Langsung ke konten utama

Postingan

Bisakah Uang Membeli Kebahagiaan

MENGAPA selalu ada lemari yang memamerkan cangkir, piring keramik, sendok antikarat dan panci, di ruang tamu dalam rumah-rumah di kampung. Bukankah peralatan rumah tangga itu mestinya berada di dapur, bukannya malah disimpan di ruang tamu. Ini pertanyaan yang diajukan seorang kawan, beberapa tahun silam. Kawan saya ini memang tidak sedang bercanda, dia berada dalam ruang diskusi. Pertanyaannya memiliki dasar argumentatif.  Jika hal ini ditafsirkan sebagai perilaku rumah tangga berkaitan dengan perbandingan sosial, maka pendapatan atau konsumsi rumah tangga menjadi relatif, menjadi tergantung sebenarnya dengan rumah tangga atau individu lainnya di kampung. Orang mengklaim dengan menyebutnya dalam sebuah literal sebagai " bandwagon effect " (efek ikut-ikutan, ikut yang populer), metafor yang berasal dari sebuah gerobak yang membawa band dalam rombongan sirkus guna menarik perhatian orang. Para pemikir ekonomi menjelaskan perilaku rapuh ini mudah sekali dibentuk, lantaran did...

Kampung Bajo

SEORANG perempuan mengetuk kaca pintu mobil. Di tepi jalan beraspal licin di Abeli. Tak begitu jauh dari jembatan warna kuning, jalan masuk menuju pelabuhan di Teluk Kendari. Dia menyergap saya dengan pertanyaan: "pak tadi barusan dari dalam kan", seraya menunjuk sebuah kampung. Dia tidak berhenti bicara, hampir tidak ada jeda. Seingat saya, dia berkata,"ini sudah tiga bulan, bagaimana janjinya". Saya sungguh tidak mengerti ujung-pangkal pertanyaan yang dilontarkannya. Saya baru paham, ketika dia bicara soal "bantuan rumah", yang katanya dia sudah didata oleh pemerintah setempat. Dia sedang menagih janji, rupanya. "Pemerintah itu hanya lewat-lewat saja di jalanan ini,"ujarnya saat menutup percakapan dengan raut muka kecewa.   Saya memang baru saja keluar dari dalam kampung yang dimaksud. Kampung Bajo.  Sebuah kampung, dengan perahu-perahu penangkap ikan yang berlabuh di depan deretan rumah. Sebagian adalah rumah kayu yang mengapung di atas la...

Sister in Danger

My old sister is in danger/My young sister is in danger/My aunty is in danger/My mother is in danger//.../Don't you blame the victim/Maybe you'll be the next/Let's question the law/Where has justice gone//... (petikan lirik lagu bertajuk "Sister in Danger", SIMPONI) SISTER in Danger  dinyanyikan Simponi dua kali dalam satu hari di dua panggung pertunjukan yang berbeda di Makassar. Pagi hari, di sebuah sekolah menengah atas negeri di Jalan Taman Makam Pahlawan, lantas pada petang harinya, di halaman dalam benteng yang dibangun kolonial. Saya pikir, mereka bukan sekedar sindikasi musisi anak-anak muda, mereka juga aktivis. Mereka menghayati pola, modus, dan lokus kekerasan seksual yang mengancam secara serius, bahkan mematikan perempuan di Indonesia. Sister in Danger diniatkan untuk pembicaraan kembali, mengenali, membongkar fakta dan angka-angka korban kekerasan itu. Perempuan dalam bahaya.  Kekerasan adalah kejahatan. Data kejahatan seksual terhadap perem...

Karaeng Intang

ISTERI saya menangis sedih, di depan Markas Kodam, mobil kami pun berlari kencang menembus malam, saya rasa seperti terbang dari atas jembatan Tello sampai di tempat parkir Rumah Sakit Pendidikan Unhas, Makassar. Begitu mendengar kabar Karaeng Intang telah berpulang kembali ke Sang Khalik. Karaeng Intang, begitulah orang kampung menyebut nama Zohra Andi Baso, di tanah kelahirannya, Pundata Baji, Labakkang, Pangkep. Saya bertemu pertama kali dengannya, pertengahan 1990, di kampus. Saat itu, kami sibuk melawan reduksi ilmu pengetahuan sekaligus terhadap segala tendensi pemecahan gerakan mahasiswa. Apa yang kami pahami ketika itu, kampus sedang bersekutu dengan rezim ototarian yang sedang berkuasa. Kampus sedang kehilangan jiwa sejatinya. Kak Zohra, demikian kami memanggilnya akrab, memberikan kontribusi semangat luar biasa terhadap usaha yang kami lakukan. Merekatkan perkawanan dan meningkatkan tensi diskusi di kampus. Untuk tidak berkompromi, apalagi takluk, terhadap kekuasaan yang ...

