Skip to main content

Menavigasi Luka di Pinggiran Peta

PETA kebangsaan kita hari ini menyimpan banyak kisah yang gundah. Ada identitas-identitas di pinggiran yang terasa asing bagi telinga penguasa di pusat. Ada juga narasi nasionalisme yang dipaksakan, yang terasa tidak kontekstual dengan luka di lapangan. Bagi saya, komitmen menjadi Indonesia di Aceh dan Papua tidak sekadar urusan menavigasi angka pertumbuhan ekonomi, atau dalam undang-undang otonomi diartikan sebatas jalur pergerakan dana khusus. Tapi, kebangsaan merupakan ruang hidup publik yang nyata.


Besar juga keingintahuan saya melihat kaitan antara teks—apa yang tertulis dalam jargon-jargon persatuan negara—dengan konteks—apa situasi, rasisme, dan peristiwa trauma yang jadi latar harian Gen Z di sana. Di sinilah ambivalensi kebangsaan itu lahir. Ia bukan maklumat perang untuk menghapus diri dari peta, melainkan sebuah gugatan kewarganegaraan (citizenship claim) yang mempertanyakan mengapa teks negara tidak pernah selaras dengan konteks di tanah kelahiran mereka

Melalui lensa Cultural Studies, ruang hidup ini sedang mengalami kontestasi yang tajam melalui tiga patahan realitas:

Teks "Nasionalisme Kosmetik" vs Konteks "Tubuh yang Liyan"

Negara gemar menuliskan teks keberagaman yang elok: pakaian adat Aceh dan Papua dipamerkan di panggung-panggung Jakarta berdasar keputusan politik seremonial. Namun, teks kosmetik ini tidak kontekstual. Di jalanan ruang publik yang hidup, tubuh-tubuh anak muda Papua masih dihadang rasisme struktural, dan Gen Z Aceh masih menagih janji penyelesaian pelanggaran HAM masa lalu yang sengaja dihapus dari peta ingatan pusat. Budayanya dipeluk sebagai komoditas pariwisata, tetapi manusianya dicurigai sebagai ancaman.

Teks "Investasi Top-Down" vs Konteks "Keadilan Ekologis"

Bagi penguasa, hutan adat dan tanah ulayat mungkin hanya diartikan sebagai "jalur pergerakan" modal dan komoditas di atas kertas peta konsesi. Tapi bagi Gen Z Papua dan Aceh, lingkungan adalah ruang publik yang menyimpan identitas, peristiwa, dan jejak leluhur mereka. Ketika hutan dibabat demi proyek pusat, ada kisah dan ruang hidup yang lenyap. Gerakan siber seperti tagar #AllEyesOnPapua adalah cara anak muda mendikte ulang peta mereka sendiri, menciptakan arus balik informasi (counter-hegemony) bahwa menjaga alam adalah hak paling purba untuk bertahan hidup.

Teks "Pembangunan Fisik" vs Konteks "Kemakmuran Substantif"

Negara sering kali merasa sudah hadir ketika berhasil membangun bentangan jalan aspal mulus atau mengucurkan triliunan Dana Otsus. Pembangunan dipandang secara sempit, sebatas instrumen untuk menavigasi mobilitas barang. Padahal, jalan yang sejati adalah tempat orang-orang bertemu, berinteraksi, dan menyambung hidup. Merujuk pada capability approach, Gen Z di daerah khusus ini menggugat kemakmuran kertas tersebut. Mereka melihat paradoks di mana beton-beton infrastruktur berdiri megah, namun angka pengangguran terdidik dan kemiskinan pemuda lokal tetap tinggi dan enggan beranjak.
Gen Z di Aceh dan Papua bukanlah generasi yang masa bodoh. Dengan gawai di tangan, mereka menjadikan media sosial sebagai jalanan baru—sebuah ruang publik hidup yang tidak bisa disensor oleh keputusan politik sepihak. Di sana mereka berinteraksi, merajut solidaritas, dan membongkar kepura-puraan wacana pusat.

Pada akhirnya, peta tidak boleh sekadar digambar oleh penguasa di atas meja kaca Jakarta. Jika negara terus abai pada konteks, menggunakan pendekatan keamanan yang kaku, dan membiarkan ketidakadilan merampas ruang hidup, maka ikatan kebangsaan ini akan kehilangan jejaknya. Kita membutuhkan negara yang mau turun ke jalanan yang nyata, merendahkan hati untuk membaca kembali kisah-kisah luka sejarah, dan mengembalikan martabat kemanusiaan yang setara. Karena di atas aspal keadilan yang riil itulah, makna menjadi Indonesia yang seutuhnya baru bisa ditemukan.

