Antrean BBM di SPBU di Makassar, bukan peristiwa satu-dua hari. Jejak waktunya cukup jelas. Sejak awal Agustus, kendaraan sudah mengantre solar, awal September mengantre pertalite dan pertamax. Kendaraan mengular di setiap SPBU. Antrean itu memanjang hingga ratusan meter dan mengganggu arus lalu lintas. Tapi, ada sesuatu yang ganjil dalam pemandangan itu.
Seorang kawan menulis begini. Belum pernah terjadi yang seperti ini. Jadi antrean panjang ini sungguh membuat saya tersengal-sengal. Di benak terutama. Saya berusaha memahami, merencanakan perjalanan dengan pertimbangan yang baru. Ini mempengaruhi hal-hal yang sangat mendasar dalam rumah kami. Jika pakai perasaan, maka rasa ini namanya kelu. Seperti punya pasangan hidup, yang menjual teman seperjanjiannya ke orang asing.
Harga BBM yang dibayar di SPBU bukan hanya uang yang keluar dari dompet. Ada harga lain yang jarang terlihat. Waktu yang hilang. Antrean membuat waktu produktif berubah menjadi waktu tunggu. Dalam situasi seperti ini, tubuh menjadi bagian dari kalkulasi ekonomi. Tubuh harus memilih: tetap bekerja tanpa bensin, atau berhenti bekerja untuk mendapatkan bensin. Pilihan itu tampak sederhana. Tetapi sebenarnya ia menunjukkan bagaimana kebutuhan energi masuk jauh ke dalam organisasi kehidupan sehari-hari.
Filsuf Michel Foucault membantu membaca keadaan ini melalui anatomo-politik dan biopolitik. Pada tingkat anatomo-politik, tubuh diatur melalui posisi, gerak, jarak, giliran, dan waktu tunggu. Tubuh diatur. Gerakannya diarahkan. Waktunya didisiplinkan. Antrean adalah salah satu bentuk pengaturan yang sangat sederhana, tetapi sangat efektif. Tubuh tahu di mana harus berhenti. Ke mana harus bergerak. Kapan harus maju. Kapan harus menunggu. Tidak perlu ada petugas yang terus-menerus memerintah. Barisan itu sendiri sudah menjadi mekanisme disiplin. Aturan telah menjadi perilaku.
Pada tingkat biopolitik, yang diatur bukan lagi hanya tubuh per tubuh, melainkan arus populasi. Mobilitas warga, kepadatan jalan, distribusi BBM, sekolah, dan aktivitas ekonomi masuk ke dalam kalkulasi. Ketika antrean meluas, muncul pengaturan baru. Pembelajaran daring diberlakukan untuk mengurangi mobilitas. Pengaturan lalu lintas disiapkan. Penambahan nozzle dan pasokan dilakukan untuk mengurai antrean. Pengaturan menghasilkan respons; respons mengubah kondisi; kondisi baru kembali memerlukan pengaturan.
Di titik ini, kita perlu hati-hati menyebut keadaan tersebut sebagai kegagalan negara. Antrean memang menunjukkan friksi dalam sistem distribusi. Namun, antrean saja belum cukup membuktikannya. Justru ketegangan antara klaim ketersediaan stok dan kesulitan akses di SPBU membuka pertanyaan yang lebih penting: di mana biaya friksi itu akhirnya ditempatkan?
Jawabannya tampak pada tubuh warga.
Waktu tunggu, tenaga, kemacetan, kelelahan, stres, dan kesempatan kerja yang hilang adalah biaya yang tidak selalu tercatat dalam kalkulasi distribusi energi. Biaya itu berpindah kepada masyarakat. Saya menyebut perpindahan ini sebagai: subsidi waktu. Bukan subsidi resmi. Masyarakat seolah ikut menanggung ongkos friksi sistem dengan waktu hidup mereka sendiri.
Namun beban tersebut tidak terbagi merata. Di sinilah politik antrean bertemu ketimpangan sosial. Kemampuan untuk menunggu adalah sumber daya. Kemampuan menghindari antrean juga sumber daya. Waktu kerja yang fleksibel, pilihan bahan bakar, kendaraan alternatif, atau pekerjaan yang dapat dilakukan dari rumah dapat mengurangi biaya menunggu. Sebaliknya, bagi pekerja yang pendapatannya bergantung pada mobilitas harian, waktu tunggu langsung bersentuhan dengan keberlangsungan hidup.
Antrean juga tidak hanya menghasilkan kepatuhan. Ia melahirkan adaptasi. Warga berbagi informasi, mengubah jam berangkat, mencari jalur lain, berpindah SPBU, dan mengatur ulang pekerjaan. Ada solidaritas kecil di dalamnya. Tetapi adaptasi tidak selalu berarti perlawanan. Sering kali ia adalah cara bertahan ketika pilihan semakin sempit.
Dampaknya lalu bergerak keluar dari SPBU. Ritme kota ikut berubah. Sekolah dapat dipindahkan ke ruang daring. Armada pelayanan publik ikut terganggu. Mobilitas nonesensial dapat dikurangi. Ruang konsumsi pun mungkin terdampak karena waktu yang biasanya digunakan untuk bekerja, berkumpul, atau menikmati kota terserap oleh antrean. Sebuah kedai kopi yang lebih sepi, misalnya, tidak otomatis disebabkan oleh antrean BBM. Tetapi perubahan mobilitas membuka pertanyaan: bagaimana gangguan energi mengubah geografi kecil konsumsi dan waktu luang kota?
Karena itu, antrean BBM bukan sekadar barisan kendaraan. Ia adalah koreografi sosial. Banyak tubuh menyesuaikan geraknya dengan sesuatu di luar tubuh mereka: ritme distribusi energi. Harga BBM berhenti di angka pada mesin pengisian. Tetapi biaya sosialnya dapat terus berjalan dalam waktu tubuh orang-orang yang menunggu.
Pertanyaannya bukan hanya: siapa mendapatkan BBM?
Tetapi: siapa yang menunggu? Siapa yang kehilangan pendapatan? Siapa yang mampu menghindari antrean? Dan siapa yang membayar harga paling mahal dari satu jam yang hilang? Jika energi menopang kehidupan kota, keadilan energi tidak cukup diukur dari jumlah BBM yang tersedia. Ia juga diukur dari bagaimana waktu, tubuh, dan biaya sosialnya dibagikan.