Langsung ke konten utama

Membaca Ulang Hebdige: The Unnatural Break di Indonesia

Dari Punk, “Anarko”, hingga Ojol: Ketika Gaya, Tubuh, dan Material Sehari-hari Mengganggu Peta Makna
Ada saat ketika sebuah benda berhenti menjadi benda biasa. Jaket tidak lagi sekadar jaket. Pakaian hitam tidak lagi sekadar warna. Motor dan aplikasi tidak lagi hanya alat mencari nafkah. Sesuatu terjadi ketika hubungan antara benda, tubuh, tindakan, dan makna yang selama ini dianggap biasa tiba-tiba terganggu.
Di situlah Dick Hebdige menjadi menarik. Dalam Subculture: The Meaning of Style (1979), ia membaca subkultur anak muda Inggris pascaperang—dari mods, skinheads, reggae dan Rastafarian hingga punk—melalui hubungan antara gaya, kelas, ras, konsumsi, dan politik makna.
Bab keenam bukunya diberi judul The Unnatural Break. Hebdige melihat subkultur sebagai noise: gangguan terhadap keteraturan tanda yang membuat dunia sosial dapat dikenali dan diterjemahkan. Gangguan itu membuat batas yang dianggap alamiah antara yang pantas dan tidak pantas, normal dan menyimpang, menjadi goyah.



