Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2026

Dapur, Perempuan, dan Dua Bahasa: Catatan Kritis dari Makassar

Dapur sering dibaca sebagai urusan rasa: resep, aroma, warisan. Esai ini mencoba dari sisi lain: bahasa dan kuasa. Dapur punya cara bicara. Negara juga. Keduanya bertemu di panci. Apa yang terjadi ketika dua bahasa itu bertemu, dan siapa yang menerjemahkan? Satu catatan sejak awal. Ini bukan laporan lapangan. Fakta kebijakan dan linguistik bersumber pada daftar pustaka. Yang belum terverifikasi tidak dinyatakan sebagai temuan, melainkan diajukan sebagai pertanyaan. Daftar istilah dapur Makassar sengaja tidak dimuat, sebab belum ada penutur atau kamus yang memeriksanya. Dapur sebagai Ruang Tutur Dell Hymes meminta kita membongkar peristiwa tutur: siapa bicara, kepada siapa, di mana, untuk apa, dan dengan cara apa. Pertanyaan itu bisa kita bawa ke dapur. Untuk Makassar ada satu petunjuk linguistik. Sukardi, Busri, dan Badrih (2024) mendeskripsikan klitik -mi, -pi, dan -ji dalam bahasa Makassar sebagai penanda aspek. Hastianah (2013) menjumpai klitik yang sama dalam tuturan Indonesia seor...