Langsung ke konten utama

Dialektika Tubuh, Algoritma, dan Ruang Jalanan

Makassar tidak berhenti minum kopi. Yang berubah adalah cara kopi hadir di dalam kota.


Rumah kopi pernah menjadi tempat untuk tinggal berlama-lama. Meja marmer, kursi, percakapan panjang, dan waktu yang tidak selalu harus produktif. Kemudian muncul coffee shop modern dengan sofa, Wi-Fi, meja kerja, dan colokan listrik. Kini, kedai kopi semakin banyak hadir dalam bentuk booth, kontainer, atau gerai takeaway: pesan, bayar, ambil, lalu pergi.
Perubahan ini bukan sekadar evolusi bisnis kopi. Ia memperlihatkan perubahan hubungan antara tubuh, waktu, benda, dan ruang.
Ruang yang Mengondisikan Tubuh
Setiap ruang mengorganisasikan kemungkinan yang berbeda.
Rumah kopi memberi tubuh alasan untuk menetap. Coffee shop modern memungkinkan tubuh tinggal sambil bekerja dan tetap terhubung dengan jaringan digital. Kedai takeaway, sebaliknya, mengondisikan tubuh untuk bergerak. Ruang dipadatkan, kursi dikurangi, transaksi dipercepat.
Namun ruang tidak pernah sepenuhnya menentukan apa yang dilakukan manusia. Di antara desain dan penggunaan, selalu ada jarak.
Pada coffee shop modern, teknologi digital memperlihatkan persoalan lain. Dua orang dapat duduk berhadapan, tetapi perhatian mereka berada di tempat lain. Tubuh hadir secara fisik, sementara percakapan, pekerjaan, dan relasi sosial berlangsung melalui layar.
Persoalannya bukan bahwa teknologi semata-mata membuat manusia terasing. Yang berubah adalah hubungan antara kehadiran fisik dan keterhubungan sosial.
Kecepatan yang Diproduksi
Kedai takeaway membawa hubungan ini ke arah berbeda.
Waktu menjadi semakin terukur. Pesanan masuk dan diurutkan. Estimasi muncul. Barista bekerja mengikuti antrean. Kurir bergerak mengikuti sistem pengiriman. Permintaan, pekerjaan, kendaraan, dan waktu dipertemukan melalui infrastruktur digital.
Algoritma, dalam konteks ini, bukan sekadar teknologi yang bekerja di belakang aplikasi. Ia menjadi bagian dari cara waktu dihitung, diprediksi, diurutkan, dan dioptimalkan.
Teknologi digital tidak hanya mempermudah transaksi. Ia ikut membentuk tempo kehidupan.
Kecepatan, dengan demikian, tidak muncul dengan sendirinya. Ia diproduksi melalui hubungan antara algoritma, pekerja, kendaraan, infrastruktur, dan tubuh-tubuh yang bergerak di dalam kota.
Tetapi kehidupan sebuah komoditas tidak berakhir ketika transaksi selesai.
Justru pertanyaan menariknya adalah: apa yang terjadi setelah kopi dibeli?
Kehidupan Setelah Transaksi
Kopi keluar dari kedai. Ia masuk ke tangan pembeli, dibawa melintasi jalan, lalu memasuki ruang lain.
Di titik penjualan, kopi terikat pada hubungan transaksi: pesanan, harga, pembayaran, dan waktu tunggu. Ketika ia dibawa ke kawasan reklamasi Centre Point of Indonesia (CPI), Pantai Losari, atau ruang terbuka lain, hubungan itu dapat berubah. Kopi menjadi bagian dari pertemuan, percakapan, atau waktu luang.
Di sini decoding tidak hanya dapat dipahami sebagai persoalan penafsiran.
Manusia tidak hanya memberi makna kepada benda. Mereka juga menggunakannya. Mereka membawa, memindahkan, menempatkan, dan menghubungkannya dengan praktik-praktik lain.
Bentuk material kopi takeaway memungkinkan semua itu. Gelasnya dirancang agar dapat bergerak bersama tubuh. Portabilitas tersebut memang mendukung logika konsumsi cepat. Tetapi kemungkinan material sebuah benda tidak dapat sepenuhnya menentukan hubungan sosial yang terbentuk setelah benda itu berpindah tangan.
Di sinilah saya melihat kemungkinan material decoding.
Material decoding bukan sekadar penggunaan benda yang berbeda. Ia terjadi ketika kemungkinan-kemungkinan yang telah diorganisasikan melalui desain dan konteks komodifikasinya dihubungkan kembali secara berbeda dalam praktik pengguna.
Produk yang dirancang untuk dikonsumsi sambil bergerak, misalnya, dapat masuk ke dalam pertemuan yang berlangsung lama. Benda yang lahir dari logika transaksi cepat dapat menjadi bagian dari waktu sosial yang lebih lambat.