Popular posts from this blog

Gudo, Lasem. Perjumpaan Negeri yang Berbeda

SAYA beruntung dapat menjejaki dua tempat: Gudo, Jombang dan Lasem, Rembang. Nah, bersiaplah dengan kisah perjalanan saya kali ini, menembus lorong waktu. Gudo dan Lasem, dua  tempat yang sebelumnya telah menggoda perhatian saya. Boleh jadi, karena keinginan perjumpaan akan ruang geografis etnis dan penghayatan subyektifnya yang berbeda dengan tempat lain di negeri ini, dalam memahami hubungan pasang-surut akibat pertikaian sosial. Atau , tertarik dengan kalimat akhir sebuah artikel yang mengutip tulisan para pecinta pemikiran Gus Dur di klenteng (untuk menyebut rumah ibadah Tionghoa) Gudo: "semakin kita berbeda, semakin jelas dimana titik persamaan kita". Di kedua tempat ini, Gudo dan Lasem, klenteng menjadi landmark (mercu-tanda) . Jarak keduanya,  cukup berjauhan. Jalan pintas terdekat, sekitar 180 kilometer, membelah punggung pegunungan kapur Kendeng. Dari Gudo menuju ke utara, lewat Tuban. Lalu ke arah barat, berjalan di atas jalanan warisan Gubernur Jenderal Hindia Bel...

Long Loreh, Batubara

HAMPIR tengah malam, telepon genggam saya bergetar. Di seberang sana, terdengar suara isteri saya bertanya, "lagi dimana ini". "Malinau," kata saya pendek. "Apa ada dalam peta," tanyanya lagi. Saya tak menjawab. Saya lalu hentikan percakapan. Melalui whatsapp, saya kirim peta Malinau padanya. Ia membalas dengan emoji senyum. Malinau berada di jantung Borneo. Sebuah kabupaten di Kalimantan Utara, berbatasan dengan Serawak, negara bagian Malaysia. Garis batas yang mengikuti punggung sebuah taman nasional, Kayan Mentarang. Rimba menghijau yang kaya spesies di Malinau sangat berarti bagi penghidupan berkelanjutan. Selain, memberi sokongan dalam menyerap karbon dioksida, salah satu gas rumah kaca yang mempengaruhi perubahan iklim global. Namun, orang-orang Malinau mesti kerja keras menjaga peradaban mereka dalam ekologi hutan hujan tropis yang khas itu. Sebagai bagian dari Kalimantan yang merupakan penghasil kayu terbesar di Indonesia,  dimana lebih 10 juta he...

Capung

DRAGONFLY effect . Saya mendapatkan istilah ini dalam sebuah obrolan, dalam sebuah grup WhatsApps . Obrolan tersebut membincangkan sebuah buku yang ditulis Jennifer Aaker dan Andy Smith: " The Dragonfly Effect ", yang menggambarkan betapa cepat, efektif, dan kuatnya media sosial dalam mendorong perubahan. Saya sendiri sedikit tergoda dengan ungkapan metafor mengenai: capung. Orang Makassar menyebutnya, bereng bereng , seperti merek kaos yang dibuat anak muda di Makassar. Mengapa mesti capung? Salah satu jenis serangga predator, yang diperkirakan telah terbang di bumi sejak 300 juta tahun lalu. Dalam ranah budaya di banyak tempat, capung penuh dengan simbolisme, penuh dengan cerita.  Serangga ini terlihat seperti hewan mungil yang ramah tidak berbisa, namun faktanya, capung adalah predator paling brutal di dunia binatang. Bahkan melebihi singa Afrika, sebagai hewan karnivora yang ditempatkan di puncak rantai makanan. Capung mampu memburu, menangkap, mengunyah total mangsan...

Deep Purple, Jakarta, 1975

MARET 2016. Saya bertemu dengan seorang kerabat, setelah bertahun-tahun lamanya tak berjumpa. Pensiunan dari sebuah bank besar di negeri ini, penggemar sekaligus kolektor musik rock klasik. Masih melekat dalam ingatan saya, ketika terakhir berjumpa, kami mempercakapkan dan menonton video Deep Purple, sebuah group  band  yang dibentuk di kota Hertford, Inggris, 1968. Deep Purple, Led Zeppelin dan Black Sabbath merupakan pelopor aliran heavy metal dalam genre musik rock. Saya menangkap rasa takjub pada dirinya lantaran dapat menonton langsung konser musik Deep Purple di Stadion Utama Senayan, Jakarta, 1975. "Sebagian Jakarta mati lampu, gelap. Konser mereka butuh banyak strom . Sound system dan lampu, mereka datangkan pakai pesawat kargo. Besar-besar. Orang baru pertama kali lihat konser seperti itu. Stadion penuh sesak, orang  berjubel menonton," ceritanya. Meski dalam sebuah pemberitaan, pemadaman listrik itu hanyalah gosip, "itu hanya bagian dari taktik promosi"....