Langsung ke konten utama

Privatisasi Risiko dan Erosi Kelas Menengah (2025–2026)

Masyarakat telanjur percaya mitos: kelas menengah selalu aman dan mandiri. Cultural Studies membongkar ilusi ini. Kelas menengah bukan sekadar angka statistik BPS. Mereka adalah medan tempur kultural tempat legitimasi kekuasaan dan impian mobilitas diuji.




Menganalisis mereka bukan untuk meratapi nasib. Ini cara membaca bagaimana kebijakan negara dan mekanisme pasar membentuk distribusi risiko yang semakin membebani kehidupan rumah tangga. Ketika keamanan ekonomi kelas menengah tergerus, yang dipertaruhkan bukan hanya daya beli, tapi juga martabat hidup.
​Pemadatan Krisis dan Struktur Perasaan
​Penyusutan ini berlangsung dalam suatu konjungtur. Meminjam Stuart Hall (1988), krisis tidak berdiri sebagai peristiwa ekonomi tunggal, melainkan terbentuk melalui pertemuan kontradiksi ekonomi, politik, kebijakan, dan pengalaman sosial. Data Susenas BPS (Maret) menunjukkan populasi kelas menengah merosot dari 57,33 juta jiwa pada 2019 menjadi 47,85 juta jiwa pada 2024. Sementara itu, perhitungan atas data Susenas melalui laporan Mandiri Institute Demographic Insights: Dinamika Kelas Menengah di 2025 mencatat penurunan lebih lanjut menjadi 46,7 juta pada 2025, dengan kelompok calon kelas menengah (aspiring middle class) melonjak hingga 142 juta jiwa (50,4%). Angka tersebut mencerminkan perubahan klasifikasi berdasarkan pengeluaran per kapita relatif terhadap garis kemiskinan, bukan dengan sendirinya perubahan posisi kelas dalam relasi produksi.
​Di sinilah privatisasi risiko bekerja. Hacker (2006) menjelaskan bagaimana risiko ekonomi yang sebelumnya ditanggung negara dan perusahaan semakin dialihkan kepada individu dan rumah tangga. Data Tunggal Sosial-Ekonomi Nasional (DTSEN) berpotensi memperkuat ketepatan sasaran perlindungan sosial. Namun, ketepatan data tidak otomatis menutup celah perlindungan: rumah tangga yang tidak lagi tergolong miskin belum tentu memiliki keamanan kerja, tabungan, atau jaminan yang cukup untuk menghadapi guncangan ekonomi. Pergeseran risiko di Indonesia ini bekerja melalui kombinasi informalitas kerja, terbatasnya jaminan sosial, ekspansi kredit konsumtif, serta biaya pendidikan dan kesehatan yang semakin ditanggung sendiri oleh rumah tangga.
​Tekanan struktural ini dapat dibaca melalui konsep struktur perasaan Williams (1977). Kecemasan harian, rasa malu atas kehilangan status, dan retaknya impian kemandirian bukan sekadar persoalan psikologis. Ia merupakan pengalaman sosial yang terbentuk dalam perubahan kondisi material kehidupan, tatkala tanggung jawab keamanan hidup dibebankan kepada individu dan rumah tangga.
​Fintek sebagai Pengganti Jaring Pengaman
​Ketika perlindungan kolektif tidak memadai, pasar keuangan menawarkan kredit sebagai jalan keluar. Martin (2002) dan Soederberg (2014) membantu membaca bagaimana finansialisasi memasuki kehidupan sehari-hari dan menjadikan utang sebagai mekanisme pengelolaan sekaligus disiplin kehidupan.
​Pinjaman daring (pinjol) dan fasilitas buy now pay later (BNPL) menawarkan akses kredit untuk menambal defisit likuiditas rumah tangga. OJK mencatat outstanding pinjaman daring mencapai Rp98,54 triliun pada Januari 2026, dengan TWP90 sebesar 4,38%. Pada periode yang sama, pembiayaan BNPL oleh perusahaan pembiayaan mencapai Rp12,18 triliun, dengan NPF gross sebesar 2,77%. Angka-angka ini menunjukkan skala aktivitas kredit dan risiko pembiayaan bermasalah, bukan ukuran langsung beban bunga peminjam.
​Utang bukan sekadar persoalan transaksi finansial. Kewajiban pembayaran membentuk disiplin waktu, kerja, dan konsumsi. Individu harus mempertahankan arus pendapatan untuk memenuhi kewajiban finansial, bahkan ketika pekerjaan dan pendapatannya tidak stabil.
​Tiga Kontradiksi dan Artikulasi Politik
​Konjungtur ini digerakkan oleh tiga kontradiksi utama:
• ​Prekaritas dan Regulasi Kerja: Dinamika regulasi ketenagakerjaan—mulai dari Putusan MK No. 168/PUU-XXI/2023, PP No. 49 Tahun 2025 tentang Pengupahan, hingga proses pengesahan UU Pelindungan Ketenagakerjaan—memperlihatkan upaya penataan norma. Namun, efektivitasnya masih harus diuji terhadap dinamika pasar kerja informal.
• ​Celah Perlindungan Sosial: Negara memiliki instrumen jaminan sosial, tetapi cakupan dan mekanismenya belum sepenuhnya mampu melindungi kelompok di luar kategori kemiskinan yang terancam turun kelas, memaksa mereka mengandalkan instrumen utang.
• ​Fragmentasi dan Artikulasi Politik: Pengalaman kehilangan keamanan ekonomi tidak otomatis berkembang menjadi kesadaran politik kolektif. Bagaimana kecemasan individual diartikulasikan menjadi tuntutan redistribusi struktural masih menjadi persoalan penting di ruang publik.
​Krisis ini adalah gelanggang perebutan makna. Jika krisis dibingkai sebagai persoalan personal, jawabannya berhenti pada literasi finansial individu. Jika dibaca secara struktural, persoalan ini menuntut pembicaraan tentang redistribusi dan perluasan jaminan sosial.
​Kesimpulan
​Erosi kelas menengah bukan sekadar persoalan turunnya posisi ekonomi, melainkan perubahan mendasar dalam cara masyarakat menanggung risiko hidup. Privatisasi risiko bekerja melalui konfigurasi kebijakan dan mekanisme pasar yang menempatkan tanggung jawab keamanan hidup pada pundak individu. Tanpa pembacaan struktural, kita hanya akan terus menyalahkan korban atas krisis yang dibentuk oleh sistem.