Atambua

MOTA AIN, 22 kilometer. Begitu yang saya baca, tulisan papan petunjuk jalan, selepas menyelusuri jalan berkelok-kelok tajam menuruni punggung perbukitan dari Kota Atambua. Pohon-pohon asam besar berjejer di tepian jalan, tapi terik matahari Timor masih terasa menyengat. Di atas mobil, musik dangdut koplo belum juga habis menghentak-hentak. Berlari kencang di atas jalanan mulus, melewati Atapupu, pelabuhan kontainer di utara Belu, menuju garis depan negeri ini. Kawan saya, seorang anak muda keturunan Timor Leste, bilang kalau kapal-kapal yang sedang merapat itu, membawa beras dan semen dari Makassar. Mota Ain, titik paling ramai, diantara jalanan ke tapal batas Timor Leste lainnya, termasuk daerah eksklave, Oecusse. Seingat saya, ketika saya masuk dari desa Fatuketi, jalanan menuju pintu masuk Oecusse, tidak seramai Mota Ain. Beberapa ruas jalannya pun buruk. Kalau pun Mota Ain ramai, karena lebih dekat dengan Dili, hanya butuh waktu 2-3 jam saja. Menuju titik batas, jalan seki...

Mae

JANGAN panggil aku ibu, sebut saja namaku, Mae. Sebuah pesan pendek masuk dalam telepon genggam saya, pagi itu. Usia Mae mendekati 35. Sudah sekian tahun lamanya, Mae menjadi orang tua tunggal bagi dua anaknya. Tiga kali menikah, dan semuanya berantakan. Pada alasan yang sama, ketiga lelaki itu tidak peduli akan hidup Mae dan anaknya. Mae pernah bertahan hidup sebagai buruh migran di negeri jiran. Lima kali ganti majikan, disiksa, lari dengan speedboat menuju arah Medan. Mae memang tidak lahir dari keluarga yang mapan. Bapaknya, seorang penjaga malam. Ibunya, tukang pijat. Mae tinggal di sebuah pemukiman padat penduduk di Kota Mataram. Berumah di atas tanah milik pemerintah, orang sering menyebutnya sebagai tanah GG (g overnment ground ).  Sebuah tanah dimana rumah-rumah saling berdesakan, tanpa halaman, penuh dengan jalan tikus mirip labirin. Saya berdiri di ujung lorong, suatu sore, tak jauh dari rumah Mae. Satu dua orang melintas, matanya merah, mulutnya bau tuak. Seorang...

Bone

BERAPA warung makan yang berada di tepi tikungan jalan? Seorang kawan bertanya, ketika melewati jalanan licin berkelok-kelok, di antara tebing batu cadas, menembus malam pekat, antara Camba dengan Mallawa, Kabupaten Maros. Pertanyaan ini tidak mudah dijawab. Rasanya, meski tidaklah terlalu tepat membandingkannya. Lebih mudah bagi seorang isteri Kepala Desa, sebuah desa di Awangpone, Kabupaten Bone, menjawab secara ringkas siapa warganya. Saat itu kami hendak melakukan sampling dalam sebuah survei, dengan sample framing yang bersandar pada buku induk penduduk, yang berisi kartu keluarga warga desa. Sang isteri Kepala Desa ini, membuka secara cepat lembar demi lembar buku itu, sembari mengatakan pada saya: “pak … ini sudah lewat umurnya,  kalau yang ini sudah tidak ada lagi, sudah ke Malaysia”. Bagi saya, yang agak mengejutkan, adalah betapa besar harapan warga desa menjadi pekerja migran di negeri jiran. Majalah National Geographic, dalam sebuah edisi, memperluas istilah refuge...