Ruang dan Konfigurasi Baru
Perpindahan benda kemudian menambah persoalan lain. Kopi yang sama dapat membentuk hubungan sosial yang berbeda ketika masuk ke dalam konfigurasi ruang yang berbeda.
Kedai modular mengorganisasikan transaksi. Jalan memungkinkan mobilitas. Ruang publik memungkinkan pertemuan. Namun spatial decoding bukan sekadar perpindahan benda dari satu tempat ke tempat lain. Yang berubah adalah konfigurasi hubungan yang menjadi mungkin.
Ketika kopi keluar dari kedai, ia tidak sekadar berpindah lokasi. Ia masuk ke dalam relasi baru antara tubuh, benda, waktu, dan orang-orang lain. Sebuah gelas kopi dapat tetap menjadi komoditas yang sama, tetapi kemungkinan sosial yang dibentuk di sekelilingnya berubah.
Di sinilah spatial decoding bekerja: ketika perubahan konfigurasi ruang membuka kemungkinan hubungan yang berbeda bagi benda yang sama.
Reartikulasi, Bukan Sekadar Resistensi
Tentu tidak semua penggunaan yang berbeda dapat disebut resistensi.
Anak muda yang membawa kopi takeaway ke ruang publik tidak otomatis sedang melawan kapitalisme digital. Mereka tetap membeli komoditas dan menggunakan teknologi yang sama. Karena itu, reartikulasi mungkin merupakan istilah yang lebih tepat.
Kopi tetap komoditas. Aplikasi tetap menjadi infrastruktur transaksi. Kendaraan tetap menjadi bagian dari mobilitas kota. Algoritma tetap mengorganisasikan sebagian dari tempo kehidupan. Tetapi hubungan di antara semua unsur tersebut dapat disusun kembali. 
Produk yang dirancang untuk mempercepat transaksi dapat masuk ke dalam waktu sosial yang lebih lambat. Transaksi individual dapat berakhir dalam kebersamaan. Benda yang diproduksi untuk bergerak cepat dapat berhenti dan menjadi bagian dari pertemuan.
Reartikulasi tidak selalu berarti keluar dari struktur. Ia dapat berlangsung justru di dalam struktur, ketika unsur-unsur yang tersedia dihubungkan kembali dalam konfigurasi yang berbeda.
Di situlah agensi bekerja.
Bukan sebagai kebebasan mutlak dari struktur, melainkan sebagai kemampuan untuk menggunakan, memindahkan, dan menghubungkan kembali unsur-unsur yang tersedia dalam kehidupan sehari-hari.
Tubuh sebagai Titik Artikulasi
Tubuh menjadi titik pertemuan dari semua itu. Algoritma mengorganisasikan tempo. Ruang mengondisikan gerak. Komoditas menawarkan kemungkinan penggunaan. Infrastruktur membuka dan membatasi mobilitas. Tetapi semuanya harus berlangsung melalui tubuh. Tubuh menerima pesanan, menunggu, membawa, berjalan, duduk, berpindah, dan berkumpul.
Karena itu, material and spatial decoding dapat menjadi cara untuk memperhatikan sesuatu yang sering luput: makna tidak hanya berubah karena manusia menafsirkannya secara berbeda.
Makna juga berubah ketika benda digunakan secara berbeda dan ketika ia masuk ke dalam ruang yang memungkinkan hubungan sosial lain.
Jalanan sebagai Ruang Negosiasi
Jalanan Makassar, dengan demikian, bukan sekadar ruang yang dilalui setelah transaksi selesai. Ia menjadi ruang negosiasi antara algoritma, tubuh, komoditas, dan kehidupan sosial.
Algoritma dapat menghitung pesanan, mempercepat transaksi, dan mengorganisasikan mobilitas. Desain ruang dapat mengondisikan tubuh untuk duduk, bekerja, menunggu, atau segera pergi.
Tetapi kehidupan sosial sebuah benda tidak berhenti pada titik ketika sistem berhasil menjualnya.
Setelah berpindah tangan, komoditas memasuki jaringan tubuh, kebiasaan, jalan, dan ruang yang tidak sepenuhnya dapat dikendalikan oleh logika yang memproduksinya.
Di situlah decoding bekerja—bukan hanya dalam pikiran, tetapi melalui benda yang dibawa, tubuh yang bergerak, dan ruang yang memungkinkan hubungan-hubungan baru.
Jalanan, karena itu, bukan sekadar sisa perjalanan setelah transaksi.
Ia adalah salah satu tempat ketika komoditas, algoritma, dan kehidupan sehari-hari terus dinegosiasikan dan dihubungkan kembali.
Di situlah kebudayaan terus bekerja.