Pada punk, gangguan berlangsung melalui style. Benda-benda biasa dipindahkan dari konteks dan fungsi yang lazim. Peniti, pakaian robek, jaket, sepatu, rambut, musik—disusun kembali menjadi konfigurasi yang mengganggu tata bahasa penampilan dominan. Inilah bricolage: perakitan ulang tanda-tanda yang telah tersedia. Homology kemudian membantu membaca hubungan antara unsur-unsur gaya dengan pengalaman sosial dan nilai kelompok yang menggunakannya.
Namun, kelima istilah ini tidak menunjuk pada proses yang sama. Noise adalah efek gangguan pada sistem tanda: sesuatu menjadi sulit ditempatkan dalam kategori yang mapan. Bricolage adalah cara material tanda-tanda yang sudah tersedia dirakit ulang. Homology adalah hubungan struktural antara konfigurasi gaya dan pengalaman sosial kelompok; ia bukan sekadar kemiripan visual, melainkan korespondensi antara bentuk gaya, posisi sosial, dan nilai yang dihayati. Incorporation adalah proses ketika media, pasar, atau institusi mengubah gangguan itu menjadi komoditas, citra, atau kategori yang dapat dikelola. Sementara itu, interupsi infrastruktur menunjuk pada penghentian atau pengubahan sementara mekanisme material yang memungkinkan aktivitas sosial dan ekonomi berlangsung. Istilah terakhir ini tidak berasal dari perangkat konseptual Hebdige secara langsung dan tidak boleh disamakan begitu saja dengan bricolage atau noise.
Karena itu, gaya bukan sekadar dekorasi tubuh. Ia menjadi praktik pemaknaan.
Namun, praktik pemaknaan itu tidak berhenti pada tubuh dan benda yang dirakit ulang oleh subkultur. Begitu sebuah gaya tampil di ruang publik, ia juga dapat dibaca, dikategorikan, dan diberi nama oleh pihak lain. Dengan demikian, gangguan yang mula-mula diproduksi melalui style dapat memasuki medan representasi: bukan lagi hanya soal bagaimana tanda digunakan, tetapi juga tentang siapa yang berhak menentukan arti tanda tersebut.
Lihat bagaimana istilah “anarko” bekerja. Pada 1 Mei 2019, setelah kericuhan dalam aksi Hari Buruh, Kapolri Tito Karnavian menyebut kelompok yang ia sebut anarcho-syndicalism dan mengaitkannya dengan massa berbaju hitam serta simbol huruf A.
Di sini penting membedakan antara kategori yang digunakan aparat dan fakta bahwa pakaian hitam dengan sendirinya berarti “anarko”. Keduanya bukan hal yang sama.
Pada 2020, istilah tersebut kembali muncul. Polda Metro Jaya menyatakan mengamankan 270 orang yang mereka duga sebagai kelompok Anarko Sindikalis dalam rangkaian demonstrasi menolak Omnibus Law Cipta Kerja pada 20 Oktober.
Persoalannya bukan sekadar siapa yang disebut “anarko”. Yang menarik adalah bagaimana penampilan, simbol, kerumunan, dan dugaan tindakan ditempatkan dalam satu rangkaian representasi. Label kemudian bekerja untuk membuat gangguan menjadi terbaca.
Dengan kata lain, gaya yang pada punk berfungsi sebagai praktik pemaknaan dari bawah dapat, dalam kasus “anarko”, dibaca ulang dari luar dan dilekatkan pada kategori tertentu. Di sinilah gangguan berpindah dari produksi style ke perebutan makna atas style tersebut.
Noise diberi tata bahasa.
Gangguan tidak selalu lenyap. Ia dapat diterjemahkan ke dalam kategori yang membuatnya lebih mudah dikenali dan dikelola. Tetapi proses pelabelan ini juga menunjukkan bahwa gangguan tidak hanya berlangsung pada tingkat simbol. Ia dapat memengaruhi cara kerumunan dipantau, tindakan ditafsirkan, dan subjek politik ditempatkan dalam peta ketertiban.
Pada titik ini, incorporation perlu dibedakan dari pelabelan institusional. Dalam Hebdige, incorporation terutama menunjuk pada penyerapan atau penjinakan gaya subkultural melalui komodifikasi dan ideologisasi: gaya dijual sebagai mode, atau diterjemahkan ke dalam bahasa resmi yang mengembalikan gangguan ke dalam tatanan dominan. Pelabelan “anarko” dapat menjadi bentuk incorporation ideologis apabila ia mengubah keragaman tindakan dan posisi politik menjadi kategori keamanan yang seragam. Namun, tidak setiap penyebutan atau klasifikasi otomatis merupakan incorporation; diperlukan bukti bahwa kategori tersebut benar-benar menetralkan, mengelola, atau mengintegrasikan gangguan ke dalam tatanan yang ada.
Perpindahan dari style ke representasi ini membuka jalan untuk melihat bentuk gangguan yang berbeda. Jika pada punk tanda-tanda dirakit ulang, dan dalam kasus “anarko” tanda-tanda itu dikategorikan dari luar, maka pertanyaan berikutnya adalah: apa yang terjadi ketika yang diganggu bukan terutama makna penampilan, melainkan mekanisme material yang mengatur kehidupan sehari-hari?
Dari sini, kasus ojol membawa persoalan ini lebih jauh lagi. Aksi ojol tidak dapat langsung disamakan dengan subkultur punk atau dengan label “anarko”. Namun, ia memperlihatkan bagaimana tubuh, benda, dan tindakan kolektif dapat menginterupsi sistem ketika tanda-tanda tersebut sekaligus merupakan bagian dari infrastruktur kerja.
Pada 20 Mei 2025, pengemudi ojek online melakukan aksi di berbagai daerah. Salah satu bentuk aksi yang direncanakan adalah off-bid: mematikan aplikasi atau tidak menerima order secara kolektif. Tuntutannya antara lain berkaitan dengan potongan aplikasi, tarif, dan regulasi.
Di sini jaket, motor, aplikasi, dan jalan bukan terutama simbol subkultural. Semuanya adalah bagian dari infrastruktur kerja.
Justru karena itu, ketika digunakan secara kolektif untuk menghentikan sementara aktivitas, fungsi material tersebut berubah. Aplikasi yang biasanya menghubungkan pengemudi dengan order dimatikan. Jalan yang biasanya menjadi ruang mencari nafkah berubah menjadi ruang aksi.
Yang mengalami patahan bukan sekadar gaya.
Yang terganggu adalah cara sebuah sistem bekerja.
Interupsi infrastruktur berbeda dari noise. Noise mengganggu keterbacaan kode; interupsi infrastruktur mengganggu aliran, koneksi, atau fungsi material yang menopang aktivitas. Ia juga berbeda dari bricolage: pengemudi tidak terutama merakit ulang benda menjadi tanda baru, melainkan menangguhkan penggunaan normal aplikasi, kendaraan, dan jaringan mobilitas. Ia berbeda pula dari homology, karena hubungan antara aksi dan pengalaman sosial ojol tidak otomatis membuktikan adanya korespondensi simbolik yang stabil seperti yang dicari Hebdige pada gaya subkultural. Dalam kasus ojol, yang paling jelas adalah tindakan kolektif terhadap mekanisme kerja, bukan pembentukan subkultur dengan kode gaya yang khas.
Rangkaian ini menunjukkan lima lokasi analitis yang berbeda tetapi saling berhubungan. Pertama, punk menghasilkan noise dengan mengganggu keterbacaan kode dominan melalui style. Kedua, bricolage menjelaskan teknik perakitan ulang benda dan tanda yang membuat gangguan itu tampak. Ketiga, homology membantu menafsirkan korespondensi antara konfigurasi gaya dan pengalaman sosial kelompok. Keempat, “anarko” memperlihatkan bagaimana gangguan dapat dikategorikan dari luar dan, dalam kondisi tertentu, mengalami incorporation melalui bahasa media, negara, atau pasar. Kelima, aksi ojol menunjukkan interupsi infrastruktur: penghentian sementara mekanisme material yang menopang kerja sehari-hari.
Dengan demikian, perpindahan dari punk ke “anarko” lalu ke ojol bukan perpindahan tema semata. Ia mengikuti perubahan bertahap dalam medan gangguan: dari pengubahan kode, ke penamaan dan pengelolaan atas kode tersebut, lalu ke penghentian sementara mekanisme material yang membuat keteraturan sosial berjalan.
Batas penerapannya pada kasus ojol perlu ditegaskan. Ojol tidak otomatis merupakan subkultur hanya karena memiliki jaket, kendaraan, istilah, atau solidaritas kelompok. Jaket ojol dapat menjadi penanda identitas dan posisi kerja, tetapi belum tentu berfungsi sebagai bricolage dalam pengertian Hebdige. Demikian pula, aksi off-bid tidak otomatis merupakan noise simbolik; dampak utamanya terletak pada gangguan terhadap layanan, arus order, dan hubungan kerja berbasis platform. Homology baru dapat digunakan jika terdapat bukti bahwa bentuk aksi, simbol, dan nilai kolektif ojol secara konsisten mencerminkan pengalaman sosial tertentu. Tanpa bukti itu, istilah tersebut sebaiknya tidak dipaksakan.
Di titik ini Hebdige membantu sekaligus harus diuji. Teorinya terutama menjelaskan bagaimana subkultur mengganggu kode dominan melalui gaya dan bagaimana gangguan kemudian dapat mengalami incorporation. Tetapi kasus “anarko” menunjukkan bahwa sebelum atau bersamaan dengan proses incorporation, gangguan juga dapat diproduksi ulang melalui bahasa institusional dan kategori keamanan. Kasus ojol kemudian menunjukkan bahwa gangguan dapat berpindah lokasi lagi: dari gaya dan representasi ke infrastruktur kehidupan sehari-hari.
Ini bukan bricolage dalam pengertian ketat Hebdige. Ia lebih tepat dibaca sebagai perluasan analitis: penggunaan ulang fungsi material dan infrastruktur untuk mengganggu hubungan kerja yang biasanya dianggap normal. Jika hendak memakai istilah bricolage untuk ojol, penggunaannya harus bersifat metaforis dan dibatasi pada kemungkinan bahwa benda atau perangkat kerja diberi fungsi politis baru; ia tidak boleh menghapus perbedaan antara perakitan tanda dan penghentian sistem.
Dengan demikian, the unnatural break tidak harus dibaca sebagai kisah tentang perlawanan yang selalu berakhir kalah. Ia lebih berguna untuk membaca saat sesuatu yang tampak biasa tiba-tiba tidak lagi bisa dianggap biasa.
Punk mengganggu kode melalui gaya.
Bricolage menjelaskan bagaimana tanda-tanda itu dirakit ulang.
Homology menafsirkan hubungan antara konfigurasi gaya dan pengalaman sosial.
“Anarko” memperlihatkan bagaimana gangguan diperebutkan melalui representasi dan, dalam kondisi tertentu, dijinakkan melalui incorporation.
Ojol menunjukkan bahwa gangguan dapat berlangsung di dalam infrastruktur kerja sehari-hari.
Yang menjadi unnatural bukan bendanya.
Bukan jaketnya. Bukan pakaian hitamnya. Bukan motornya. Bukan aplikasinya.
Yang menjadi unnatural adalah hubungan antara benda, tubuh, tindakan, dan sistem yang sebelumnya membuat semuanya tampak alamiah.
Di situlah pengalaman Indonesia bukan sekadar contoh untuk Hebdige. Ia menjadi cara untuk menguji sejauh mana teori subkultur mampu membaca bentuk-bentuk gangguan yang terus berpindah tempat: dari gaya ke representasi, dari representasi ke infrastruktur, dan mungkin ke ruang-ruang lain yang belum kita beri nama.


