Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2026

Mengasingkan Daging: Plastic Beauty dan Perebutan Makna Tubuh

Ada serial yang selesai ketika episode terakhir berakhir. Ada pula serial yang justru baru mulai bekerja setelah layar ditutup. Plastic Beauty (Dauntaimu, 2026) termasuk yang kedua. Serial ini menggunakan dunia bedah kosmetik sebagai pintu masuk. Dua dokter perempuan, Fumi dan Rin, berhadapan dengan tubuh yang ingin diselamatkan, diubah, diperbaiki, atau ditafsirkan kembali. Tetapi persoalannya segera menjadi lebih luas: bukan hanya mengapa manusia ingin mengubah tubuh, melainkan siapa yang menentukan tubuh seperti apa yang layak diinginkan. Sebab sebelum tubuh dioperasi, tubuh terlebih dahulu dibaca. Keriput diba ca sebagai tanda tua. Tubuh gemuk dapat dibaca sebagai tidak disiplin. Wajah tertentu dianggap lebih pantas tampil di depan kamera. Tubuh perempuan dibebani aturan tentang bagaimana ia seharusnya terlihat. Padahal tubuh biologis tidak membawa semua makna itu sejak lahir. Kebudayaan memberinya bahasa. Di sinilah tubuh menjadi penting bagi Cultural Studies. Tubuh bukan sekada...

Pisang, Republik, dan Kambeng-Kambeng

Tiga tahun lalu saya menulis status tentang pisang. Waktu itu Pemerintah Sulawesi Selatan sedang mendorong Gerakan Gemar Menanam Pisang. Target tahap awalnya 100 ribu hektare. Pisang tiba-tiba bukan lagi sekadar buah. Ia menjadi angka, program, lahan, bibit, investasi dan janji pasar. Saya lalu teringat istilah banana republic . Istilah ini digunakan O. Henry, nama pena William Sydney Porter, dalam Cabbages and Kings (1904), untuk menyebut negeri fiktif Anchuria. Dalam perkembangannya, banana republic digunakan lebih luas sebagai metafora politik-ekonomi. Tetapi saya tidak sedang mengatakan Sulawesi Selatan adalah banana republic . Yang menarik justru perjalanan makna pisang itu sendiri. Saya teringat perjalanan lain. Pada 2018, ketika melewati Desa Limau, Galela Utara, Halmahera, sopir yang membawa kami ke Salimuli menunjuk hamparan lahan yang saat itu mulai ditanami singkong. “Dulu di sini perkebunan pisang,” katanya. Yang dimaksud adalah perkebunan pisang sekitar 2.000 hektare y...

Cara Terbaik Memandang Kebudayaan adalah Hantu

Tubuh, Ruang, Ketakutan, dan Krisis yang Belum Selesai Beberapa tahun lalu, dalam percakapan melalui WhatsApp, Pak Alwy Rachman, guru saya, mengajukan pertanyaan yang terus mengganggu saya: mengapa hantu-hantu Nusantara terkesan dekil, tidak terurus? Ia juga menyebut hantu sebagai “bisnis kebudayaan”. Ungkapan itu membuat saya berpikir: apa sebenarnya yang diproduksi ketika sebuah masyarakat membuat hantunya? Kita tidak perlu memulai dari pertanyaan apakah hantu ada atau tidak. Kita dapat melihat bagaimana manusia membuatnya hadir: melalui cerita, tubuh, suara, tempat, gambar, dan ketakutan. Stuart Hall melihat representasi bukan sekadar cermin kenyataan, melainkan proses produksi makna. Dari sini pertanyaannya berubah: bagaimana sebuah kebudayaan membuat hantu? Tubuh yang Menjadi Hantu Ketakutan tidak selalu mempunyai tubuh. Ia bisa berupa kehilangan, penyakit, kematian, ancaman, atau sesuatu yang tidak dapat dijelaskan. Kebudayaan memberinya bentuk. Salah satunya adalah hantu. ...