Rujukan

Teori Budaya, Artikulasi, dan Konsumsi Sehari-hari
• De Certeau, M. (1984). The Practice of Everyday Life (S. Rendall, Trans.). University of California Press. (Rujukan utama untuk konsep taktik konsumsi sehari-hari dan penggunaan ruang/benda di luar desain formal).
• Hall, S. (1980). Encoding/decoding. In S. Hall, D. Hobson, A. Lowe, & P. Willis (Eds.), Culture, Media, Language: Working Papers in Cultural Studies, 1972–79 (pp. 128–138). Hutchinson. (Rujukan untuk konsep encoding, decoding, dan negosiasi makna).
• Hall, S. (1985). Signification, representation, ideology: Althusser and the post-structuralist debates. Critical Studies in Mass Communication, 2(2), 91–114. https://doi.org/10.1080/15295038509360070 (Rujukan untuk konsep artikulasi, reartikulasi, dan agensi dalam struktur).

Sosiologi Ruang, Materialitas, dan Tubuh
• Latour, B. (2005). Reassembling the Social: An Introduction to Actor-Network-Theory. Oxford University Press. (Rujukan untuk materialitas objek/gelas kopi/aplikasi sebagai aktor non-manusia yang membentuk relasi sosial).
• Lefebvre, H. (1991). The Production of Space (D. Nicholson-Smith, Trans.). Blackwell. (Rujukan untuk spasialisasi, ruang sosial, dan bagaimana tubuh mengalami/memproduksi ruang).
• Löw, M. (2016). The Sociology of Space: Materiality, Social Structures, and Action. Palgrave Macmillan. https://doi.org/10.1057/978-1-137-48050-7 (Rujukan untuk konsep pemetaan relasional, konfigurasi ruang, dan spatial decoding).

Akselerasi Waktu, Kapitalisme Platform, dan Komodifikasi Kopi
• Bookman, S. (2013). Coffee brands in urban space: The spatially articulated brandscape. Cultural Geographies, 20(1), 85–102. https://doi.org/10.1177/1474474012466626 (Rujukan untuk transformasi tempat minum kopi dan komodifikasi ruang perkotaan).
• Sharma, S. (2014). In the Meantime: Temporality and Cultural Politics. Duke University Press. https://doi.org/10.1215/9780822376712 (Rujukan untuk temporalitas, kecepatan yang diproduksi, dan politik waktu).
• Srnicek, N. (2016). Platform Capitalism. Polity Press. (Rujukan untuk infrastruktur digital, algoritma pengantaran, dan gig economy).

Postingan populer dari blog ini

Pangan, Kekuasaan, dan Dapur

Keragaman, Politik Ukuran, dan Commoning dari Bawah Pangan tak sekadar gizi. Ia juga rezim kebijakan, memori kolektif, dan artikulasi kekuasaan. Esai ini menelusuri bagaimana beras menjadi ukuran kecukupan nasional, pangan lain dipinggirkan, beban sosial-ekologis dibagi timpang, dan warga merebut ruang hidup. Ini bukan romantisasi pangan lokal, melainkan pembacaan atas wacana dan institusi yang menaturalisasi tatanan hegemonik. Kekuasaan yang Membuat Sesuatu Tampak Wajar Kekuasaan tak selalu bekerja melalui paksaan terbuka. Ia membentuk apa yang dianggap wajar ( commonsense ): pangan pokok, makan layak, dan kemajuan. Gramsci membantu menjelaskan bagaimana kewajaran menjadi bagian dari hegemoni melalui persetujuan sosial (Selections from the Prison Notebooks, 1971). Sementara F oucault menambahkan bahwa pengetahuan, institusi, dan praktik sehari-hari turut membentuk perilaku (Ethics: Subjectivity and Truth, 1997).  Namun, warga juga menafsirkan ulang dan melawan dalam kese...

Ijazah Palsu, Pasar Gelap, dan Istana: Siapa yang Memproduksi Legitimasi?

