Langsung ke konten utama

Mengasingkan Daging: Plastic Beauty dan Perebutan Makna Tubuh

Ada serial yang selesai ketika episode terakhir berakhir. Ada pula serial yang justru baru mulai bekerja setelah layar ditutup. Plastic Beauty (Dauntaimu, 2026) termasuk yang kedua. Serial ini menggunakan dunia bedah kosmetik sebagai pintu masuk. Dua dokter perempuan, Fumi dan Rin, berhadapan dengan tubuh yang ingin diselamatkan, diubah, diperbaiki, atau ditafsirkan kembali. Tetapi persoalannya segera menjadi lebih luas: bukan hanya mengapa manusia ingin mengubah tubuh, melainkan siapa yang menentukan tubuh seperti apa yang layak diinginkan.

Sebab sebelum tubuh dioperasi, tubuh terlebih dahulu dibaca. Keriput dibaca sebagai tanda tua. Tubuh gemuk dapat dibaca sebagai tidak disiplin. Wajah tertentu dianggap lebih pantas tampil di depan kamera. Tubuh perempuan dibebani aturan tentang bagaimana ia seharusnya terlihat. Padahal tubuh biologis tidak membawa semua makna itu sejak lahir. Kebudayaan memberinya bahasa.



Di sinilah tubuh menjadi penting bagi Cultural Studies. Tubuh bukan sekadar benda biologis. Ia adalah tempat makna diproduksi, dipertentangkan, dan dinegosiasikan. Plastic Beauty menarik karena tidak mudah menempatkan tubuh alami di satu sisi dan tubuh yang diubah di sisi lain. Fumi mempertanyakan mengapa tubuh harus diubah. Rin membawa pertanyaan lain: mengapa keinginan mengubah tubuh harus segera dianggap dangkal?
Pilihan atas tubuh memang dapat menjadi bentuk agensi. Seseorang dapat mengubah tubuhnya karena ia menginginkannya. Tetapi keinginan tidak pernah lahir di ruang kosong. Kita belajar menginginkan melalui kebudayaan. Karena itu, pilihan personal berlangsung di dalam dunia yang telah lebih dahulu menentukan apa yang dianggap indah, pantas, sehat, muda, profesional, atau menarik.
Kita mengenal cermin jauh sebelum mengenal filter. Cermin memantulkan tubuh. Kamera dapat memilihnya. Filter dapat mengubahnya. Algoritma kemudian mengulang gambar tertentu sampai ia tampak biasa. Teknologi tidak sekadar membantu kita melihat tubuh. Ia ikut mengubah cara tubuh dilihat. Tubuh biologis akhirnya datang terlambat. Ia harus mengejar gambar tentang dirinya sendiri.
Di titik ini, teknologi bertemu dengan kuasa. Kuasa tidak selalu hadir sebagai larangan. Kadang ia bekerja dengan cara yang lebih halus: menawarkan pilihan. Kulit ingin lebih muda? Ada prosedurnya. Wajah ingin lebih tirus? Ada prosedurnya. Tubuh ingin terlihat seperti gambar tertentu? Ada teknologinya. Pasar tidak perlu mengatakan, “Anda jelek.” Ia cukup menyediakan kemungkinan untuk menjadi lebih baik.
Dan ketika kemungkinan itu tidak pernah habis, rasa tidak cukup pun tidak pernah selesai. Karena itu, perempuan yang menjalani operasi plastik tidak otomatis merupakan korban. Begitu pula operasi plastik tidak otomatis merupakan pembebasan. Yang lebih menarik adalah melihat bagaimana agensi dan kuasa bekerja bersamaan. Seseorang dapat memilih, tetapi pilihannya berlangsung di dalam dunia yang telah lebih dahulu menentukan apa yang patut diinginkan.
Di sinilah tubuh menjadi arena perebutan makna. Tubuh bukan hanya milik individu. Ia juga dibentuk oleh tatapan sosial, norma gender, dunia kerja, industri kecantikan, media, teknologi, dan ekonomi perhatian. Wajah dapat menjadi modal. Penampilan dapat memiliki nilai ekonomi. Maka persoalannya bukan sekadar apakah tubuh boleh diubah, tetapi mengapa tubuh tertentu harus terus merasa perlu diubah.
Dauntaimu (downtime) adalah masa jeda, masa pemulihan setelah tubuh mengalami perubahan. Tetapi dalam kebudayaan yang terus memproduksi standar baru, jeda itu tidak pernah benar-benar selesai. Selesai satu perubahan, muncul perubahan berikutnya. Yang tidak pernah selesai bukan tubuh. Yang tidak pernah selesai adalah tuntutan terhadap tubuh.
Di sinilah istilah “mengasingkan daging” menemukan maknanya. Mengasingkan daging bukan berarti menjadi asing terhadap tubuh karena tubuh berubah. Ia terjadi ketika tubuh yang kita alami dari dalam mulai kita nilai melalui makna yang datang dari luar: layar, pasar, kamera, pekerjaan, norma gender, dan tatapan orang lain. Tubuh menjadi rumah yang terus direnovasi karena penghuninya dibuat percaya bahwa rumah itu tidak pernah cukup baik. Maka alienasi bukan hanya soal bentuk. Ia juga soal hak menentukan arti.
Kita tidak lagi sekadar bertanya, “Apakah saya menyukai tubuh ini?” Kita mulai bertanya, “Apakah tubuh ini layak disukai?” Perbedaannya kecil, tetapi dampaknya besar. Pertanyaan kedua sudah membawa pengadilan sosial ke dalam diri kita sendiri. Kita tidak selalu merasa sedang diperintah. Kita justru merasa sedang memilih.
Lalu siapa yang memperoleh keuntungan ketika rasa kurang terus diproduksi? Industri kecantikan memiliki kepentingan ekonomi. Platform visual memperoleh perhatian. Dunia kerja dapat memberi nilai pada penampilan. Norma gender ikut menentukan tubuh seperti apa yang dianggap pantas. Tidak ada satu penjahat tunggal di sini. Justru karena kuasa bekerja melalui banyak tempat, rasa kurang dapat terasa seperti keinginan kita sendiri.
Itulah sebabnya Plastic Beauty menarik bukan terutama sebagai cerita tentang operasi plastik. Ia membuka percakapan tentang tubuh sebagai medan kebudayaan: bagaimana tubuh diberi nama, bagaimana maknanya berubah, bagaimana teknologi ikut mengatur cara kita melihat, dan bagaimana kuasa bekerja ketika tuntutan kebudayaan mulai terdengar seperti suara dari dalam diri sendiri.

