Langsung ke konten utama

Ketika Politik Keluar dari Gedung dan Menguasai Jalan

Pada 27 Agustus 2026, Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) menggelar aksi di depan Gedung DPR, Jakarta. Tuntutannya: pemberantasan korupsi dan pengesahan RUU Perampasan Aset. Tetapi politik hari itu tidak berhenti di depan parlemen. Setelah aksi AMPB berakhir, kelompok lain masih berada dan berdatangan di sekitar DPR. Menjelang malam, setelah pembubaran, ketegangan bergerak ke jalanan. Slipi. Pejompongan. KS Tubun. Petamburan. Ruang yang sehari-hari menjadi jalur mobilitas berubah menjadi lanskap konflik.


Peristiwa ini mengajukan pertanyaan sederhana: mengapa konflik politik yang bermula di hadapan institusi negara tidak selalu berhenti di sana? Mengapa ia menyebar ke persimpangan, flyover, kolong jalan, dan koridor kota? Jawaban paling sederhana menunjuk pada jaringan jalan. Tetapi penjelasan geometris tidak cukup. Peta jalan tidak bergerak dengan sendirinya.

Jalan menyediakan banyak kemungkinan. Namun tidak semua kemungkinan diwujudkan. Dalam konflik, arah mobilitas dibentuk oleh penutupan jalan, konsentrasi aparat, praktik penghalauan, gas air mata, keputusan massa untuk bertahan atau berpencar, dan pengetahuan praktis mengenai kota. Mobilitas bukan sekadar perpindahan dari titik A ke titik B. Pertanyaannya: siapa dapat bergerak, ke mana, melalui rute apa, dengan hambatan apa, dan di bawah kontrol siapa?

Jalan, dengan demikian, bukan medium netral. Ia ikut mengorganisasi konflik. Tetapi ketika massa bergerak, bukan hanya tubuh yang berpindah. Politik juga berpindah. Dan ketika politik memasuki jalan, ia menjadi terlihat. Di situ ia mulai berkomunikasi. 

Nimmo dan Combs (1983) menunjukkan bahwa politik tidak hanya berbicara melalui kata-kata. Tindakan, simbol, posisi, dan peristiwa juga menghasilkan makna. McNair (2011) menambahkan: komunikasi politik tidak hanya berlangsung lewat pesan formal, tetapi juga lewat tindakan dan representasi yang membentuk cara publik memahami peristiwa.

Barikade, karena itu, bukan sekadar penghalang. Ia menunjukkan batas. Perimeter bukan hanya pengamanan. Ia menunjukkan kontrol. Kerumunan bukan cuma kumpulan tubuh. Ia menunjukkan kehadiran politik. Pengaturan ruang memang tidak selalu dirancang sebagai pesan. Tetapi ia selalu memiliki efek komunikatif: menunjukkan siapa yang mengendalikan, siapa yang dibatasi, dan siapa yang dipaksa bergerak. Jalan kemudian menjadi medium mobilitas sekaligus komunikasi politik.

Persoalannya semakin menarik ketika rangkaian ini dibaca bersama konflik sebelumnya. Pada 2019, koridor Slipi–KS Tubun–Petamburan–Pejompongan ramai oleh massa pasca-Pilpres. Pada 2025, jalan yang sama kembali menjadi tempat blokade. Apakah ini pola? Belum tentu. Bisa saja kebetulan. Bisa pula akibat struktur jaringan jalan. Hipotesis tandingan ini harus diterima. Namun jaringan jalan menyediakan banyak jalur. Tidak semua jalur menjadi medan konflik. Tidak semua persimpangan menjadi titik konsentrasi.

Karena itu, Slipi atau Petamburan tidak cukup dipahami sebagai titik koordinat. Di sini John Agnew (1987) membantu. Politik tidak berlangsung dalam ruang abstrak, tetapi dalam place: tempat yang memiliki lokasi, tata material, dan makna dari pengalaman sosial. Slipi punya flyover dan jalur keluar. KS Tubun punya lebar jalan tertentu. Petamburan punya sejarah penggunaan dan representasi. Tempat bukan panggung netral. Ia ikut membentuk apa yang mungkin terjadi di atasnya. Namun ia tidak menentukan peristiwa secara otomatis.