Pembuka: Ketika Tanda Mengalami Devaluasi ​Ada persimpangan yang menarik untuk dibaca dalam dinamika politik terkini. Di satu spektrum, kasus pemalsuan dokumen dan ijazah diperjualbelikan secara terbuka—dalam pengungkapan oleh kepolisian, ijazah palsu bahkan ditawarkan sekitar Rp600.000. Di spektrum lain, publik terus disuguhi polemik atas keabsahan dokumen pendidikan pejabat publik. Sementara pada medan yang berbeda, seorang figur kritis yang lama memproduksi klaim kepakaran digital-forensik atas keaslian dokumen politik, akhirnya mengoreksi hasil kajiannya, meminta maaf, dan bertemu langsung dengan pimpinan negara di Istana Wakil Presiden. ​Ketiga peristiwa ini tidak perlu diikat secara paksa dalam satu hubungan sebab-akibat yang linear. Namun, ketiganya dapat dibaca sebagai tiga skala analisis—mikro, meso, dan makro—terhadap satu pertanyaan yang mendasar: bagaimana legitimasi diproduksi, disahkan, dan dikonversi menjadi akses terhadap kekuasaan? ​ Skala Mikro: Ijazah Palsu dan Pe...

Menjerat Genom: Biopiracy, DSI, dan Politik Kebudayaan Pengetahuan Lokal

Glokalisasi kerap dirayakan sebagai panggung hibriditas yang ramah—ruang tempat lokalitas dan tren dunia saling menyapa. Kita melihatnya di etalase toko: racikan herbal tradisional hadir dalam kemasan kosmetik minimalis berlabel "kembali ke alam". Namun di balik narasi elok itu, ada kontestasi kekuasaan yang tidak pernah setara. Asimetri ini bukan anomali, melainkan kondisi struktural yang dilembagakan melalui rezim HKI global di bawah TRIPS/WTO. Pertemuan antara keanekaragaman hayati Selatan Global dan industri multinasional Utara Global jarang berakhir sebagai dialog seimbang. Lebih sering, ia menjelma menjadi biopiracy: pengetahuan komunal dan sumber daya genetik diambil, dipagari, dan dialihkan menjadi komoditas privat. Kasus Shiseido pada pertengahan 1990-an adalah cermin historis yang jernih. Pada 24 Januari 2002, setelah protes publik yang digalang LSM Indonesia, Shiseido membatalkan seluruh permohonan patennya atas ekstrak jamu untuk produk "UV White". Dala...

Coto Sudah Global Sebelum Ia Merantau

Apa yang membuat coto disebut coto Makassar? Jawabannya tampak sederhana: karena ia berasal dari Makassar. Tetapi jika kita mengikuti perjalanan bahan, pengetahuan, manusia, dan makanan itu sendiri, jawabannya menjadi lebih rumit. Coto tidak hanya mempunyai tempat. Ia mempunyai perjalanan. Kacang tanah yang digunakan dalam kuahnya bukanlah tanaman asli Nusantara. Ia berasal dari Amerika Selatan dan kemudian menyebar melalui jaringan pertukaran lintas wilayah. Tauco membawa jejak perjumpaan dengan tradisi kuliner Tionghoa. Kerbau pun telah hadir dalam jaringan ekonomi Makassar sejak masa perdagangan awal. Anthony Reid mencatat bahwa pada 1609 orang Belanda di Makassar dapat membeli puluhan kerbau dari seorang pemilik. Catatan itu tentu tidak membuktikan bahwa coto sudah ada pada masa tersebut. Ia hanya memperlihatkan bahwa bahan dan komoditas yang kemudian berada dalam sejarah kuliner Makassar telah bergerak dalam jaringan yang lebih luas. Di sinilah kata “global” dalam judul ini perlu...

Mengasingkan Daging: Plastic Beauty dan Perebutan Makna Tubuh

Ada serial yang selesai ketika episode terakhir berakhir. Ada pula serial yang justru baru mulai bekerja setelah layar ditutup. Plastic Beauty (Dauntaimu, 2026) termasuk yang kedua. Serial ini menggunakan dunia bedah kosmetik sebagai pintu masuk. Dua dokter perempuan, Fumi dan Rin, berhadapan dengan tubuh yang ingin diselamatkan, diubah, diperbaiki, atau ditafsirkan kembali. Tetapi persoalannya segera menjadi lebih luas: bukan hanya mengapa manusia ingin mengubah tubuh, melainkan siapa yang menentukan tubuh seperti apa yang layak diinginkan. Sebab sebelum tubuh dioperasi, tubuh terlebih dahulu dibaca. Keriput diba ca sebagai tanda tua. Tubuh gemuk dapat dibaca sebagai tidak disiplin. Wajah tertentu dianggap lebih pantas tampil di depan kamera. Tubuh perempuan dibebani aturan tentang bagaimana ia seharusnya terlihat. Padahal tubuh biologis tidak membawa semua makna itu sejak lahir. Kebudayaan memberinya bahasa. Di sinilah tubuh menjadi penting bagi Cultural Studies. Tubuh bukan sekada...