Siasat adalah Seni Melawan Kaum Papa

Tulisan ini merupakan catatan lapangan Simpul Belajar Bersama Sulawesi Selatan yang disusun di Makassar pada 22 Januari 2009 dan pertama kali dipublikasikan pada 2010. Data, angka, nama program, kebijakan, dan kondisi sosial-ekonomi yang disebutkan dalam tulisan merujuk pada periode tersebut dan tidak dimaksudkan sebagai gambaran kondisi Sulawesi Selatan saat ini. Tulisan ini dipublikasikan kembali dengan penyuntingan terbatas pada ejaan, struktur kalimat, konsistensi istilah, serta pemeriksaan ulang terhadap sejumlah data dan rujukan yang masih dapat dilacak. Beberapa angka dan klaim dalam naskah asli tidak dapat diverifikasi kembali dari sumber primer yang tersedia. Pada bagian tersebut, redaksi mempertahankan konteksnya sebagai catatan lapangan atau kesaksian informan dan tidak memperlakukannya sebagai data statistik yang telah terverifikasi. Kutipan dari petani dan warga merupakan catatan wawancara pada masa penelitian. Nama desa, dusun, dan informan yang dalam naskah asli disam...

Perebutan Narasi di Balik Tembok Cibinong

Persoalan  di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Cibinong bukan sekadar soal fasilitas yang ditemukan di balik tembok. Persoalan yang lebih mendasar adalah: siapa yang dapat melihat, mencatat, dan menjelaskannya kepada publik? P ertanyaan itu sebenarnya bukan hal baru dalam sejarah penjara di Indonesia. Nusakambangan adalah contoh penting. Pulau ini dipilih pemerintah kolonial bukan hanya karena dapat menampung narapidana. Laut, bukit, dan hutan membuatnya sulit dijangkau dan sulit ditinggalkan. Pada 1905, pemerintah kolonial membangun kamp penjara pertama di sana. Ribuan orang kemudian dikirim ke pulau itu, termasuk narapidana Aceh serta lebih dari dua ribu orang Bugis dan Toraja. Penjara sekaligus menjadi tempat kerja. Tubuh yang dikurung juga menjadi tenaga yang dapat digunakan. Tetapi Nusakambangan tidak hanya dibentuk oleh tembok, laut, dan hutan. Ia juga dibentuk oleh cerita tentang dirinya. Klaas Stutje menunjukkan bagaimana reputasi Nusakambangan dibangun melalui laporan jurn...

Mengapa Kopi Mesti Dicuri Kalau Bisa Dibeli?

Dari Tanaman, Pengetahuan, hingga Ruang Publik Pertanyaan ini terdengar retoris, tetapi menyimpan persoalan serius: perbedaan antara memiliki komoditas dan menguasai kemampuan memproduksinya. Mengapa tanaman kopi harus dibawa keluar ketika kopinya sudah bisa dibeli? Pada akhir abad ke-17, Mocha di Yaman merupakan salah satu pusat penting perdagangan kopi. Kopi memang dapat diperoleh sebagai komoditas, tetapi tanaman memiliki nilai yang berbeda. Tanaman dapat ditanam kembali dan produksinya dapat diperluas. Karena itu, yang diperebutkan bukan hanya hasil produksi, melainkan juga kemampuan untuk menghasilkan kembali. Kata “dicuri” di sini perlu dibaca sebagai persoalan analitis, bukan klaim hukum. Sejarah yang terdokumentasi menunjukkan upaya VOC—Vereenigde Oostindische Compagnie—memperoleh tanaman kopi dan membawanya ke wilayah kolonial. Pada 1696, tanaman kopi dari Malabar dikirim ke Batavia, tetapi percobaan pertama gagal. Pada 1699, pengiriman berikutnya berhasil dan budidaya kopi be...

Paradoks Durasi: Short Drama China, Negosiasi Budaya, dan Ekonomi Perhatian

Ada perubahan dalam cara manusia menonton cerita. Bioskop membutuhkan ruang fisik, sementara televisi mengikat penonton pada jadwal. Keduanya bekerja dengan durasi yang relatif tetap. Kini cerita hadir di layar ponsel, dalam potongan-potongan pendek. Satu episode selesai dalam hitungan menit. Jempol bergerak. Layar bergeser. Cerita berlanjut. Short drama China memperlihatkan perubahan itu dengan jelas. Ia bukan sekadar drama yang dipendekkan, melainkan bentuk narasi yang tumbuh bersama perangkat mobile , platform video pendek, dan model ekonomi yang menjadikan perhatian sebagai sesuatu yang dapat diukur. Karena itu, pertanyaannya bukan hanya mengapa orang Indonesia menonton drama China. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang terjadi pada cerita ketika durasi dan perhatian menjadi bagian dari mekanisme produksinya? Dari Durasi ke Platform Sejarah budaya populer tidak bergerak dalam garis lurus. Setiap bentuk media tumbuh dalam konfigurasi teknologi, negara, kapital, regulasi...