Tan Malaka sedang kembali.
Namanya muncul di layar. Di buku. Di podcast. Di ruang diskusi. Di antara percakapan anak muda tentang Indonesia. Kita dengan mudah bisa menyebutnya kebangkitan popularitas. Saya kira tidak sesederhana itu.
Pertanyaan yang lebih penting: bagaimana seorang tokoh yang telah lama mati dapat kembali hadir dalam kehidupan kebudayaan kita?
Jejak yang Diaktifkan
Tidak semua jejak Tan Malaka bergerak dengan cara yang sama.
Madilog memperoleh kehidupan baru melalui ruang digital. Ia dibicarakan sebagai cara berpikir, kritik terhadap logika mistika, dan latihan membaca kenyataan dengan bukti.
Di Malaka Project, misalnya, Tan Malaka tidak diambil secara utuh. Yang diambil adalah esensi dan spirit tertentu, lalu disesuaikan dengan kenyataan yang telah berubah.
Masa lalu tidak sekadar dipindahkan. Ia diterjemahkan.
Tan Malaka 1943 bertemu dengan Indonesia hari ini.
Muncul hubungan baru:
Madilog → berpikir kritis → hoaks → pendidikan → masyarakat baru.
Hubungan itu tidak alamiah. Tetapi juga tidak sembarang. Ia mungkin terjadi karena tersedia jejak, mediator yang mengaktifkannya, dan persoalan kontemporer yang membuat hubungan tersebut masuk akal. Inilah artikulasi dalam pengertian Stuart Hall: hubungan dibentuk, bukan ditemukan begitu saja.
Seratus Tahun Kemudian
Ada jejak lain: Naar de Republiek Indonesia.
Buku itu lahir pada 1925. Seratus tahun kemudian, ia kembali diterbitkan, dibicarakan, didiskusikan, dan dibaca ulang. Peringatan seratus tahun menjadi momen aktivasi. Teks lama memperoleh pintu masuk baru.
Republik yang dibayangkan Tan Malaka dalam situasi kolonial dibaca kembali dalam Indonesia yang berbeda: oligarki, ketimpangan, kekuasaan, demokrasi, dan masa depan republik.
Pertanyaannya bukan: apakah Tan Malaka masih relevan?
Pertanyaannya: siapa yang membuatnya relevan, dengan persoalan apa, dan melalui jaringan apa?
Sebab relevansi bukan benda yang tersimpan di dalam teks. Ia diproduksi dalam hubungan antara teks dan konteks.
Ketika Algoritma Ikut Bekerja
Kemudian datang platform.
YouTube. Instagram. TikTok.
Algoritma tidak menciptakan Tan Malaka. Jejaknya sudah ada jauh sebelumnya. Tetapi algoritma dapat mengatur kemungkinan sebuah jejak untuk terlihat. Satu video ditonton. Direkomendasikan. Ditonton lagi. Dibagikan. Dikomentari. Diproduksi ulang.
Jejak yang semula berada di halaman buku masuk ke layar. Dari layar masuk ke percakapan. Dari percakapan mungkin kembali ke buku.
Namun jangan buru-buru berkata: algoritma membuat Tan Malaka populer.
Itu belum tentu.
Pertanyaan yang lebih tajam: jejak Tan Malaka yang mana yang diperkuat? Madilog? Tokoh yang dilupakan? Kritikus kekuasaan? Pemikir yang bebas? Jika algoritma bekerja, ia tidak hanya memperbanyak. Ia ikut mengatur visibilitas. Dan visibilitas bukanlah makna.
Penonton Tidak Diam
Di sinilah encoding/decoding Stuart Hall menjadi penting.
Penonton bukan ember tempat pesan ditumpahkan.
Kreator melakukan encoding. Ia memilih Tan Malaka, Madilog, kutipan, gambar, dan persoalan yang dianggap relevan.
Pembaca melakukan decoding.
Ia bisa menerima. Menegosiasikan. Menolak. Bahkan mengambil sebagian dan membentuk hubungan baru.
Karena itu prosesnya tidak berhenti pada:
Tan Malaka → media → penonton.
Ia bergerak:
encoding → decoding → respons → encoding kembali.
Komentar penonton dapat menjadi bahan bagi konten berikutnya. Pembacaan dapat melahirkan pembacaan lain. Pembaca dapat menjadi produsen. Penonton dapat menjadi penyebar.
Di sinilah agensi bekerja. Tetapi agensi tidak bekerja di ruang kosong.
Struktur dan Agensi
Platform memiliki struktur: algoritma, format, aturan, metrik, dan logika engagement. Namun kreator tidak sepenuhnya tunduk. Mereka mencari celah. Mengubah judul, durasi, gaya, dan cara gagasan dikemas.
Sebaliknya, praktik kreator dan pengguna juga dapat mengubah lingkungan platform.
Struktur dan agensi tidak berdiri berhadapan. Keduanya saling membentuk.
Begitu pula kurator dan pembaca.
Penulis mengarahkan pembacaan. Pembaca dapat membelokkannya. Pembelokan itu dapat menghasilkan karya baru. Karya baru kembali mengarahkan pembacaan berikutnya.
Maka yang kita telusuri bukan sekadar bagaimana Tan Malaka sampai kepada generasi hari ini. Kita juga perlu melihat bagaimana generasi hari ini ikut membentuk Tan Malaka yang kemudian hadir kembali.
Bukan Sekadar Popularitas
Yang hidup kembali bukan tubuh Tan Malaka. Yang hidup kembali adalah jejaknya. Jejak itu dipilih. Diaktifkan. Dimediasi. Diedarkan. Dibuat terlihat. Dibaca. Diperdebatkan. Kemudian dirakit kembali.
Karena itu, penelitian tentang Tan Malaka hari ini tidak cukup berhenti pada jumlah penonton, jumlah buku yang terjual, atau klaim bahwa Gen Z menyukainya.
Yang perlu dibongkar adalah kerja kebudayaan yang membuatnya hadir kembali.
Jejak apa yang dipilih?
Siapa yang memilih?
Jaringan apa yang membuatnya bergerak?
Bagaimana platform membuatnya terlihat?
Dengan persoalan apa ia diartikulasikan?
Bagaimana pembaca membacanya?
Dan apa yang berubah setelah pembacaan itu?
Tan Malaka tidak kembali kepada kita dalam keadaan utuh.
Ia datang melalui jejak yang terus dipilih dan dibentuk.
Dan dalam proses itu, kita bukan hanya sedang membaca Tan Malaka.
Kita sedang melihat bagaimana Indonesia hari ini membaca masa lalunya sendiri.