Di sinilah pembacaan konjungtural menjadi penting. Bagi Gramsci (1971) dan Stuart Hall (1986), conjuncture adalah konfigurasi historis ketika berbagai kekuatan dan kontradiksi bertemu dalam situasi tertentu. Konflik 2019 ditandai ketegangan elektoral dan mobilisasi berbasis identitas. 2025 lain lagi. 2026 berbeda: tuntutan antikorupsi dan desakan RUU Perampasan Aset. Aktor dan taruhannya berubah. Mereka adalah conjuncture yang berbeda. Namun conjuncture yang berbeda tidak pernah memasuki kota yang kosong. Seperti diingatkan Lefebvre (1991), ruang diproduksi melalui praktik, pengaturan, dan pengalaman.

Konflik berakhir, tetapi tidak semua jejaknya hilang. Yang tersisa bukan “ingatan” jalan. Slipi tidak mengingat. Petamburan tidak berpikir. Yang membawa masa lalu ke masa kini adalah manusia dan institusi: pengalaman, pengetahuan spasial, strategi, arsip, representasi, serta konfigurasi material yang masih tersedia. 

Karena itu, pengulangan lokasi belum membuktikan bahwa masa lalu sedang diingat atau diulang secara sadar. Yang lebih dapat dipertahankan adalah kemungkinan re-aktualisasi konfigurasi spasial. Dalam conjuncture yang berbeda, hubungan antara kontrol, mobilitas, konsentrasi, pembubaran, dan komunikasi politik kembali membuat koridor tertentu menjadi ruang konflik. Yang berulang bukan peristiwanya. Bukan pula aktornya. 

Yang berulang adalah kemungkinan relasional antara kekuasaan dan ruang. Di titik ini, mobilitas adalah persoalan kekuasaan. Doreen Massey (1994) menyebutnya power-geometry: mobilitas dan kontrol atas ruang tidak terdistribusi merata. Satu pihak menutup jalan. Pihak lain mencari jalur. Satu pihak membentuk perimeter. Pihak lain mencari celah.

Jalan lalu berhenti menjadi sekadar infrastruktur transportasi. Ia menjadi medan. Medan mobilitas. Medan kekuasaan. Medan komunikasi politik. Di sana kekuasaan menjadi material. Ia menjadi arah. Menjadi batas. Menjadi barikade. Menjadi tubuh yang bergerak. Dan tubuh yang dihentikan. Politik, pada akhirnya, tidak selalu tinggal di dalam gedung. Kadang ia keluar. Lalu berbicara melalui jalan.

Postingan populer dari blog ini

Pangan, Kekuasaan, dan Dapur

Keragaman, Politik Ukuran, dan Commoning dari Bawah Pangan tak sekadar gizi. Ia juga rezim kebijakan, memori kolektif, dan artikulasi kekuasaan. Esai ini menelusuri bagaimana beras menjadi ukuran kecukupan nasional, pangan lain dipinggirkan, beban sosial-ekologis dibagi timpang, dan warga merebut ruang hidup. Ini bukan romantisasi pangan lokal, melainkan pembacaan atas wacana dan institusi yang menaturalisasi tatanan hegemonik. Kekuasaan yang Membuat Sesuatu Tampak Wajar Kekuasaan tak selalu bekerja melalui paksaan terbuka. Ia membentuk apa yang dianggap wajar ( commonsense ): pangan pokok, makan layak, dan kemajuan. Gramsci membantu menjelaskan bagaimana kewajaran menjadi bagian dari hegemoni melalui persetujuan sosial (Selections from the Prison Notebooks, 1971). Sementara F oucault menambahkan bahwa pengetahuan, institusi, dan praktik sehari-hari turut membentuk perilaku (Ethics: Subjectivity and Truth, 1997).  Namun, warga juga menafsirkan ulang dan melawan dalam kese...

Ijazah Palsu, Pasar Gelap, dan Istana: Siapa yang Memproduksi Legitimasi?

Pembuka: Ketika Tanda Mengalami Devaluasi ​Ada persimpangan yang menarik untuk dibaca dalam dinamika politik terkini. Di satu spektrum, kasus pemalsuan dokumen dan ijazah diperjualbelikan secara terbuka—dalam pengungkapan oleh kepolisian, ijazah palsu bahkan ditawarkan sekitar Rp600.000. Di spektrum lain, publik terus disuguhi polemik atas keabsahan dokumen pendidikan pejabat publik. Sementara pada medan yang berbeda, seorang figur kritis yang lama memproduksi klaim kepakaran digital-forensik atas keaslian dokumen politik, akhirnya mengoreksi hasil kajiannya, meminta maaf, dan bertemu langsung dengan pimpinan negara di Istana Wakil Presiden. ​Ketiga peristiwa ini tidak perlu diikat secara paksa dalam satu hubungan sebab-akibat yang linear. Namun, ketiganya dapat dibaca sebagai tiga skala analisis—mikro, meso, dan makro—terhadap satu pertanyaan yang mendasar: bagaimana legitimasi diproduksi, disahkan, dan dikonversi menjadi akses terhadap kekuasaan? ​ Skala Mikro: Ijazah Palsu dan Pe...