Rujukan dan Penelusuran
1. Hebdige, Dick. Subculture: The Meaning of Style. London: Methuen, 1979.
Edisi Routledge:
https://www.routledge.com/Subculture/Hebdige/p/book/9780415291378
2. Hebdige, Dick. “The Unnatural Break”, “Style as Bricolage”, dan “Style as Homology”, dalam Subculture: The Meaning of Style. Ketiganya menjadi dasar pembacaan mengenai noise, bricolage, homology, dan incorporation.
3. detikNews. “Kapolri Sebut Massa Berbaju Hitam di Hari Buruh Kelompok Anarcho-Syndicalism”, 2 Mei 2019.
https://news.detik.com/berita/d-4532756/kapolri-sebut-massa-berbaju-hitam-di-hari-buruh-kelompok-anarcho-syndicalism
4. ANTARA. “Polda Metro Jaya amankan 270 orang pada unjuk rasa 20 Oktober”, 20 Oktober 2020.
https://www.antaranews.com/berita/1796805/polda-metro-jaya-amankan-270-orang-pada-unjuk-rasa-20-oktober
5. ANTARA. “500 ribu ojol matikan aplikasi di 20 Mei dan unjuk rasa besar-besaran”, Mei 2025.
https://www.antaranews.com/berita/4836077/500-ribu-ojol-matikan-aplikasi-di-20-mei-dan-unjuk-rasa-besar-besaran
6. ANTARA. “Kemenhub pastikan bahas tuntutan ojol soal potongan tarif aplikasi”, Mei 2025.
https://www.antaranews.com/berita/4846125/kemenhub-pastikan-bahas-tuntutan-ojol-soal-potongan-tarif-aplikasi
7. detikNews. “Massa Tak Sweeping Ojol yang Tidak Ikut Demo: Kita Saling Menghargai”, Mei 2025.
https://news.detik.com/berita/d-7923126/massa-tak-sweeping-ojol-yang-tidak-ikut-demo-kita-saling-menghargai

