Skip to main content

Posts

Dramaturgi Superpippo, 17 Hari Menuju Kotak Suara

"Orang ini pasti lahir dalam posisi offside" (Sir Alexander Chapman Ferguson, Pelatih Manchester United 1986-2013, wikipedia) BANYAK orang tahu, yang dimaksud Ferguson adalah, Fillipo Inzaghi, mantan striker Italia. Kalau kita searching melalui google, cukup banyak cerita yang mengenai sosok Inzaghi, atau kita bisa menonton aksinya melalui youtube. Lelaki kelahiran Piacenza, Italia, 9 Agustus 1973, ini memang memiliki daya tarik orang berkomentar. Kisah yang kerap kali muncul, Inzaghi digambarkan jauh dari tipikal ideal seorang pemain depan, tubuhnya ringkih, kerempeng ─Jaap Stam, mantan pemain belakang asal Belanda, bilang: sedikit saja dia disentuh, maka dia jatuh seperti terkena peluru, kecepatannya ( sprint ) payah, teknik ( skill ) di bawah standar, apalagi bicara soal talenta. Johan Cruyff, pemain legendaris dan pelatih Belanda, meledek Inzaghi sebagai orang "yang benar-benar tidak bisa bermain sepak bola sama sekali". Inzaghi dikenal suka melakukan  d...

Pemilu di Negara-Pasar (Belajar dari Pemilihan Legislatif di Makassar)

I think I can say, and say with pride that we have some legislatures that bring higher prices than any in the world (Mark Twain, penulis) - Speech 7/4/1873 BELAKANGAN ini, orang-ramai membicarakan transaksi politik, sekaitan peristiwa pemilihan legislatif tempo hari. Transaksi politik bagian yang tidak terpisahkan dalam politik distributif, sebagai arena pengalokasian dan distribusi sumberdaya. Di ujung pembicaraan adalah soal klientelisme ( clientela ), atau kalau boleh saya sederhanakan sebagai: perdagangan-suara ( vote-trafficking ). Tahun-tahun terakhir ini, terjadi lonjakan jumlah penelitian klientelisme dan memperoleh perhatian banyak orang. Perkara klientelisme memang menarik minat para ahli politik sejak akhir 1960-an. [1]  Jika diuraikan lebih lanjut, studi klientelisme memiliki tahapan perkembangan “penjelasan” dari wilayah tradisional agraris sampai dengan respon terhadap demokrasi perwakilan pada saat ini. [2]  Misalnya, pernyataan bahwa: orang miskin le...

Revolusi Keserakahan (From the Green Revolution to the Greed Revolution)

“Food is not a commodity like others. We should go back to a policy of maximum food self-sufficiency. It is crazy for us to think we can develop countries around the world without increasing their ability to feed themselves ”   AKHIR Maret 2013, saya diundang Aliansi Jurnalis Indonesia, mendiskusikan soal: keadilan pangan ( food justice ). Saya sungguh beruntung dapat menemani kawan jurnalis mendiskusikan satu dari tiga hal penting bagi manusia: pangan, air, dan energi. Diskusi ini seperti pengingat akan tanda-bahaya ( alarm ) atas masa depan kita: ketersediaan pangan dan air yang tidak dapat dijangkau akan memantik kerusuhan di dunia. Bukankah dunia kita sekarang dirabuk, dipupuk, bahkan dikeringkan oleh represi, resesi, korupsi, sengketa, dan keabadian permusuhan kuno fundamentalisme. Jauh sebelum adanya politik roti dan sirkus Romawi, para penguasa takut akan ancaman massa-rakyat yang kelaparan. Seberapa pentingkah isu pangan itu. Perbincangan kejadian ( event ) lonjakan...

