Langsung ke konten utama

Pos

Perebutan Makna

BUNG, Usi, Abang, Caca: memiliki makna yang sejatinya sama. Panggilan yang digunakan untuk kakak laki-laki dan kakak perempuan, bagi para penutur Ambon. Namun, makna (tanda) itu dapat berbeda ketika dibaca ternyata menggambarkan segregasi sebagai identitas kelompok yang "semakna". Bagaimana kemudian "bahasa" (langue) dapat memproduksi "persamaan" dan "perbedaan" makna. Boleh jadi, bersamaan dengan kehadiran kata (kode) yang disandikan: Obet dan Acang (atau, Sarani dan Salam), pada peristiwa (konteks) konflik kekerasan yang menghebat di Ambon. Sejauh mana kita dapat membaca (dan dibaca) makna simbolik tersebut, mungkin sejauh kemampuan (kompetensi) untuk menelusuri relasi sosial dan kuasa politik, juga ikatan sejarah, yang mempengaruhi pembacaan (kesadaran) seseorang terhadap dunia sosial. Maka, pengertian "kompetensi" ini berhubungan dengan kelas sosial, juga "kesenjangan" dalam ruang geografis. Pertanyaan penting yang masih …
Pos terbaru

Quiqui, Perlawanan Budaya

CUACA di luar beranjak basah sore itu, sekelompok ibu mulai belajar menyulam. Gulungan benang warna-warni terserak di lantai. Ujung benang terselip di antara jemari mereka, bersamaan jarum sulam berayun-ayun memutar membuat pola. Mereka duduk melingkar sembari bercakap-cakap di sekolah pelopor keadilan, tak jauh dari jembatan merah Maccini Sombala, Makassar. Mereka menyulam di tengah percakapan dunia yang ringkih dan permisif terjadinya praktik kekerasan. Menyulam, dalam bahasa Bugis Makassar disebut "qui-qui", kabarnya dibawa pedagang Gujarat pada masa kejayaan kerajaan Gowa-Tallo. Saya sendiri tergoda dengan argumentasi: kenapa ada pelajaran menyulam di sekolah tersebut.
Kata isteri saya: simulasi motorik. Belajar menyulam mensimulasi agar mereka lebih telaten dan fokus mendengar suara korban dan bisa menulis secara terstruktur kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Saya jadi teringat cerita anak-anak yang duduk di bangku sekolah dasar, ketika ibu guru mereka menyuruh…

Racun

KATA "racun", hari-hari ini, menarik perhatian orang ramai. Paling tidak itulah yang terbaca dalam pembicaraan di media sosial dan layar kaca: sebuah sidang pengadilan mengenai matinya seorang perempuan bernama Mirna, 6 Januari 2016. Mirna tiba-tiba tumbang usai menyeruput es kopi Vietnam di sebuah kedai kopi, sebuah mal di Jakarta. Saat saya menulis ini, sidang itu sedang berjalan. Mirip opera sabun atau sinetron, makan waktu panjang, mungkin melelahkan, toh banyak orang sedang menanti ujung akhir ceritanya. Mereka menanti putusan akhir hakim, yang mungkin dapat menjawab: apakah Mirna meninggal karena racun sianida, benarkah racun itu berada dalam kopi yang diminum Mirna. Paling tidak, kasus ini diharapkan tidak larut menjadi "misteri".
Sidang pengadilan yang melekat dengan kata "racun" tersebut, membuat sebagian dari kita memanggil kembali memori lama terkait terbunuhnya Munir. Orang teringat kembali, Munir. Lelaki bersahaja itu kerap kali menerima intim…

Foto Tua

FOTO tua mungkin bukan untuk menghadirkan kembali kenangan lama. Bagi para penganut teori lingkaran sejarah, boleh jadi menaifkan nilai dari sebuah kenangan. Mereka memuji kata-kata klise: “tak ada hal yang baru di dunia”. Sejarah hanyalah sebuah siklus, yang mengikuti pola yang berulang-ulang. Namun bagi saya, foto tua dapat mengajukan tafsiran. Kita dapat mengajukan tafsiran baru, rekonstruksi mengenai suatu zaman. Tidak sekedar untuk mengingat, agar tidak lupa. Setumpuk foto-foto tua saya temukan dalam sebuah kardus berdebu di sudut kantor. Salah satu kardus kiriman dari kantor lama kami di Jalan Sunu, Makassar.Foto-foto tua yang tersimpan rapi itu, mengganggu perhatian saya. Bahkan, saya meminta jeda untuk sebuah diskusi, nasib perlindungan konsumen di era digital. Kami sedang mengamati secara serius, hiruk-pikuk para migran dan pribumi digital. Foto-foto tua itu merepresentasikan apa yang sudah dikerjakan pada dekade 1990-an. Saya jadi teringat dengan ungkapan saat itu: dari pela…