​Rujukan Ringkas:
• ​Hacker, J. S. (2006). The Great Risk Shift. Oxford University Press.
• ​Hall, S. (1988). The Hard Road to Renewal. Verso.
• ​Martin, R. (2002). Financialization of Daily Life. Temple University Press.
• ​Soederberg, S. (2014). Debtfare States and the Poverty Industry. Routledge.
• ​Williams, R. (1977). Marxism and Literature. Oxford University Press.
• ​BPS, Mandiri Institute, & OJK (2025–2026).

Postingan populer dari blog ini

Pangan, Kekuasaan, dan Dapur

Keragaman, Politik Ukuran, dan Commoning dari Bawah Pangan tak sekadar gizi. Ia juga rezim kebijakan, memori kolektif, dan artikulasi kekuasaan. Esai ini menelusuri bagaimana beras menjadi ukuran kecukupan nasional, pangan lain dipinggirkan, beban sosial-ekologis dibagi timpang, dan warga merebut ruang hidup. Ini bukan romantisasi pangan lokal, melainkan pembacaan atas wacana dan institusi yang menaturalisasi tatanan hegemonik. Kekuasaan yang Membuat Sesuatu Tampak Wajar Kekuasaan tak selalu bekerja melalui paksaan terbuka. Ia membentuk apa yang dianggap wajar ( commonsense ): pangan pokok, makan layak, dan kemajuan. Gramsci membantu menjelaskan bagaimana kewajaran menjadi bagian dari hegemoni melalui persetujuan sosial (Selections from the Prison Notebooks, 1971). Sementara F oucault menambahkan bahwa pengetahuan, institusi, dan praktik sehari-hari turut membentuk perilaku (Ethics: Subjectivity and Truth, 1997).  Namun, warga juga menafsirkan ulang dan melawan dalam kese...

Ijazah Palsu, Pasar Gelap, dan Istana: Siapa yang Memproduksi Legitimasi?