Gambar diatas dibuat atau diedit menggunakan teknologi Google AI. Tidak berdasar tokoh dan tempat yang nyata

Postingan populer dari blog ini

Pangan, Kekuasaan, dan Dapur

Keragaman, Politik Ukuran, dan Commoning dari Bawah Pangan tak sekadar gizi. Ia juga rezim kebijakan, memori kolektif, dan artikulasi kekuasaan. Esai ini menelusuri bagaimana beras menjadi ukuran kecukupan nasional, pangan lain dipinggirkan, beban sosial-ekologis dibagi timpang, dan warga merebut ruang hidup. Ini bukan romantisasi pangan lokal, melainkan pembacaan atas wacana dan institusi yang menaturalisasi tatanan hegemonik. Kekuasaan yang Membuat Sesuatu Tampak Wajar Kekuasaan tak selalu bekerja melalui paksaan terbuka. Ia membentuk apa yang dianggap wajar ( commonsense ): pangan pokok, makan layak, dan kemajuan. Gramsci membantu menjelaskan bagaimana kewajaran menjadi bagian dari hegemoni melalui persetujuan sosial (Selections from the Prison Notebooks, 1971). Sementara F oucault menambahkan bahwa pengetahuan, institusi, dan praktik sehari-hari turut membentuk perilaku (Ethics: Subjectivity and Truth, 1997).  Namun, warga juga menafsirkan ulang dan melawan dalam kese...

Ijazah Palsu, Pasar Gelap, dan Istana: Siapa yang Memproduksi Legitimasi?

Pembuka: Ketika Tanda Mengalami Devaluasi ​Ada persimpangan yang menarik untuk dibaca dalam dinamika politik terkini. Di satu spektrum, kasus pemalsuan dokumen dan ijazah diperjualbelikan secara terbuka—dalam pengungkapan oleh kepolisian, ijazah palsu bahkan ditawarkan sekitar Rp600.000. Di spektrum lain, publik terus disuguhi polemik atas keabsahan dokumen pendidikan pejabat publik. Sementara pada medan yang berbeda, seorang figur kritis yang lama memproduksi klaim kepakaran digital-forensik atas keaslian dokumen politik, akhirnya mengoreksi hasil kajiannya, meminta maaf, dan bertemu langsung dengan pimpinan negara di Istana Wakil Presiden. ​Ketiga peristiwa ini tidak perlu diikat secara paksa dalam satu hubungan sebab-akibat yang linear. Namun, ketiganya dapat dibaca sebagai tiga skala analisis—mikro, meso, dan makro—terhadap satu pertanyaan yang mendasar: bagaimana legitimasi diproduksi, disahkan, dan dikonversi menjadi akses terhadap kekuasaan? ​ Skala Mikro: Ijazah Palsu dan Pe...