Menjerat Genom: Biopiracy, DSI, dan Politik Kebudayaan Pengetahuan Lokal

Glokalisasi kerap dirayakan sebagai panggung hibriditas yang ramah—ruang tempat lokalitas dan tren dunia saling menyapa. Kita melihatnya di etalase toko: racikan herbal tradisional hadir dalam kemasan kosmetik minimalis berlabel "kembali ke alam". Namun di balik narasi elok itu, ada kontestasi kekuasaan yang tidak pernah setara. Asimetri ini bukan anomali, melainkan kondisi struktural yang dilembagakan melalui rezim HKI global di bawah TRIPS/WTO. Pertemuan antara keanekaragaman hayati Selatan Global dan industri multinasional Utara Global jarang berakhir sebagai dialog seimbang. Lebih sering, ia menjelma menjadi biopiracy: pengetahuan komunal dan sumber daya genetik diambil, dipagari, dan dialihkan menjadi komoditas privat. Kasus Shiseido pada pertengahan 1990-an adalah cermin historis yang jernih. Pada 24 Januari 2002, setelah protes publik yang digalang LSM Indonesia, Shiseido membatalkan seluruh permohonan patennya atas ekstrak jamu untuk produk "UV White". Dala...

Coto Sudah Global Sebelum Ia Merantau

Apa yang membuat coto disebut coto Makassar? Jawabannya tampak sederhana: karena ia berasal dari Makassar. Tetapi jika kita mengikuti perjalanan bahan, pengetahuan, manusia, dan makanan itu sendiri, jawabannya menjadi lebih rumit. Coto tidak hanya mempunyai tempat. Ia mempunyai perjalanan. Kacang tanah yang digunakan dalam kuahnya bukanlah tanaman asli Nusantara. Ia berasal dari Amerika Selatan dan kemudian menyebar melalui jaringan pertukaran lintas wilayah. Tauco membawa jejak perjumpaan dengan tradisi kuliner Tionghoa. Kerbau pun telah hadir dalam jaringan ekonomi Makassar sejak masa perdagangan awal. Anthony Reid mencatat bahwa pada 1609 orang Belanda di Makassar dapat membeli puluhan kerbau dari seorang pemilik. Catatan itu tentu tidak membuktikan bahwa coto sudah ada pada masa tersebut. Ia hanya memperlihatkan bahwa bahan dan komoditas yang kemudian berada dalam sejarah kuliner Makassar telah bergerak dalam jaringan yang lebih luas. Di sinilah kata “global” dalam judul ini perlu...

Mengasingkan Daging: Plastic Beauty dan Perebutan Makna Tubuh

Ada serial yang selesai ketika episode terakhir berakhir. Ada pula serial yang justru baru mulai bekerja setelah layar ditutup. Plastic Beauty (Dauntaimu, 2026) termasuk yang kedua. Serial ini menggunakan dunia bedah kosmetik sebagai pintu masuk. Dua dokter perempuan, Fumi dan Rin, berhadapan dengan tubuh yang ingin diselamatkan, diubah, diperbaiki, atau ditafsirkan kembali. Tetapi persoalannya segera menjadi lebih luas: bukan hanya mengapa manusia ingin mengubah tubuh, melainkan siapa yang menentukan tubuh seperti apa yang layak diinginkan. Sebab sebelum tubuh dioperasi, tubuh terlebih dahulu dibaca. Keriput diba ca sebagai tanda tua. Tubuh gemuk dapat dibaca sebagai tidak disiplin. Wajah tertentu dianggap lebih pantas tampil di depan kamera. Tubuh perempuan dibebani aturan tentang bagaimana ia seharusnya terlihat. Padahal tubuh biologis tidak membawa semua makna itu sejak lahir. Kebudayaan memberinya bahasa. Di sinilah tubuh menjadi penting bagi Cultural Studies. Tubuh bukan sekada...