Ruang Kota, Leisure

Denyut di jantung kota/Pusat  gelisah dan tawa/Dalam selimut debu dan kabut/Hitam kelam warnanya//Sejuta janji kota/Menggoda wajah-wajah resah … Semua berkejaran dalam bising/Mengapa sejuta wajah engkau libatkan/Dalam himpitan kegelisahan/Adakah hari esok, makmur sentosa/Bagi wajah-wajah yang menghiba//(Balada Sejuta Wajah, God Bless)
GOD Bless, sebuah group band rock legendaris di negeri ini. Didirikan tahun 1973, dihitung sejak pementasan pertama kali mereka di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Dahsyatnya group band ini mampu bertahan hingga 40 tahun lebih.[1] Tumbuh dari panggung pementasan, sebelum masuk dapur rekaman. Mereka menjadi band pendamping konser group rock dunia Deep Purple di Senayan pada 1975. God Bless dianggap dapat menjadi patron (role model) bagi anak muda sebagai penikmat musik, sekaligus yang menaruh minat membuat band rock. Balada Sejuta Wajah merupakan salah satu lagu dalam album bertajuk “Cermin”, yang merupakan judul lagu pembuka. Sebuah album yang dikerjakan pa…

Badai dalam Perjumpaan Budaya

PIDATO Sri Mulyani di sebuah kampus, sehari sebelum dilantik kembali menjadi Menteri Keuangan, mengusik perhatian saya. Mantan pejabat teras Bank Dunia ini membicarakan badai yang sempurna. Sebuah badai yang sedang melumpuhkan negara-negara yang semula menjadi mesin pertumbuhan ekonomi dunia. Di sisi lain, kita mendiami sebuah dunia yang paradoks. Dunia yang kini banjir informasi, akan tetapi cenderung tidak membuka pikiran dan wawasan kita, bahkan memudahkan kita memuntahkan prasangka, menghilangkan sisi lain yang berseberangan dengan kita. Sri Mulyani juga membicarakan ketimpangan di luar kendali korban. Kesenjangan, baginya, bukan sekedar ketimpangan pendapatan, melainkan ketimpangan peluang. Apa yang menarik perhatian saya. Dia mempercakapkan ketimpangan itu, berada di tempat dimana kita lahir dan orang tua kita. Tentu saja, yang dimaksud bukan karena kita lahir di tempat yang salah, atau bukan pula karena salah bunda mengandung kita.
Baiklah, kita membuka kembali peta negeri ini. …

Capung

DRAGONFLY effect. Saya mendapatkan istilah ini dalam sebuah obrolan, dalam sebuah grup WhatsApps. Obrolan tersebut membincangkan sebuah buku yang ditulis Jennifer Aaker dan Andy Smith: "The Dragonfly Effect", yang menggambarkan betapa cepat, efektif, dan kuatnya media sosial dalam mendorong perubahan. Saya sendiri sedikit tergoda dengan ungkapan metafor mengenai: capung. Orang Makassar menyebutnya, bereng bereng, seperti merek kaos yang dibuat anak muda di Makassar. Mengapa mesti capung? Salah satu jenis serangga predator, yang diperkirakan telah terbang di bumi sejak 300 juta tahun lalu. Dalam ranah budaya di banyak tempat, capung penuh dengan simbolisme, penuh dengan cerita. 
Serangga ini terlihat seperti hewan mungil yang ramah tidak berbisa, namun faktanya, capung adalah predator paling brutal di dunia binatang. Bahkan melebihi singa Afrika, sebagai hewan karnivora yang ditempatkan di puncak rantai makanan. Capung mampu memburu, menangkap, mengunyah total mangsanya dengan…