereka diam.
Sassen menunjuk ke luar.
“Bahwa semua itu berlangsung di atas tubuh manusia.”
Seorang perempuan lewat sambil menggandeng anak.
Di tangannya ada kantong belanja.
Ponselnya berdering.
Ia berhenti sebentar. Membalas pesan. Kemudian berjalan lagi.
Marx memperhatikannya.
“Dia bekerja.”
Durkheim berkata,
“Dia mengurus keluarga.”
Weber menambahkan,
“Dia menggunakan teknologi.”
Sassen tersenyum.
“Dan dia melakukan semuanya sekaligus.”
Mereka kembali diam.

Siapa yang Membayar?
“Jadi,” kata Marx, “siapa yang membuat kota bergerak?”
Sassen mengambil tasnya.
“Pertanyaan yang lebih baik adalah: siapa yang membayar ongkosnya?”
Marx mengangguk.
Durkheim berpikir.
Weber melihat jalan.
Sassen berjalan menuju pintu.
Tiba-tiba Marx memanggil.
“Sassen!”
“Ya?”
“Besok kita lanjut?”
“Boleh.”
“Topiknya apa?”
Sassen tersenyum.
“Kerja perawatan.”
Marx mengerutkan dahi.
“Bukankah itu sudah kita bahas?”
“Belum.”
“Kenapa?”
Sassen menunjuk meja mereka.
“Tiga cangkir. Tiga piring. Sisa pisang epe.”
Mereka menatap meja.
Sassen melanjutkan,
“Nanti kita lihat siapa yang membereskannya.”
Ia pergi.
Marx, Durkheim, dan Weber saling pandang.
Untuk pertama kalinya sore itu, tidak ada yang bicara tentang struktur.
Mereka justru melihat ke arah pelayan warkop.
Kopi sudah dingin.
Tetapi perdebatan belum selesai.

Popular posts from this blog

Nasionalisme, Konsumen

APA yang membuat seorang konsumen menjatuhkan pilihan untuk membeli suatu barang. Jawabannya mudah ditebak. Beberapa diantaranya, harga dapat dijangkau, ketersediaan barang, kebaruan.  Pekan akhir September lalu, sekaitan dengan preferensi konsumen, saya terlibat dalam sebuah diskusi. Saya rasa diskusi tersebut seperti mengajak kita kembali pada sebuah masa, 41 tahun silam. Sewaktu sekelompok ibu rumah tangga, di Jakarta, bersuara atas nama kecintaan pada produk dalam negeri. Para ibu ini, pada tahun itu pula, kemudian menginisiasi kekuatan, mendirikan sebuah organisasi konsumen yang pertama di negeri ini. Peristiwa yang sungguh menarik hati, mengingat rezim kala itu sibuk menjinakan atau memberangus peran progresif perempuan. Barangkali suasana diskusi waktu itu, saya tiba-tiba larut memperhatikan konteks waktu saat itu, tahun 1973. Satu tahun sebelum sebuah kerusuhan meledak. Sentimen negatif merebak dimana-mana terhadap kapitalis internasional. Asap hitam membumbung di langit ...

Politik Antrean: Ketika BBM Mengatur Waktu dan Tubuh Kota

Antrean BBM di SPBU di Makassar, bukan peristiwa satu-dua hari. Jejak waktunya cukup jelas. Sejak awal Agustus, kendaraan sudah mengantre solar, awal September mengantre pertalite dan pertamax. Kendaraan mengular di setiap SPBU. Antrean itu memanjang hingga ratusan meter dan mengganggu arus lalu lintas. Tapi, ada sesuatu yang ganjil dalam pemandangan itu. Seorang kawan menulis begini. B elum pernah terjadi yang seperti ini. Jadi antrean panjang ini sungguh membuat saya tersengal-sengal. Di benak terutama. Saya berusaha memahami, merencanakan perjalanan dengan pertimbangan yang baru.  Ini mempengaruhi hal-hal yang sangat mendasar dalam rumah kami. Jika pakai perasaan, maka rasa ini namanya kelu. Seperti punya pasangan hidup, yang menjual teman seperjanjiannya  ke orang asing. Harga BBM yang dibayar di SPBU bukan hanya uang yang keluar dari dompet. Ada harga lain yang jarang terlihat. Waktu yang hilang. Antrean membuat waktu produktif berubah menjadi waktu tunggu. Dalam situasi ...