Menjerat Genom: Biopiracy, DSI, dan Politik Kebudayaan Pengetahuan Lokal

Glokalisasi kerap dirayakan sebagai panggung hibriditas yang ramah—ruang tempat lokalitas dan tren dunia saling menyapa. Kita melihatnya di etalase toko: racikan herbal tradisional hadir dalam kemasan kosmetik minimalis berlabel "kembali ke alam". Namun di balik narasi elok itu, ada kontestasi kekuasaan yang tidak pernah setara. Asimetri ini bukan anomali, melainkan kondisi struktural yang dilembagakan melalui rezim HKI global di bawah TRIPS/WTO. Pertemuan antara keanekaragaman hayati Selatan Global dan industri multinasional Utara Global jarang berakhir sebagai dialog seimbang. Lebih sering, ia menjelma menjadi biopiracy: pengetahuan komunal dan sumber daya genetik diambil, dipagari, dan dialihkan menjadi komoditas privat. Kasus Shiseido pada pertengahan 1990-an adalah cermin historis yang jernih. Pada 24 Januari 2002, setelah protes publik yang digalang LSM Indonesia, Shiseido membatalkan seluruh permohonan patennya atas ekstrak jamu untuk produk "UV White". Dala...

Coto Sudah Global Sebelum Ia Merantau

Apa yang membuat coto disebut coto Makassar? Jawabannya tampak sederhana: karena ia berasal dari Makassar. Tetapi jika kita mengikuti perjalanan bahan, pengetahuan, manusia, dan makanan itu sendiri, jawabannya menjadi lebih rumit. Coto tidak hanya mempunyai tempat. Ia mempunyai perjalanan. Kacang tanah yang digunakan dalam kuahnya bukanlah tanaman asli Nusantara. Ia berasal dari Amerika Selatan dan kemudian menyebar melalui jaringan pertukaran lintas wilayah. Tauco membawa jejak perjumpaan dengan tradisi kuliner Tionghoa. Kerbau pun telah hadir dalam jaringan ekonomi Makassar sejak masa perdagangan awal. Anthony Reid mencatat bahwa pada 1609 orang Belanda di Makassar dapat membeli puluhan kerbau dari seorang pemilik. Catatan itu tentu tidak membuktikan bahwa coto sudah ada pada masa tersebut. Ia hanya memperlihatkan bahwa bahan dan komoditas yang kemudian berada dalam sejarah kuliner Makassar telah bergerak dalam jaringan yang lebih luas. Di sinilah kata “global” dalam judul ini perlu...

Ikan Sapu-Sapu di Sungai Kekuasaan: Mengaca pada The Fixers

Sebuah serial televisi tidak selalu hadir hanya untuk bercerita. Kadang-kadang, ia datang untuk memberi kita sepasang kacamata baru. The Fixers, drama kriminal Taiwan yang tayang di Netflix, menarik perhatian bukan hanya karena jalinan aksi dan intriknya yang menegangkan. Serial ini membuka ruang gelap di antara hukum dan pelanggaran, sebuah wilayah abu-abu yang menjembatani institusi formal dan dunia bawah. Di ruang sunyi itulah hidup para fixer—orang-orang yang disewa untuk membereskan persoalan yang tidak bisa, tidak mau, atau tidak boleh diselesaikan melalui jalur resmi. Judul Mandarin serial ini memberikan petunjuk metaforis yang krusial: Hēi Bái Qīng Dào Fū (黑白清道夫). Secara harfiah, qīngdàofū berarti petugas pembersih. Namun dalam bahasa sehari-hari, nama itu juga digunakan untuk menyebut ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis). Di Indonesia, ikan introduksi dari Amerika Selatan ini dikenal sebagai spesies invasif yang memiliki daya tahan luar biasa di lingkungan tercemar. P...