Yang diperebutkan bukan hanya bentuk tubuh. Yang diperebutkan adalah makna tubuh itu sendiri.

Mungkin persoalan terbesar bukanlah bahwa manusia mengubah tubuhnya. Tubuh memang berubah. Ia tumbuh, menua, sakit, pulih, bekerja, dan akhirnya mati. Persoalannya adalah ketika perubahan itu tidak lagi terasa sebagai bagian dari kehidupan, melainkan sebagai kegagalan yang harus terus diperbaiki. Siapa yang pertama kali membuat kita merasa bahwa tubuh yang kita miliki tidak cukup?
Mungkin di sanalah persoalan kecantikan berubah menjadi persoalan politik kebudayaan. Bukan tentang siapa yang salah karena mengubah tubuhnya, melainkan tentang dunia yang membuat perubahan itu terasa perlu, masuk akal, bahkan kadang-kadang wajib. Sebab tubuh memang tidak pernah berhenti berubah. Tetapi barangkali manusia membutuhkan satu hal yang semakin sulit ditemukan: hak untuk merasa bahwa tubuhnya, untuk hari ini, sudah cukup.

Rujukan dan Bahan Telusur

• Saito, Yuki, sutradara. Plastic Beauty (Dauntaimu). Netflix, 2026.
• Hall, Stuart, ed. Representation: Cultural Representations and Signifying Practices. SAGE, 1997.
• Foucault, Michel. Discipline and Punish. Pantheon Books, 1977.
• Bordo, Susan. Unbearable Weight. University of California Press, 1993.
• Grosz, Elizabeth. Volatile Bodies. Indiana University Press, 1994.
• Gimlin, Debra L. Body Work. University of California Press, 2002.

Ilustrasi di atas dihasilkan oleh AI, dirancang khusus untuk menggambarkan kontradiksi dan perebutan makna tubuh yang dibahas dalam esai 'Mengasingkan Daging: Plastic Beauty dan Perebutan Makna Tubuh'. Gambar ini mencoba merepresentasikan ketegangan antara agensi diri dan tekanan sosial dalam budaya kecantikan

Postingan populer dari blog ini

Politik Antrean: Ketika BBM Mengatur Waktu dan Tubuh Kota

Antrean BBM di SPBU di Makassar, bukan peristiwa satu-dua hari. Jejak waktunya cukup jelas. Sejak awal Agustus, kendaraan sudah mengantre solar, awal September mengantre pertalite dan pertamax. Kendaraan mengular di setiap SPBU. Antrean itu memanjang hingga ratusan meter dan mengganggu arus lalu lintas. Tapi, ada sesuatu yang ganjil dalam pemandangan itu. Seorang kawan menulis begini. B elum pernah terjadi yang seperti ini. Jadi antrean panjang ini sungguh membuat saya tersengal-sengal. Di benak terutama. Saya berusaha memahami, merencanakan perjalanan dengan pertimbangan yang baru.  Ini mempengaruhi hal-hal yang sangat mendasar dalam rumah kami. Jika pakai perasaan, maka rasa ini namanya kelu. Seperti punya pasangan hidup, yang menjual teman seperjanjiannya  ke orang asing. Harga BBM yang dibayar di SPBU bukan hanya uang yang keluar dari dompet. Ada harga lain yang jarang terlihat. Waktu yang hilang. Antrean membuat waktu produktif berubah menjadi waktu tunggu. Dalam situasi ...