Menavigasi Luka di Pinggiran Peta

PETA kebangsaan kita hari ini menyimpan banyak kisah yang gundah. Ada identitas-identitas di pinggiran yang terasa asing bagi telinga penguasa di pusat. Ada juga narasi nasionalisme yang dipaksakan, yang terasa tidak kontekstual dengan luka di lapangan. Bagi saya, komitmen menjadi Indonesia di Aceh dan Papua tidak sekadar urusan menavigasi angka pertumbuhan ekonomi, atau dalam undang-undang otonomi diartikan sebatas jalur pergerakan dana khusus. Tapi, kebangsaan merupakan ruang hidup publik yang nyata. Besar juga keingintahuan saya melihat kaitan antara teks—apa yang tertulis dalam jargon-jargon persatuan negara—dengan konteks—apa situasi, rasisme, dan peristiwa trauma yang jadi latar harian Gen Z di sana. Di sinilah ambivalensi kebangsaan itu lahir. Ia bukan maklumat perang untuk menghapus diri dari peta, melainkan sebuah gugatan kewarganegaraan ( citizenship claim ) yang mempertanyakan mengapa teks negara tidak pernah selaras dengan konteks di tanah kelahiran mereka Melalui lensa Cul...

Dialektika Tubuh, Algoritma, dan Ruang Jalanan

Makassar tidak berhenti minum kopi. Yang berubah adalah cara kopi hadir di dalam kota. Rumah kopi pernah menjadi tempat untuk tinggal berlama-lama. Meja marmer, kursi, percakapan panjang, dan waktu yang tidak selalu harus produktif. Kemudian muncul coffee shop modern dengan sofa, Wi-Fi, meja kerja, dan colokan listrik. Kini, kedai kopi semakin banyak hadir dalam bentuk booth, kontainer, atau gerai takeaway: pesan, bayar, ambil, lalu pergi. Perubahan ini bukan sekadar evolusi bisnis kopi. Ia memperlihatkan perubahan hubungan antara tubuh, waktu, benda, dan ruang. Ruang yang Mengondisikan Tubuh Setiap ruang mengorganisasikan kemungkinan yang berbeda. Rumah kopi memberi tubuh alasan untuk menetap. Coffee shop modern memungkinkan tubuh tinggal sambil bekerja dan tetap terhubung dengan jaringan digital. Kedai takeaway, sebaliknya, mengondisikan tubuh untuk bergerak. Ruang dipadatkan, kursi dikurangi, transaksi dipercepat. Namun ruang tidak pernah sepenuhnya menentukan apa yang dilakukan man...

Postkolonialisme Fesyen

Agustus, 1945. Kemerdekaan Indonesia diproklamasikan. Namun, dekolonisasi berhenti di depan pintu kamar kita. Lebih tepat lagi, di lemari pakaian. Ini bukan kalimat hiperbola. Ini realitas material. Data Textile Exchange (2025) mencatat 69% serat tekstil global adalah sintetis. Mayoritas adalah poliester. Plastik dari minyak bumi. Sekitar 88% di antaranya adalah virgin polyester. Ia diperas langsung dari fosil. Siapa penguasanya? ExxonMobil, SABIC, Sinopec. Raksasa yang sama. Gurita yang berabad-abad mengeruk kekayaan di belahan bumi Selatan (Global Selatan) Kolonialisme tidak mati. Ia hanya berganti wujud. Inilah postcolonialism fashion. Sebuah kajian budaya (Cultural Studies) tentang kelanjutan logika kolonial. Eksploitasi, ekstraksi, dan pembuangan. Sistem ini bekerja tanpa moncong senjata atau kuasa gubernur jenderal kolonial. Ia mendikte melalui label harga dan rantai pasok global.  Dibilang Edward Said dalam Orientalism (1978), Barat mengonstruksi "Timur" sebagai ruang ...