Waralaba

Daeng Nur, seorang pagadde-gadde*, ditanya: “sudah berapa lama kerja begini?” Daeng Nur: “30 tahun” Penanya: “anak ta sekarang kerja dimana?” Daeng Nur: “satu di Bosowa, satu di BRI, satu di Polda” Penanya: “hebat, berhasil ma’ itu” Daeng Nur: “alhamdulillah ….” Penanya: "di bagian apa kerja anak-anak ta itu, bu?" Daeng Nur: "sama ji saya, pagadde-gadde …" (* pagadde-gadde : penjual-warung skala kecil di Makassar) CERITA satir di atas saya kutip dari dinding- facebook seorang sohib. Dalam pembacaan saya, cerita ini memantik sejumlah pertanyaan penting. Cerita soal pagadde-gadde di atas menyingkapkan kita pada imajinasi, selama 30 tahun bahkan lebih, kekuatan politik pro-pasar (pertumbuhan-ekonomi) hanya mempermanenkan dua-tiga generasi paggadde-gadde secara berturut-turut. Para pembela pro-pasar umumnya menjustifikasi kebenaran argumentasi ke dalam nalar awam kita: jika tingkat pertumbuhan nol atau negatif, maka akan terjadi stagnasi, pengangguran, da...

Gagasan Anarkisme Terhadap Ilmu Komunikasi

“ Apa skripsi saudara benar-benar merupakan skripsi ilmu komunikasi? ” [1] SAYA pikir ini bukan pertanyaan bodoh. Sejauh apa yang saya bayangkan kemudian terhadap pertanyaan tersebut adalah: apakah komunikasi itu pengetahuan [2] ? Dalam tradisi pemikiran Yunani purba, pengetahuan (“pengetahuan” yang dimaksud ketika itu bukan berada di dalam pengertian ilmu pengetahuan seperti yang saat ini) [3]  berpautan dengan kepentingan yang berhubungan dengan cita-cita etis, hal-ikhwal kebajikan atau kebijaksanaan. Pengetahuan ( theorea ) diyakini mendorong atau tidak terpisahkan dengan tingkah-laku praktis ( praxis ) dalam kehidupan kongrit.

Sektor Informal

KORAN Tribun Timur (25/3/2010) mewartakan mengenai satu kabupaten di Sulawesi Selatan, satu industri. Berikut tulisan lama saya –saya sendiri sudah lupa jika tidak mampir di blog sohib saya yang memuat tulisan saya tersebut, yang mungkin dapat mempautkan soal industrialisasi dengan sektor informal. Senin lalu, para pedagang kaki lima di pintu II Universitas Hasanuddin (Unhas) akhirnya digusur dengan cara represif, dan menelan lima orang korban luka (Pedoman Rakyat, 31 Mei 2005). Peristiwa ini tentu paradoksal jika direlasikan dengan aikon universitas, yang semestinya ditafsir sebagai pilar pembebasan bagi kemiskinan, tirani, dan represi politik. Atau dalam tafsir orang awam dengan penuh rasa geram, bagaimana mungkin orang sekolahan dapat melukai rasa keadilan. Pertanyaan yang mucul mengapa orang sekolahan itu tidak dapat memoderasi masalah ini. Mengapa para ilmuwan Unhas membiarkan masalah pedagang kaki lima pintu II sampai mengkristal dan bereskalasi pada ujung konflik, mengingat ...

Narmada dan Bili-bili

DESA Narmada, di India dan Bili-bili, di Indonesia, dua tempat berjauhan dengan satu kisah yang sama: soal pengorbanan dan proyek bendungan. Arundhati Roy, perempuan pemikir kelahiran India dan seorang sarjana arsitektur, dalam ”The Cost of Living”, menggambarkan dua perkara tersebut dapat dipersinggungkan, dirajut, dan dipertalikan: mistisfikasi nasionalisme dan eskalasi bantuan dari Lembaga Keuangan Internasional. Di Indonesia, “The Cost of Living” sudah dialih-bahasakan dan diedarkan sekitar dua tahun lalu, dalam bentuk novel non-fiksi (berisi fakta dan perasaan Arundhati Roy).