Nasionalisme, Konsumen

APA yang membuat seorang konsumen menjatuhkan pilihan untuk membeli suatu barang. Jawabannya mudah ditebak. Beberapa diantaranya, harga dapat dijangkau, ketersediaan barang, kebaruan.  Pekan akhir September lalu, sekaitan dengan preferensi konsumen, saya terlibat dalam sebuah diskusi. Saya rasa diskusi tersebut seperti mengajak kita kembali pada sebuah masa, 41 tahun silam. Sewaktu sekelompok ibu rumah tangga, di Jakarta, bersuara atas nama kecintaan pada produk dalam negeri. Para ibu ini, pada tahun itu pula, kemudian menginisiasi kekuatan, mendirikan sebuah organisasi konsumen yang pertama di negeri ini. Peristiwa yang sungguh menarik hati, mengingat rezim kala itu sibuk menjinakan atau memberangus peran progresif perempuan. Barangkali suasana diskusi waktu itu, saya tiba-tiba larut memperhatikan konteks waktu saat itu, tahun 1973. Satu tahun sebelum sebuah kerusuhan meledak. Sentimen negatif merebak dimana-mana terhadap kapitalis internasional. Asap hitam membumbung di langit ...

Dialektika Tubuh, Algoritma, dan Ruang Jalanan

Makassar tidak berhenti minum kopi. Yang berubah adalah cara kopi hadir di dalam kota. Rumah kopi pernah menjadi tempat untuk tinggal berlama-lama. Meja marmer, kursi, percakapan panjang, dan waktu yang tidak selalu harus produktif. Kemudian muncul coffee shop modern dengan sofa, Wi-Fi, meja kerja, dan colokan listrik. Kini, kedai kopi semakin banyak hadir dalam bentuk booth, kontainer, atau gerai takeaway: pesan, bayar, ambil, lalu pergi. Perubahan ini bukan sekadar evolusi bisnis kopi. Ia memperlihatkan perubahan hubungan antara tubuh, waktu, benda, dan ruang. Ruang yang Mengondisikan Tubuh Setiap ruang mengorganisasikan kemungkinan yang berbeda. Rumah kopi memberi tubuh alasan untuk menetap. Coffee shop modern memungkinkan tubuh tinggal sambil bekerja dan tetap terhubung dengan jaringan digital. Kedai takeaway, sebaliknya, mengondisikan tubuh untuk bergerak. Ruang dipadatkan, kursi dikurangi, transaksi dipercepat. Namun ruang tidak pernah sepenuhnya menentukan apa yang dilakukan man...

Makassar yang Terlihat, Makassar yang Tidak Terlihat

Kota tidak pernah hanya apa yang tampak. Makassar dapat dilihat dari jalan. Tetapi ia juga dirasakan oleh tubuh. Panas aspal. Bau makanan. Debu. Suara kendaraan. Berat gerobak. Sempitnya trotoar. Tegangan ketika aparat datang. Semua itu adalah kota. Namun ketika kota masuk ke dalam ekosistem digital, pengalaman tersebut mengalami perubahan. I a dipotret. Direkam. Diberi keterangan. Diunggah. Dikomentari. Dikategorikan. Kemudian beredar melalui media dan platform.  Kota yang dialami berubah menjadi kota yang terlihat. Pertanyaannya kemudian sederhana: M akassar yang mana yang terlihat? Pertanyaan ini menjadi penting karena melihat bukan tindakan yang netral. Apa yang terlihat selalu melalui suatu posisi. Melalui kamera. Melalui kategori. Melalui institusi. Melalui media. Melalui algoritma. James C. Scott menunjukkan bagaimana negara modern berusaha membuat masyarakat dan ruang menjadi legible —terbaca melalui kategori, ukuran, peta, sensus, dan berbagai bentuk penyederhanaan admi...

Teror Komodifikasi: Membaca Ulang Politik Agraria Indonesia Melalui Lensa Keadilan Pangan

Pangan antara Perut dan Pasar Pada 24 Oktober 2008, dalam peringatan Hari Pangan Dunia di Markas Besar PBB, Bill Clinton menyatakan bahwa pangan “bukan komoditas seperti yang lain” dan menyerukan kebijakan swasembada pertanian. Pernyataan itu muncul di tengah krisis pangan global yang memperlihatkan rapuhnya sistem pangan internasional. [FAO, 2008] Pangan menopang kehidupan, tetapi ekonomi modern mengaturnya melalui pasar: diproduksi untuk dijual, bergerak dalam rantai komoditas, dihargai, dan dalam kondisi tertentu menjadi objek spekulasi serta akumulasi modal. Akibatnya, perhatian sering berhenti pada ketersediaan dan harga. Padahal persoalan pangan bermula jauh sebelum pangan tiba di pasar: pada tanah, benih, air, tenaga kerja, teknologi, dan keputusan politik yang menentukan siapa dapat memproduksinya dan untuk kepentingan siapa. Komodifikasi juga menjangkau tanah, benih, pengetahuan, dan ruang hidup. Di sanalah persoalan pangan bertemu dengan politik agraria. Rantai Komoditas...