Pembuka: Ketika Tanda Mengalami Devaluasi ​Ada persimpangan yang menarik untuk dibaca dalam dinamika politik terkini. Di satu spektrum, kasus pemalsuan dokumen dan ijazah diperjualbelikan secara terbuka—dalam pengungkapan oleh kepolisian, ijazah palsu bahkan ditawarkan sekitar Rp600.000. Di spektrum lain, publik terus disuguhi polemik atas keabsahan dokumen pendidikan pejabat publik. Sementara pada medan yang berbeda, seorang figur kritis yang lama memproduksi klaim kepakaran digital-forensik atas keaslian dokumen politik, akhirnya mengoreksi hasil kajiannya, meminta maaf, dan bertemu langsung dengan pimpinan negara di Istana Wakil Presiden. ​Ketiga peristiwa ini tidak perlu diikat secara paksa dalam satu hubungan sebab-akibat yang linear. Namun, ketiganya dapat dibaca sebagai tiga skala analisis—mikro, meso, dan makro—terhadap satu pertanyaan yang mendasar: bagaimana legitimasi diproduksi, disahkan, dan dikonversi menjadi akses terhadap kekuasaan? ​ Skala Mikro: Ijazah Palsu dan Pe...

Menjerat Genom: Biopiracy, DSI, dan Politik Kebudayaan Pengetahuan Lokal

Glokalisasi kerap dirayakan sebagai panggung hibriditas yang ramah—ruang tempat lokalitas dan tren dunia saling menyapa. Kita melihatnya di etalase toko: racikan herbal tradisional hadir dalam kemasan kosmetik minimalis berlabel "kembali ke alam". Namun di balik narasi elok itu, ada kontestasi kekuasaan yang tidak pernah setara. Asimetri ini bukan anomali, melainkan kondisi struktural yang dilembagakan melalui rezim HKI global di bawah TRIPS/WTO. Pertemuan antara keanekaragaman hayati Selatan Global dan industri multinasional Utara Global jarang berakhir sebagai dialog seimbang. Lebih sering, ia menjelma menjadi biopiracy: pengetahuan komunal dan sumber daya genetik diambil, dipagari, dan dialihkan menjadi komoditas privat. Kasus Shiseido pada pertengahan 1990-an adalah cermin historis yang jernih. Pada 24 Januari 2002, setelah protes publik yang digalang LSM Indonesia, Shiseido membatalkan seluruh permohonan patennya atas ekstrak jamu untuk produk "UV White". Dala...

Coto Sudah Global Sebelum Ia Merantau

Apa yang membuat coto disebut coto Makassar? Jawabannya tampak sederhana: karena ia berasal dari Makassar. Tetapi jika kita mengikuti perjalanan bahan, pengetahuan, manusia, dan makanan itu sendiri, jawabannya menjadi lebih rumit. Coto tidak hanya mempunyai tempat. Ia mempunyai perjalanan. Kacang tanah yang digunakan dalam kuahnya bukanlah tanaman asli Nusantara. Ia berasal dari Amerika Selatan dan kemudian menyebar melalui jaringan pertukaran lintas wilayah. Tauco membawa jejak perjumpaan dengan tradisi kuliner Tionghoa. Kerbau pun telah hadir dalam jaringan ekonomi Makassar sejak masa perdagangan awal. Anthony Reid mencatat bahwa pada 1609 orang Belanda di Makassar dapat membeli puluhan kerbau dari seorang pemilik. Catatan itu tentu tidak membuktikan bahwa coto sudah ada pada masa tersebut. Ia hanya memperlihatkan bahwa bahan dan komoditas yang kemudian berada dalam sejarah kuliner Makassar telah bergerak dalam jaringan yang lebih luas. Di sinilah kata “global” dalam judul ini perlu...

Ikan Sapu-Sapu di Sungai Kekuasaan: Mengaca pada The Fixers

Sebuah serial televisi tidak selalu hadir hanya untuk bercerita. Kadang-kadang, ia datang untuk memberi kita sepasang kacamata baru. The Fixers, drama kriminal Taiwan yang tayang di Netflix, menarik perhatian bukan hanya karena jalinan aksi dan intriknya yang menegangkan. Serial ini membuka ruang gelap di antara hukum dan pelanggaran, sebuah wilayah abu-abu yang menjembatani institusi formal dan dunia bawah. Di ruang sunyi itulah hidup para fixer—orang-orang yang disewa untuk membereskan persoalan yang tidak bisa, tidak mau, atau tidak boleh diselesaikan melalui jalur resmi. Judul Mandarin serial ini memberikan petunjuk metaforis yang krusial: Hēi Bái Qīng Dào Fū (黑白清道夫). Secara harfiah, qīngdàofū berarti petugas pembersih. Namun dalam bahasa sehari-hari, nama itu juga digunakan untuk menyebut ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis). Di Indonesia, ikan introduksi dari Amerika Selatan ini dikenal sebagai spesies invasif yang memiliki daya tahan luar biasa di lingkungan tercemar. P...